KEFAMENANU – METROPAGINEWS.COM || Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menggelar kegiatan peluncuran dan diskusi buku “Eksotika Geowisata Kabupaten Sejuta Lopo: Dari Mitologi ke Geologi”, karya Dr. Herry Zadrak Kotta, ST., MT, yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Timor Tengah Utara.
Buku tersebut mengulas kekayaan geowisata Kabupaten TTU dengan pendekatan multidisipliner, menggabungkan narasi mitologi lokal, sejarah, budaya, hingga kajian geologi sebagai fondasi pengembangan pariwisata daerah yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pimpinan daerah, akademisi, tokoh adat, serta pemerhati pariwisata dan kebudayaan. Diskusi berlangsung dinamis, membahas peluang dan tantangan pengelolaan potensi wisata alam dan budaya di Kabupaten Sejuta Lopo.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Timor Tengah Utara, Kamilus Elu, SH, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dr. Herry Zadrak Kotta atas kontribusi pemikiran dan dedikasinya dalam mendokumentasikan potensi geowisata TTU melalui karya tulis ilmiah-populer.
“Buku ini sangat penting bagi daerah, bukan hanya sebagai dokumentasi potensi wisata, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan perencanaan masa depan pembangunan pariwisata TTU,” ungkap Wakil Bupati.
Ia menegaskan bahwa Kabupaten Timor Tengah Utara memiliki kekayaan wisata alam yang melimpah, mulai dari bentang alam, situs geologi, rumah adat, hingga nilai-nilai budaya dan sejarah. Namun, potensi tersebut selama ini belum dikelola secara optimal akibat keterbatasan sumber daya, pengelolaan, dan perencanaan yang terarah.
Wakil Bupati menekankan bahwa pariwisata harus dipandang sebagai sebuah bisnis, yang memerlukan manajemen profesional agar mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar.
“Alam sudah menyediakan keindahan dan daya tarik eksotis. Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola, mengemas, dan mengoptimalkan potensi itu agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, kehadiran buku ini dapat menjadi referensi strategis bagi pemerintah daerah dan DPRD dalam menyusun kebijakan serta regulasi pariwisata ke depan.
Regulasi tersebut diharapkan mampu mengatur pengelolaan destinasi wisata, pembentukan unit pengelola, hingga pelibatan masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Ia juga menyoroti berbagai persoalan klasik di lapangan, seperti minimnya fasilitas pendukung wisata, mulai dari keamanan, kebersihan, ketersediaan air, hingga pengelolaan lokasi wisata yang belum terintegrasi.
“Banyak lokasi wisata hanya menjadi tempat singgah dan foto, tetapi tidak memberi dampak ekonomi karena tidak dikelola dengan baik,” ujarnya.
Selain aspek pariwisata, diskusi juga menyinggung pentingnya pelestarian nilai budaya dan sejarah lokal, termasuk rumah adat, situs-situs bersejarah, serta narasi leluhur yang selama ini belum terdokumentasi secara utuh. Hal ini dinilai penting agar pengembangan pariwisata tidak menghilangkan identitas dan jati diri masyarakat TTU.
Dalam kegiatan tersebut, Pater Petrus Salu, SVD, menyampaikan sambutan reflektif yang menilai buku ini sebagai karya yang menyentuh kebutuhan paling mendasar manusia, khususnya masyarakat TTU, dalam memahami relasi antara manusia, alam, dan makna kehidupan.
Menurut Pater Petrus Salu, presentasi peluncuran buku yang disampaikan langsung oleh penulis sangat bernas dan menggugah, karena membuka ruang dialog antara warisan kearifan lokal dan sains modern. Ia mencatat tujuh benang merah gagasan utama buku tersebut.
Pertama, di tanah Timor Tengah Utara, mitologi dan geologi saling menyapa: mitologi berbicara tentang asal-usul makna, sementara geologi menjelaskan asal-usul bumi dan lingkungan.
Kedua, batu-batu yang hari ini dijelaskan oleh geologi sesungguhnya telah lama “dihidupi” oleh mitologi. Keduanya menyimpan ingatan panjang tentang hubungan manusia dan alam dalam sejarah kehidupan masyarakat TTU.
Ketiga, mitologi dipahami sebagai kearifan lokal—cara leluhur menjelaskan fenomena alam yang dahsyat sebelum hadirnya ilmu pengetahuan modern.
Keempat, geowisata dipandang sebagai peralihan cara membaca alam, dari kisah-kisah sakral yang diwariskan secara turun-temurun menuju pengetahuan ilmiah yang ditafsirkan secara sistematis.
Kelima, eksotika sejati lahir ketika mitos leluhur Timor dan struktur geologi bertemu dalam kesadaran manusia TTU.
Keenam, di Kabupaten Sejuta Lopo, batu bukan sekadar benda alam, melainkan narasi waktu yang dituturkan oleh mitologi dan dijelaskan oleh geologi.
Ketujuh, buku ini menandai transformasi nilai, di mana potensi geologi yang selama ini dilihat sebatas pertambangan dan konstruksi, digeser menjadi geowisata berkelanjutan yang ramah lingkungan dan melibatkan masyarakat lokal.
Pater Petrus Salu menilai buku karya Dr. Herry Zadrak Kotta sebagai karya strategis dan langka. Pasalnya, sangat jarang akademisi berlatar belakang teknik mampu menyelami dan mengolah dimensi mitologi secara serius dalam satu kerangka pembangunan.
“Buku ini melakukan dekonstruksi cara kita melihat alam. Ia memanusiakan sains,” ujarnya.
Menurutnya, bagi para pejabat dan pengambil kebijakan di TTU, buku ini dapat berfungsi sebagai blueprint pembangunan narasi wisata. Tanpa narasi yang kuat, potensi alam—sehebat apa pun—hanya akan menjadi benda mati tanpa makna.
Lebih jauh, buku ini dinilai berhasil menjembatani “kekayaan diam” berupa batu, gunung, dan lanskap alam menjadi “kekayaan ekonomi kreatif”, tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat TTU. Inilah esensi geowisata yang sesungguhnya.
Dalam forum diskusi, Pater Petrus Salu, SVD juga mengajukan empat pertanyaan reflektif dan kritis kepada penulis dan Pemerintah Kabupaten TTU.
Pertama, secara epistemologis-kultural, ia mempertanyakan apakah peralihan dari mitologi ke geologi merupakan pendalaman makna tentang alam, atau justru mereduksi cara masyarakat lokal TTU membangun relasi dengan alamnya.
Kedua, secara etis dan ontologis, ia menyoroti apakah ketika alam dibingkai sebagai eksotika geowisata, bumi tetap dipahami sebagai subjek bermakna dalam kosmologi lokal Timor, atau berubah menjadi objek ekonomi yang terlepas dari nilai sakralnya.
Ketiga, terkait integrasi kurikulum dan literasi, ia menanyakan bagaimana narasi “dari mitologi ke geologi” dapat masuk ke kurikulum pendidikan lokal atau menjadi panduan bagi pemandu wisata, agar masyarakat setempat menjadi narator utama di tanah mereka sendiri.
Keempat, mengenai sinkronisasi infrastruktur dan narasi budaya, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan aksesibilitas dengan perlindungan situs geologi yang memiliki nilai mitologi sakral agar keasliannya tidak rusak oleh kepentingan komersial.
Selain apresiasi, Pater Petrus juga menyampaikan catatan kritis terhadap penggunaan istilah “Lopo” dalam judul buku. Ia menilai bahwa budaya Lopo lebih dominan di wilayah Insana, sebagian Biboki, dan Noemuti, sementara sebagian besar wilayah lain di TTU memiliki tradisi dan filosofi budaya yang berbeda.
Menurutnya, prinsip pars pro toto belum sepenuhnya tepat digunakan dalam judul buku, mengingat eksotika geowisata TTU tidak hanya berada di satu wilayah budaya tertentu, melainkan tersebar secara holistik di seluruh wilayah kabupaten.
Pater Petrus berharap, peluncuran buku ini menjadi titik awal dialog berkelanjutan antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam merumuskan arah pembangunan geowisata TTU yang berkelanjutan, berkeadilan budaya, dan berakar kuat pada kearifan lokal.
Sementara itu, Dr. Herry Zadrak Kotta dalam wawancara menegaskan bahwa masa depan Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Timor Tengah Utara, memiliki peluang besar jika dikembangkan melalui dua sektor utama, yakni pariwisata serta pertanian dan peternakan.
“Kalau kita bicara masa depan NTT, sebenarnya ada dua pintu masuk utama, yaitu wisata dan pertanian-peternakan. Pariwisata itu bisa menjadi pengungkit semua sektor. Ketika banyak orang datang, mereka membutuhkan pangan, ternak, dan hasil pertanian,” jelasnya.
Ia mencontohkan kondisi di Manggarai Barat, di mana perkembangan pariwisata yang pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sektor pertanian dan peternakan lokal.
“Kita lihat di Manggarai Barat, pariwisatanya maju, tetapi pertanian dan peternakannya kewalahan. Akibatnya, banyak kebutuhan pangan justru didatangkan dari luar daerah. Ini harus menjadi pelajaran bagi TTU dan wilayah lain di NTT,” tegasnya.
Menurut Dr. Herry, pengembangan pariwisata, khususnya geowisata, harus dilakukan secara terintegrasi agar mampu mendorong masyarakat untuk berproduksi secara mandiri.
“Ketika ada satu objek wisata unggulan yang menarik, dengan sendirinya masyarakat akan terpacu untuk menanam, beternak ayam, sapi, dan ternak lainnya. Karena di situ ada sumber penghasilan yang nyata,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa geowisata memiliki keunggulan karena tidak semata-mata mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga mengedepankan aspek konservasi dan edukasi.
“Geowisata itu berbicara tentang tiga hal sekaligus: konservasi, edukasi, dan ekonomi. Ada nilai ekonominya, tetapi juga menjaga lingkungan dan memberikan pembelajaran kepada masyarakat dan wisatawan. Inilah yang membuat geowisata menjadi sangat menarik,” katanya.
Lebih lanjut, Dr. Herry mengungkapkan bahwa peluncuran buku ini juga berkaitan dengan rencana pengembangan pendidikan geologi di NTT, termasuk wacana pembukaan program studi geologi yang membutuhkan kampus lapangan.
“Untuk kampus lapangan geologi, kita memerlukan daerah dengan kompleksitas batuan yang lengkap. Timor Tengah Utara memiliki semuanya—batuan beku, batuan sedimen, struktur geologi, dan mineral. Ibarat nasi goreng istimewa, semua isinya ada di sini,” jelasnya.
Ia berharap buku Eksotika Geowisata Kabupaten Sejuta Lopo dapat menjadi pemicu kesadaran bersama bahwa TTU memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal, sekaligus menjadi rujukan dalam perencanaan pembangunan daerah yang berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
“Ini adalah langkah awal. Harapannya, ke depan geowisata TTU benar-benar menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya.*
(Alberto)


Komentar Klik di Sini