BerandaDaerahAnak Muda TTU Tanam 100 Bambu di Bukit Pakfatu, Tawarkan Solusi Hemat...

Anak Muda TTU Tanam 100 Bambu di Bukit Pakfatu, Tawarkan Solusi Hemat Krisis Air Tanpa Bendunga

KEFAMENANU – METROPAGINEWS.COM || Jaringan kolektif anak muda Muda Bersuara berkolaborasi dengan Lowewini, Tamolog, Mapala dari UCB dan Universitas Muhammadiyah Kupang, serta didukung penuh oleh WeSpeakup.org, melaksanakan kegiatan penanaman 100 bibit bambu di Bukit Pakfatu, SP2 Dusun VII, Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Jumat (30/1).

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye konservasi sumber mata air di TTU dengan tajuk: “Pak Bupati Lebih Hemat Tanam Bambu daripada Bangun Bendungan.”

Penanaman dilakukan di area sekitar Mata Air Pakfatu yang selama lebih dari satu dekade menghidupi lebih dari 300 kepala keluarga di kawasan transmigrasi SP2.

Selain penanaman 100 bibit di lokasi, sebanyak 50 bibit bambu juga dibagikan kepada masyarakat untuk diadopsi dan dirawat secara mandiri.

Menurut perwakilan Muda Bersuara, Godel Maulaku, kampanye ini bertujuan menghadirkan solusi jangka panjang terhadap krisis air di Pulau Timor, khususnya Kabupaten TTU.

“Kegiatan kampanye ini bertujuan untuk memberikan solusi jangka panjang dalam upaya konservasi air di Pulau Timor dan Kabupaten TTU khususnya,” ujar Godel.

Bambu dipilih karena memiliki kemampuan konservasi air yang sangat tinggi. Tanaman ini mampu meningkatkan permukaan air tanah hingga 10 meter, menyerap air hujan dalam jumlah besar, serta menyimpannya di dalam tanah.

Akar serabut bambu yang rapat mampu mencegah erosi, meningkatkan daya resap air, dan menjaga mata air tetap aktif terutama di musim kemarau. Satu rumpun bambu diperkirakan mampu menyimpan hingga 5.000 liter air.

Krisis air di kawasan ini mulai dirasakan sejak masuknya aktivitas tambang mangan di wilayah Desa Ponu sekitar tahun 2010.

Pembukaan jalan dan pembabatan hutan di sisi utara dan timur bukit menyebabkan dua sumber mata air utama—Mata Air Pakfatu dan Mata Ninmaro—mulai mengering.

Sejak 2014, warga setempat terpaksa membeli air tangki untuk kebutuhan sehari-hari.

“Selama 12 tahun ini sejak 2014 kami bertahan dengan beli air tangki yang harganya sekitar 150 ribu per tangki. Jadi kami sangat berharap semoga mata air ini bisa kembali seperti dulu,” ujar Fulgenias Naes, Kepala Dusun VII.

Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten TTU, Winda Siku, yang menyatakan dukungannya terhadap inisiatif anak muda tersebut.

“Kami dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten TTU sangat senang dan menyambut baik inisiatif anak-anak muda ini, terutama ketika mendengar cerita perjalanan mereka dari Kupang mengambil bibit bambu di Malaka untuk ditanam di Kefa,” ungkap Winda.

Muda Bersuara berharap kampanye ini dapat diadopsi sebagai bagian dari kebijakan pemerintah daerah dalam penanganan krisis air yang lebih hemat, berkelanjutan, dan berbasis solusi alam.*

Alberto

Komentar Klik di Sini