KLATEN-METROPAGINEWS.COM ||
Menjelang akhir tahun, peta selera kuliner di beberapa kota mengalami pergeseran yang cukup nyata. Di momen libur Nataru, layar aplikasi pesan-antar menampilkan pola pesanan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di kota kecil seperti Delanggu Klaten, menu-menu Jepang seperti takoyaki, chikuro, chicken katsu, dorayaki dan berbagai varian dimsum mentai mendominasi daftar populer, sementara jajanan tradisional Sunda seperti seblak, cireng, dan sempol terlihat menurun frekuensinya. Pergeseran ini bukan sekadar fenomena estetika, ia tercermin dalam rutinitas para pengantar makanan, para driver ojol yang menjadi saksi langsung perubahan preferensi konsumen (28/12/2025).
Dari sudut pandang ojol, Dimas TB dari komunitas ojol gabungan Delanggu Free Rider, mengatakan “Perubahan ini mudah diukur. Kami melihat antrian yang bergeser, titik jemput yang berubah, dan pola rute yang menyesuaikan.” terangnya.

Pengalaman sehari-hari para driver ojol tersebut memberi gambaran konkret, Outlet resto dengan olahan menu ala Jepang yang dulu sepi kini mulai ramai antrian, dari stand stay story hingga stand takoyaki mr.no Delanggu bila jam makan siang dan sore pesanan selalu berulang, baik dari pelanggan baru, maupun dari pelanggan yang sama semakin sering, dan waktu puncak intensitas pemesanan bergeser ke jam makan sore dan akhir pekan. Bagi driver, data ini bukan sekadar cerita, itu adalah realitas ekonomi yang mempengaruhi pendapatan harian dan efisiensi kerja mereka.
Dimas juga mengatakan “Beberapa faktor mendorong pergeseran selera ke arah masakan Jepang. Pertama, pengaruh budaya populer Jepang, anime, drama, dan konten kuliner, membuat istilah dan tampilan makanan Jepang menjadi akrab dan diidamkan oleh generasi muda. Kedua, presentasi dan tekstur makanan Jepang yang variatif, dari kerenyahan takoyaki dan chikuro hingga kehangatan olahan dimsum mentai, memberi pengalaman sensorik berbeda dibandingkan jajanan gorengan lokal. Ketiga, strategi pemasaran digital, promo, paket hemat, dan kolaborasi dengan influencer membuat restoran Jepang lebih mudah ditemukan dan kini lebih menarik di platform pesan-antar karena banyak promo,” paparnya.
Opini Dimas tersebut menyoroti aspek praktis yang sering luput dari perhatian publik. Mereka mencatat bahwa makanan Jepang populer cenderung dikemas rapi dan dirancang agar tahan pengiriman, sehingga sampai ke konsumen dalam kondisi yang relatif baik. Driver menyebutkan bahwa restoran atau outlet resto yang memahami kebutuhan pengiriman, kemasan anti tumpah, pemisahan komponen agar tekstur tetap terjaga, dan instruksi pengantaran yang jelas, mendapat rating lebih baik dan pesanan berulang. Sebaliknya, jajanan tradisional yang dikemas seadanya rentan kehilangan kualitas saat dikirim, sehingga pelanggan lebih memilih opsi yang lebih “aman” untuk dinikmati di rumah.
Dampak pergeseran ini memang terasa nyata bagi para pelaku usaha tradisional. Pedagang kaki lima yang selama ini mengandalkan arus pejalan kaki dan kebiasaan lokal mendapati omzet di aplikasi menurun pada periode yang seharusnya ramai. Namun bukan berarti semua pelaku tradisional pasrah. Beberapa sudah terlihat mulai berinovasi, menambahkan varian rasa yang terinspirasi ala Jepang, memperbaiki kemasan agar tahan kirim, atau membuat paket keluarga yang kompetitif. Adaptasi semacam ini menunjukkan bahwa persaingan bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kemampuan bertransformasi ke ranah digital.
Selain itu, ada dimensi sosial budaya yang perlu diperhatikan. Pergeseran selera ini memunculkan kekhawatiran tentang erosi identitas kuliner lokal. Jika semua pelaku usaha mengejar tren tanpa mempertahankan keaslian, ragam kuliner yang menjadi bagian dari memori kolektif berisiko terpinggirkan. Namun, ada pula peluang kreatif, kolaborasi antara cita rasa lokal dan teknik Jepang dapat melahirkan produk baru yang tetap menghormati akar budaya sambil menarik pasar yang lebih luas. Contohnya, nasi goreng katsu, seblak dengan saus ala teriyaki atau cireng isi katsu yang memadukan tekstur dan rasa dari dua tradisi kuliner.
Suara Dimas seorang driver ojol tersebut juga mengingatkan kita bahwa tren kuliner bukan hanya soal selera, tetapi soal akses dan ekonomi. Driver adalah pengamat pasar yang bergerak, mereka tahu mana menu yang naik daun dan mana yang kehilangan pamor. Pendapat mereka sering kali lebih jujur dan praktis dibandingkan survei formal karena didasarkan pada pengalaman langsung. Mendengarkan pengalaman ojol memberi sinyal penting bagi pelaku usaha, adaptasi harus pragmatis, cepat, dan berorientasi pada pengalaman pelanggan.
Bagi konsumen, pergeseran ini berarti lebih banyak pilihan dan variasi rasa saat merayakan libur akhir tahun. Bagi pelaku usaha, ini adalah ujian kemampuan berinovasi dan beradaptasi. Bagi ojol, ini adalah realitas kerja yang menuntut fleksibilitas rute, manajemen waktu, dan keterampilan menjaga kualitas pengantaran. Semua pihak terlibat dalam rantai nilai yang sama, menciptakan pengalaman kuliner yang memuaskan di era digital.
Akhirnya, indikator tren ini mengingatkan bahwa selera publik bersifat dinamis dan dipengaruhi banyak faktor, budaya populer, pemasaran, teknologi, dan logistik. Kunci keberlanjutan kuliner lokal adalah kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Jika pedagang tradisional dapat memadukan keaslian rasa dengan strategi digital yang tepat, mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berpeluang memperluas pasar. Sementara itu, suara ojol akan terus menjadi barometer paling nyata tentang bagaimana preferensi masyarakat bergerak, karena mereka yang mengantarkan makanan adalah saksi paling dekat dari perubahan selera yang terjadi di meja makan kita.
( Pitut Saputra )

