BANYUMAS – METROPAGINEWS.COM II Ratusan warga Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, bersama sejumlah komunitas lingkungan menggelar Aksi Camping Rakyat di lereng Gunung Slamet pada Jumat 3 – 4 Januari 2026. Aksi ini menjadi bentuk perlawanan damai sekaligus tuntutan tegas kepada pemerintah agar aktivitas pertambangan di kawasan tersebut ditutup secara permanen.Sabtu (4/1/2026).
Kegiatan berlangsung di kawasan hutan dan perbukitan Desa Baseh yang selama ini disebut terdampak langsung oleh aktivitas tambang. Warga menilai pertambangan telah menyebabkan kerusakan bukit, mengancam sumber mata air, serta meningkatkan risiko bencana ekologis seperti longsor dan banjir.

Perwakilan warga Baseh menyampaikan bahwa aksi camping ini bukan sekadar kegiatan simbolik, melainkan pernyataan sikap kolektif masyarakat yang terdampak langsung.
“Kami tidak sedang berkemah untuk bersenang-senang. Ini adalah pernyataan sikap rakyat Baseh. Kami menuntut agar tambang ditutup secara permanen karena telah merusak alam dan mengancam kehidupan warga,” tegas Budi Siswanto, Ketua MURBA.
Selain menuntut penutupan tambang, massa aksi juga menyerukan penanaman 10.000 pohon sebagai langkah nyata pemulihan ekosistem Gunung Slamet. Warga dan aktivis menilai rehabilitasi hutan tidak akan efektif selama eksploitasi alam masih berlangsung.
“Jika tambang terus berjalan, bencana hanya tinggal menunggu waktu. Penanaman pohon adalah bentuk tanggung jawab kami untuk menjaga Gunung Slamet bagi generasi mendatang,” ujar Diki Chandra, Ketua Jaga Rimba.
Aksi Camping Rakyat Baseh diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dan komunitas lingkungan, di antaranya MURBA, GARANGGATI, Jaga Rimba, Save Slamet, Gagak Hitam, serta warga dari wilayah Banyumas dan sekitarnya. Selama kegiatan, peserta bermalam di tenda-tenda, menggelar diskusi lingkungan, doa bersama, serta pembacaan pernyataan sikap.
Sejumlah poster dan spanduk penolakan tambang dengan simbol jejak tangan merah mewarnai aksi sebagai penanda bahaya kerusakan lingkungan dan bentuk perlawanan warga.
“Gunung Slamet adalah paru-paru dan sumber kehidupan masyarakat. Kawasan ini bukan ruang eksploitasi. Jika rusak, rakyat yang pertama merasakan dampaknya,” kata Budi Tartanto, Ketua Save Slamet.
Hal senada disampaikan Ardiyanto dari Tim Seven serta Sigit NP, Ketua Gagak Hitam, yang menegaskan bahwa perjuangan ini akan terus dikawal hingga ada keputusan nyata dari pemerintah.
Aksi ini juga mendapat dukungan penuh dari tokoh-tokoh masyarakat Desa Baseh, yang menyatakan komitmen untuk menjaga ruang hidup, keselamatan warga, dan keberlanjutan lingkungan di lereng Gunung Slamet.
Melalui Aksi Camping Rakyat Baseh, massa mendesak pemerintah dan pihak terkait agar segera mengambil langkah tegas menghentikan aktivitas pertambangan demi keselamatan lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat.
( MISTAM )


Komentar Klik di Sini