KLATEN-METROPAGINEWS.COM ||
Ngabuburit di sore hari selalu punya magnet tersendiri, dan war takjil menjadi salah satu ritual yang paling dinantikan. Di sepanjang trotoar dan lapangan, lampu-lampu kecil dan aroma manis dari kolak, es buah, dan gorengan menyatu menjadi simfoni yang mengundang senyum. Meski hujan turun sesekali, semangat para pemburu takjil tak pernah padam, mereka datang dengan payung, tawa, dan rasa ingin berbagi kebahagiaan menjelang berbuka. Momen ini bukan sekadar soal makanan, melainkan tentang kebersamaan, kreativitas pedagang, dan pelajaran sederhana tentang empati serta gotong royong (21/02/2026).
Seperti di Pasar Cokro Kembang Daleman Tulung, setiap sore area pertigaan menuju Cokro dan Janti tersebut dipenuhi pedagang, yang tumpah ruah di sepanjang jalan, mereka menata lapak dan gerobak sambil menawarkan aneka takjil, dari kolak hangat, kurma, hingga gorengan dan minuman segar, mengundang kerumunan pembeli dengan aroma menggoda, suara tawar-menawar, dan lampu-lampu sederhana yang menambah hangat suasana menjelang berbuka.

Takjil sendiri adalah hidangan ringan yang dikonsumsi untuk berbuka puasa, biasanya berupa makanan manis atau minuman yang mudah dicerna setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Takjil bisa berupa buah kurma, kolak, bubur, es buah, kue tradisional, atau minuman segar. Fungsi takjil bukan hanya mengisi perut, tetapi juga menandai transisi dari berpuasa menuju waktu berbuka yang penuh syukur. Dalam tradisi, takjil sering kali menjadi simbol keramahan, dibagikan kepada tetangga, sanak saudara, atau orang yang membutuhkan.
Di war takjil, kehidupan desa terasa lebih hangat. Pedagang kaki lima menata dagangan dengan rapi, lampu-lampu kecil dan etalase sederhana menjadi panggung bagi aneka rasa. Para pemburu takjil bergerak dari satu gerobak ke gerobak lain, mencari penganan idola, menawar, dan akhirnya memilih porsi yang akan dibawa pulang. Ada yang datang berdua, berkelompok, atau sendiri sambil menikmati suasana. Musik ringan atau obrolan santai menambah nuansa akrab.
Para pedagang memanfaatkan momen Ramadhan untuk berinovasi, menyajikan varian sehat seperti salad buah, minuman rendah gula, atau takjil berbahan lokal yang dipadukan dengan sentuhan modern. Inovasi ini bukan sekadar strategi jualan, tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk menawarkan pilihan yang lebih baik bagi konsumen yang peduli kesehatan.
War takjil menyimpan banyak pelajaran. Pertama, tentang ekonomi mikro, kegiatan ini membantu menambah penghasilan keluarga pedagang kecil, memberi ruang bagi usaha rumahan untuk berkembang. Kedua, tentang budaya berbagi, banyak yang membeli takjil untuk dibagikan kepada tetangga atau orang yang kurang mampu, menguatkan rasa solidaritas. Ketiga, tentang literasi pangan, pembeli semakin sadar akan komposisi makanan, memilih takjil yang lebih sehat dan higienis.
Selain itu, war takjil menjadi arena pendidikan informal bagi generasi muda. Mereka belajar berinteraksi, menawar dengan sopan, menghargai kerja keras pedagang, dan memahami nilai uang. Anak-anak yang ikut ngabuburit melihat langsung proses jual-beli, mencatat rasa, dan belajar menghargai tradisi. Semua itu membentuk karakter yang peduli dan bertanggung jawab.
Nur Azisah, 24 tahun, seorang mahasiswi, berbagi pengalamannya saat ditanyakan awak media, “Bagi saya, ngabuburit dan war takjil bukan hanya soal mencari makanan enak. Ini waktu untuk melepas penat setelah kuliah, bertemu teman, dan merasakan kebersamaan. Saya suka ketika pedagang menawarkan pilihan sehat, itu membuat saya merasa lebih diperhatikan. Kadang saya beli lebih banyak untuk dibagikan ke tetangga dan lansia. Melihat senyum mereka saat menerima takjil, rasanya puas sekali.” pernyataan Nur menegaskan bahwa war takjil mampu menyatukan kepedulian personal dengan tradisi sosial.
War takjil saat ngabuburit adalah potret kecil dari kebaikan yang berulang setiap sore di bulan Ramadhan. Di balik tumpukan kue dan gelas es, ada cerita-cerita tentang kerja keras, kreativitas, dan kemurahan hati. Ketika kita membeli takjil, kita tidak hanya menukar uang dengan makanan, kita turut menjaga mata pencaharian, menyebarkan kebahagiaan, dan meneruskan tradisi berbagi. Semoga setiap porsi takjil yang dibawa pulang menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sederhana seringkali lahir dari kebersamaan dan niat baik.
Akhirnya, war takjil yang mewarnai ngabuburit sore di bulan Ramadhan ini, menjadi pemandangan yang tak hanya menggugah selera, tetapi juga menghangatkan hati, menyatukan tetangga dalam tawa, doa, dan saling berbagi, geliat para pedagang kecil menegaskan bahwa berkah bulan ini meresap ke setiap sudut kampung, memberi harapan dan penghidupan bagi mereka yang telah berusaha, semoga setiap piring yang terhidang dan setiap tangan yang memberi menjadi saksi limpahan rahmat, sehingga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi bulan berkah bagi kita semua.
( Pitut Saputra )

