KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Arifa, siswa berprestasi SMK Kristen Klaten, tempuh 3 km jalan kaki ke sekolah demi raih mimpi. Kisah inspiratif perjuangan di tengah kemiskinan.Selasa ( 27/1/2026)
Di tengah hiruk pikuk Kota Klaten, tersembunyi sebuah kisah inspiratif tentang seorang siswi berprestasi yang tak pernah menyerah pada keadaan. Arifa, namanya, adalah siswa teladan di SMK Kristen Klaten kelas XI yang selalu berhasil meraih juara kelas dan menggenggam beasiswa, bukti kecerdasannya yang bersinar. Namun, di balik prestasinya yang gemilang, tersimpan perjuangan berat yang harus ia lalui bersama kedua adiknya.

Setiap pagi, Arifa dan kedua adiknya harus menempuh perjalanan kaki sejauh 3 kilometer menuju sekolah. Arifa bersekolah di SMK Kristen Klaten jarak dari tempat tinggal ke sekolah membutuhkan waktu 45 menit, sementara adiknya yang duduk di bangku SMP bersekolah di SMP Negeri 6 Klaten. Jarak yang jauh dan terik matahari tak pernah memadamkan semangat mereka untuk menuntut ilmu. Kendala ekonomi yang membelit keluarga memaksa mereka untuk mengesampingkan impian memiliki kendaraan.
Arifa mengatakan ia mendapatkan bantuan KIP ( Kartu Indonesia Pintar ) tahun ini namun belum cair.
Sebelumnya, keluarga Arifa sempat tinggal di Rusunawa Klaten. Namun, himpitan ekonomi memaksa mereka angkat kaki dari sana karena tunggakan sewa yang mencapai 5 juta rupiah. Ayah Arifa, Hendro, harus menjalani operasi karena sakit yang dideritanya, menambah beban finansial keluarga.

Kini, mereka tinggal di sebuah tempat sederhana di kawasan Pasar Pit (sepeda) Bareng Lor, Klaten. Sebuah gubuk berdinding papan berukuran 3×3 meter menjadi tempat berlindung bagi enam orang anggota keluarga. Di sanalah mereka berbagi mimpi dan harapan di tengah keterbatasan ruang dan materi. Untuk memasak, mereka masih menggunakan tungku kayu bakar, menambah tantangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hendro, sang ayah, kini bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan penyedia layanan internet, My Republik. Sementara sang ibu, dengan cekatan mencari nafkah di sebuah rumah industri sosis, demi menyambung hidup keluarga.
Kisah Arifa dan keluarganya mengetuk hati banyak orang. Namun, Dinas Sosial Kabupaten Klaten belum dapat memberikan bantuan secara langsung karena terbentur aturan dan mekanisme pertanggungjawaban anggaran.
“Kewenangan Dinas Sosial terbatas pada pemberian bantuan bagi mereka yang belum terdaftar dalam Basis Data Terpadu (BDT), belum memiliki BPJS, atau membutuhkan alat bantu disabilitas. Itupun harus melalui proses pengusulan,” ujar Kepala Dinas Sosial Kabupaten Klaten, Puspo Enggar Hastuti, SE.
Puspo menambahkan, jika anggaran Dinas Sosial tidak memungkinkan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dengan ketentuan penerima bantuan harus beragama Islam.
Eva, salah seorang penghuni Rusunawa Klaten yang menjadi tetangga Arifa, mengaku sangat miris melihat kondisi keluarga Hendro. Terkadang, untuk makan sehari-hari, mereka hanya mampu memasak nasi setengah kilo. Dengan tulus, Eva kerap memberikan jajanan kepada anak-anak Hendro.
“Meski keadaan mereka seperti itu, adab dan etika semua anak-anaknya bagus. Mereka tidak menolak jika ada yang memberikan sepeda bekas sekalipun untuk bersekolah,” ungkap Eva dengan nada haru.
Di tengah keterbatasan yang mendera, keluarga Arifa tetap menyimpan harapan besar kepada pemerintah. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan bantuan yang berkelanjutan, terutama dalam hal pendidikan bagi Arifa dan adik-adiknya, serta membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Kisah Arifa adalah potret perjuangan seorang pelajar berprestasi yang tak pernah menyerah pada keadaan. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap gigih mengejar mimpi. Kisahnya adalah inspirasi bagi kita semua untuk selalu bersyukur dan tidak pernah berhenti berjuang, seberat apapun rintangan yang menghadang. Semoga akan ada uluran tangan yang dapat membantu Arifa dan keluarganya meraih kehidupan yang lebih baik.
( Desi )


Komentar Klik di Sini