BerandaEkonomiDari Keterbatasan Menuju Inspirasi: Perjuangan Sarwobiso Danang dengan Apem Khas Jatinom

Dari Keterbatasan Menuju Inspirasi: Perjuangan Sarwobiso Danang dengan Apem Khas Jatinom

KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Sarwobiso Danang memulai hari sebelum fajar menyingsing. Dengan gerobak dagang modifikasi dan semangat tanpa batas, ia menyiapkan adonan apem tradisional khas Jatinom di dapur sederhana miliknya. Perjuangannya bukan sekadar melawan keterbatasan fisik, tetapi juga membangun kehidupan yang layak bagi keluarganya (07/08/2025).

 

Sejak kecelakaan kerja menimpanya, Danang harus menerima kenyataan hidup yang baru. Pekerjaan proyek yang dulu menjadi tumpuan berubah menjadi mimpi buruk ketika ia terjatuh dari plafon. Kakinya patah dan berujung pada disabilitas permanen. Selama berbulan-bulan ia berjuang untuk sembuh, namun satu hal tak pernah pudar: tekad untuk tetap mandiri.

Berbekal pengalaman membuat kue sejak kecil, Danang mencoba peruntungan baru. Ia bereksperimen hingga larut malam, mengutak-atik campuran tepung beras, gula, dan ragi. Belajar dari pedagang sekitar, panduan daring, serta kegigihan tanpa lelah, akhirnya ia menemukan “resep rahasia” yang membuat apemnya berbeda: lebih lembut, harum, mengembang, dan memiliki sentuhan rasa buah yang menenangkan.

 

PSX 20250807 205413

Setiap hari, ia mengolah rata-rata 10 kilogram tepung beras menjadi lembaran apem hangat berbagai varian. Gerobak sederhananya menyusuri Koplakan Andong Karanganom, Pasar Jatinom, area Car Free Day Klaten, hingga depan SDN Ngepost dekat Kodim Klaten. Dari pagi hingga sore, suaranya memanggil warga untuk mencicipi sajian tradisional yang ia banggakan.

Omzet harian kotor Danang rata-rata mencapai Rp700 ribu. Bagi sebagian orang, angka ini mungkin kecil, tetapi baginya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, membeli bahan baku, membayar listrik, hingga menabung untuk pengobatan berkala dan pendidikan anak-anak.

Namun, perjalanan usaha Danang tak selalu mulus. Ada hari-hari ketika gerobaknya sepi pembeli. Tapi semangatnya tak pernah surut. Ia meyakini, setiap bulir tepung yang ia olah adalah langkah kecil menuju kemandirian dan keberlanjutan ekonomi keluarga.

Peluang emas datang saat tradisi Yaa Qowiyyu digelar. Bulan Sapar menjadi momentum budaya besar di Jatinom  penuh pawai, kirab, dan tarian rakyat. Ribuan peziarah dan wisatawan membanjiri jalanan dengan warna-warni sarung, rebana, dan syiar dakwah. Penjualan apem Danang pun melonjak dua kali lipat.

 

PSX 20250807 205319

Hasil penjualan saat itu memberi nafas baru bagi usahanya. Danang bersyukur tradisi masih lestari, sebab geliat budaya mampu mengangkat ekonomi lokal. Baginya, perayaan Yaa Qowiyyu bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga momentum kolektif memulihkan semesta sosial dan ekonomi masyarakat.

Di sela kesibukannya, Danang memiliki impian sederhana namun besar: membeli mobil Grand Max. Sebuah kendaraan yang cukup luas untuk mengangkut gerobak, bahan baku, dan hasil dagangan. Dengan kendaraan itu, ia bisa menjangkau desa tetangga, pasar malam Klaten, hingga event kuliner di kota.

Ia menetapkan target menabung minimal Rp50 ribu per hari. Jumlah yang kecil, tapi konsistensi adalah kunci. Setiap menimbang recehan tabungan, hatinya riang: satu langkah lebih dekat dengan mobil impian.

Perjuangan Danang menarik perhatian pegiat disabilitas. Nurbertus Trisno Nugroho, pemandu wisata sekaligus pembina komunitas disabilitas Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community, menilai Danang sebagai sosok inspiratif. Dalam program pendampingan, Nurbertus memperkenalkan apem Danang kepada wisatawan sebelum membawa mereka ke pawai budaya Jatinom.

Tak sekadar mempromosikan kue, Nurbertus juga membagikan kisah hidup Danang—jatuh bangun usahanya, pencarian resep, dan perjuangan yang tidak berhenti meski kaki pernah patah. Cerita ini memberi nilai edukasi budaya dan semangat keberagaman kepada para wisatawan.

Lebih jauh, Nurbertus berharap kisah ini jadi teladan bagi penyandang disabilitas lainnya.

“Apa yang dilakukan Danang membuktikan bahwa disabilitas bukan batasan untuk berkarya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam mengangkat cerita-cerita inspiratif agar tidak tenggelam di antara hiruk pikuk berita utama.

 

Media lokal mulai merespons. Liputan yang seimbang dan humanis mampu membuka mata publik, bahwa di balik kursi roda atau tongkat, tersimpan potensi, kreativitas, dan dedikasi. Artikel, feature, hingga tips usaha berbasis budaya kini mulai bermunculan, memperkuat suara pelaku UMKM dan pejuang disabilitas.

 

IMG 20250807 WA0064

Kini, Danang bukan sekadar penjual apem. Ia adalah duta budaya Jatinom, simbol perjuangan disabilitas, dan penggerak ekonomi mikro. Setiap apem yang terjual adalah helai harapan—ditenun dari kisah hidup, tekad, dan satu kaki yang kini menopang lebih dari sekadar tubuh, tetapi juga masa depan.

Saat senja tiba dan gerobaknya kembali ke rumah, Danang menatap langit jingga sambil menata panci dan kompor kecil. Ia tahu tantangan masih banyak: persaingan, harga bahan baku, hingga cuaca. Namun, ia tetap melangkah, menjaga apem tradisional Jatinom agar tetap hidup, dan mewujudkan impian kecil yang berarti besar.

Dari kisah Sarwobiso Danang, kita belajar: tekad, kreativitas, dan gotong royong dapat membentuk jalan baru. Perjuangan pribadi yang berpadu dengan pelestarian budaya memberi inspirasi  bagi warga, pelaku UMKM, hingga pejuang disabilitas di seluruh negeri. Semoga langkah Danang terus menyalakan api optimisme, dan memberi rasa bangga akan keberagaman budaya tanah air.

(Pitut Saputra)

Komentar Klik di Sini