KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Malam ini, udara Delanggu terasa hangat meski acara yang digelar sederhana. Perayaan Anniversary 7 tahun kebersamaan Delanggu Free Rider (DFR) kali ini bukan tentang gemerlap atau kemewahan, melainkan tentang kebersamaan yang telah terjalin selama tujuh tahun di atas aspal jalanan. Dari silaturahmi dengan relawan bersih sungai, hingga pembagian olahan hasil tangkapan mancing untuk petugas penyeberangan, rangkaian kegiatan menegaskan kembali nilai solidaritas yang menjadi nadi komunitas ini (18/10/2026).
Kegiatan dimulai sejak Sabtu malam sebelumnya dengan acara mancing bersama yang melibatkan anggota Delanggu Free Rider dan para relawan bersih sungai di Dam Kali Pleret Delanggu, Klaten. Kegiatan itu bukan sekadar mencari ikan, ia menjadi momen berbagi, bekerja sama, dan saling mengenal antar wajah yang selama ini hanya bertemu di jalan. Hasil tangkapan yang diperoleh malam itu kemudian dibagikan siang harinya kepada para petugas penyeberangan jalan, sebuah tindakan kecil yang menyiratkan rasa terima kasih dan perhatian kepada mereka yang menjaga keselamatan pengguna jalan setiap hari.

Puncak perayaan Anniversary Delanggu Free Rider berlangsung di Basecamp Pasar Baru Delanggu, di mana puluhan ojek online dari berbagai platform berkumpul untuk makan bersama dan silaturahmi. Menu sederhana namun istimewa menjadi pembuka, yakni rica-rica entok, sambal bawang, dan es teh. Hidangan itu bukan sekadar santapan, ia menjadi pengikat cerita, mengundang tawa, kenangan, dan percakapan yang mengalir hangat. Entok yang dibeli siang hari telah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi simbol keramahan tuan rumah sederhana, tetapi penuh rasa.
Suasana makan bersama dipenuhi oleh antusiasme. Para anggota saling bertukar pengalaman, cerita perjalanan, dan tantangan yang mereka hadapi di jalan. Ada senyum simpul yang muncul berkali-kali, ada tepuk tangan kecil ketika seseorang membagikan kisah lucu, dan ada hening singkat saat kenangan lama kembali teringat. Momen-momen seperti ini mengingatkan bahwa di balik helm dan jaket, ada persaudaraan yang kuat, sebuah jaringan dukungan yang lahir dari rutinitas dan kebersamaan.

Di sela-sela acara, Ketua Panitia, Marjoko, menyampaikan sambutan yang menyentuh. Ia menegaskan bahwa kesederhanaan acara tidak mengurangi esensi kebersamaan yang dirayakan. “Meski sederhana namun tidak mengurangi esensi dari kebersamaan kita semua, acara ini bisa berlangsung lancar dan khidmat, itu sudah sebuah berkah. Kehadiran rekan-rekan menambah dimensi kebersamaan yang kental di antara kita,” ujarnya. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa nilai-nilai solidaritas dan rasa syukur lebih penting daripada kemegahan acara.
Selain sambutan santai, ada pula momen-momen spontan yang membuat suasana semakin hangat. Beberapa anggota berbagi tips keselamatan berkendara, ada yang menawarkan bantuan teknis untuk rekan yang mengalami masalah motor, dan ada pula yang mengajak untuk merencanakan kegiatan sosial berikutnya. Semangat gotong royong yang muncul bukan sekadar retorika, ia terlihat nyata dalam tindakan kecil yang ditawarkan satu sama lain.
Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan dengan mitra rekanan. Kehadiran para sahabat di BC Pasar Baru Delanggu menunjukkan bahwa hubungan antara komunitas ojol dan warga lokal saling menguatkan. Kolaborasi semacam ini membuka peluang untuk kegiatan bersama di masa depan, mulai dari program keselamatan, bakti sosial, hingga kegiatan promosi yang saling menguntungkan.
Malam semakin larut ketika acara ditutup secara informal. Amin Raharjo, salah satu anggota yang dikenal aktif, menutup pertemuan dengan ungkapan syukur dan harapan agar kebersamaan ini terus terjaga. Penutupan itu sederhana namun penuh makna, sebuah doa singkat bersama, tepuk tangan hangat, dan janji untuk tetap saling mendukung. Ketika para peserta mulai beranjak pulang, yang tersisa bukan hanya perut kenyang, tetapi juga rasa hangat di dada, kenangan tentang tujuh tahun perjalanan bersama yang tak mudah dilupakan.
Anniversary 7 tahun kebersamaan DFR kali ini mengajarkan satu hal penting, kebersamaan tidak harus dirayakan dengan kemewahan untuk menjadi bermakna. Dari kegiatan mancing bersama hingga pembagian hasil tangkapan, dari hidangan entok yang sederhana hingga sambutan yang tulus, semuanya menegaskan bahwa persaudaraan dan solidaritas adalah inti dari komunitas ini. Esok hari mungkin hanya akan menyisakan cerita di benak, namun cerita itu akan terus hidup dalam setiap tawa, setiap bantuan kecil, dan setiap perjalanan yang masih menunggu di jalanan Delanggu.
( Pitut Saputra )


