KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Bumdes Mahesa Karya di Kalikebo, Trucuk, Klaten mencatat lonjakan kunjungan wisatawan yang signifikan pada momentum Lebaran tahun ini. Area wisata yang dikelola oleh badan usaha milik desa (Bumdes) Kalikebo itu dipenuhi pengunjung beberapa hari ini selama libur pasca lebaran, sejak pagi hingga sore, pengunjung lokal maupun luar kota berdatangan dengan kendaraan yang memadati akses jalan menuju lokasi (25/03/2026).
Suasana Lebaran terasa hangat dan meriah karena banyak keluarga memanfaatkan libur untuk berkumpul dan bersantai di lingkungan yang asri. Joglo-joglo kecil yang tersebar menjadi tempat favorit untuk beristirahat, berfoto, dan menikmati hidangan ringan. Desain tradisional joglo memberi nuansa kultural yang kuat sehingga pengunjung tidak hanya datang untuk rekreasi tetapi juga merasakan atmosfer lokal.

Pemandangan hamparan sawah yang mengelilingi area wisata menambah daya tarik tersendiri. Petak-petak sawah hijau yang bergelombang mengikuti kontur tanah menciptakan panorama menenangkan yang disukai pengunjung dari berbagai usia. Banyak keluarga memilih duduk di tepi joglo sambil menikmati pemandangan sawah, mengambil foto, menggelar senam massal ibu-ibu atau sekadar menikmati angin sepoi yang membawa aroma padi. View sawah ini sering menjadi latar foto keluarga dan konten media sosial, sekaligus mengingatkan pengunjung pada ritme kehidupan desa yang sederhana namun kaya makna.
Selain menikmati pemandangan, aktivitas memancing di kolam-kolam yang disediakan menjadi favorit tersendiri, terutama bagi pengunjung dewasa dan remaja. Kolam pemancingan dikelola rapi dengan metode arisan rutin pada hari tertentu, ini menjadi tempat favorit bagi penghobi memancing. Kegiatan memancing yang menawarkan pengalaman santai cocok untuk melepas penat setelah rangkaian silaturahmi Lebaran. Beberapa pengunjung seringkali membawa hasil tangkapan untuk dimasak di kantin selepas arisan mancing, atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh, menambah sensasi rekreasi yang bersifat praktis dan menguntungkan.
Kantin di area wisata menjadi pusat aktivitas kuliner. Menu-menu tradisional dan jajanan lokal laris manis, sementara beberapa stan makanan modern juga hadir untuk memenuhi selera generasi muda. Kehadiran pedagang lokal memberi nilai tambah ekonomi bagi warga desa, banyak produk olahan rumahan, soto, minuman khas, dan camilan tradisional yang cepat habis terjual. Pengelola Bumdes bekerja sama dengan pelaku usaha mikro setempat untuk menata area kantin agar tetap rapi, higienis, dan mudah diakses, sehingga pengalaman kuliner pengunjung menjadi bagian penting dari kunjungan mereka.
Ali Rosidin akrab disapa Ali salah seorang pengelola kantin Bumdes sekaligus koki kantin, menegaskan bahwa lonjakan pengunjung terasa nyata terutama saat momen Lebaran dan ketika ada event memancing. Menurut Rosidin, permintaan makanan meningkat tajam sehingga kantin harus menyiapkan stok bahan lebih banyak dan menambah tenaga kerja sementara. “Saat Lebaran dan event memancing, pengunjung datang berombongan, kami harus cepat menyiapkan menu favorit keluarga seperti nasi soto, ayam goreng, dan aneka gorengan. Selain itu, permintaan minuman segar dan makanan ringan untuk anak-anak juga melonjak,” ujar Ali. Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan pemasok lokal dan penataan dapur yang efisien menjadi kunci agar pelayanan tetap lancar meski pengunjung membludak.
Ali Rosidin juga menyoroti peran event memancing dalam menarik pengunjung baru. “Event memancing tidak hanya mengundang pemancing lokal, tetapi juga keluarga yang ingin menikmati suasana sambil menunggu hasil tangkapan. Kami menyiapkan paket makanan praktis untuk para pemancing dan menyediakan fasilitas sederhana untuk memasak hasil tangkapan jika diminta,” jelasnya. Pendekatan ini membantu meningkatkan lama tinggal pengunjung di lokasi dan mendorong konsumsi di kantin, sehingga manfaat ekonomi lebih terasa bagi warga.
Lonjakan pengunjung membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat. Pendapatan dari penjualan makanan, dan kebutuhan ikan pancingan serta jasa parkir meningkat dibanding hari biasa. Banyak warga membuka usaha musiman seperti, jasa foto, dan penjualan mainan anak, sehingga perputaran ekonomi terasa nyata. Bumdes memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat program pemberdayaan ekonomi lokal, termasuk pelatihan singkat bagi pedagang tentang kebersihan pangan dan pelayanan pelanggan.
Namun, tantangan pengelolaan juga muncul. Pengaturan arus pengunjung, kebersihan, dan fasilitas sanitasi menjadi prioritas. Untuk itu, pengelola menambah petugas kebersihan, menata jalur masuk dan keluar, serta menempatkan titik-titik sampah yang mudah dijangkau. Keamanan ditingkatkan dengan kerja sama aparat desa dan relawan untuk mengatur parkir dan mengawasi area pemandian. Upaya-upaya ini mendapat apresiasi dari pengunjung yang merasakan kenyamanan meski lokasi ramai.
Melihat antusiasme pengunjung tahun ini, Bumdes Mahesa Karya juga sedang merencanakan penambahan fasilitas seperti area teduh, perbaikan akses jalan kecil, dan peningkatan fasilitas sanitasi. Rencana jangka panjang mencakup wahana edukasi pertanian dan sentra kerajinan lokal yang memanfaatkan panorama sawah sebagai bagian dari pengalaman edukatif. Dengan perbaikan berkelanjutan dan keterlibatan warga, Mahesa Karya berpotensi menjadi destinasi unggulan di Klaten yang tetap mempertahankan kearifan lokal dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
( Pitut Saputra )

