BerandaDaerahMbah Dragon Bangun Kebun Kelor 5 Hektar di Silu, Targetkan Produk Terbaik...

Mbah Dragon Bangun Kebun Kelor 5 Hektar di Silu, Targetkan Produk Terbaik Dunia dari NTT

KUPANG – METROPAGINEWS.COM || Herry Budijanto Dragono atau yang dikenal sebagai Mbah Dragon melakukan kunjungan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka melanjutkan pengembangan proyek UMKM Moreing Timor.

Dalam wawancara pada Rabu, 25 Februari 2026 di Kupang, ia menegaskan komitmennya untuk menjadikan produk turunan kelor asal NTT sebagai yang terbaik di dunia.

Menurut Peraih Gold Merlin Award 2025 dari IMS New York itu kelor yang tumbuh di wilayah kering NTT memiliki keunggulan ilmiah yang sangat kuat. Tanaman yang tumbuh di lahan kering secara teori menghasilkan metabolit sekunder lebih tinggi sebagai mekanisme pertahanan hidup.

Kondisi ini berdampak pada kadar antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan kelor yang tumbuh di daerah dengan kelembaban tinggi.

Namun ia menjelaskan, berdasarkan sejumlah jurnal ilmiah, kadar antioksidan akan lebih optimal apabila pohon kelor ditanam dari biji, bukan dari stek. Fakta inilah yang mendorong Moreing Timor membangun kebun kelor organik sendiri seluas lima hektar di Desa Silu.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan kelor yang sudah ada di masyarakat karena mayoritas ditanam dari stek. Obsesi kami adalah menghasilkan produk terbaik di dunia, maka semua harus dimulai dari standar tertinggi, termasuk cara tanamnya,” jelas Dosen Praktisi Teknologi Pengolahan Kelor di Biosains Undana itu.

Kebun tersebut seluruhnya ditanam dari biji dan dikelola secara organik. Bahkan metode pemupukan pun sedang diuji melalui dua pendekatan berbeda. Metode pertama menggunakan pupuk organik cair dari perusahaan bioteknologi di Klaten yang selama ini digunakan dalam program food estate nasional.

Metode kedua merupakan pupuk organik cair racikan sendiri dengan konsep fermentasi seperti eco-enzyme, namun berbahan dasar limbah daun kelor, batang, daun tua, kulit pisang sebagai sumber kalium, serta sisa ikan pasar sebagai sumber asam amino.

Kedua metode ini akan dibandingkan secara ilmiah untuk mengetahui mana yang mampu menghasilkan kadar antioksidan tertinggi. Setelah hasil terbaik ditemukan, metode tersebut akan diterapkan ke seluruh area kebun.

Standar mutu juga diterapkan ketat pada proses panen. Daun kelor dipetik sebelum matahari terbit. Hal ini dilakukan untuk menghindari penurunan nutrisi akibat proses fotosintesis yang dimulai saat matahari terbit.

Untuk menjaga kesegaran dan kandungan nutrisi, lokasi pengolahan dibangun hanya sekitar 10 meter dari kebun agar daun bisa diproses kurang dari dua jam setelah panen.

Mbah Dragon Bangun Kebun Kelor 5 Hektar di Silu, Targetkan Produk Terbaik Dunia dari NTT
BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider

Setelah dipanen, daun kelor melalui proses khusus yang disebut “lock nutrition”, yaitu metode in-aktivasi enzim yang dirahasiakan oleh Moreing Timor guna mencegah penurunan nutrisi selama proses pengolahan dan pengeringan.

Pencucian daun dilakukan menggunakan air ozon melalui mesin ozonizer. Tujuannya untuk memastikan produk bebas dari bakteri patogen. Moreing Timor menargetkan produknya memenuhi standar Zero E.coli, Zero Coliform, dan Zero Aflatoksin.

Proses pengeringan dilakukan pada suhu rendah, antara 35 hingga 38 derajat Celsius, hingga kadar air mencapai 2,5 persen. Standar kadar air ini diterapkan agar jamur Aspergillus flavus tidak dapat tumbuh.

Jamur tersebut diketahui dapat menghasilkan aflatoksin, racun berbahaya yang berpotensi menyebabkan kanker hati dan memicu penyakit autoimun.

Mbah Dragon juga melakukan evaluasi terhadap penggunaan mesin spinner yang sebelumnya dipakai untuk meniriskan daun setelah pencucian.

Ia menemukan bahwa air hasil spin berwarna hijau, yang menandakan klorofil dan nutrisi ikut terbuang. Karena itu, metode tersebut dihentikan dan diganti dengan sistem yang lebih aman terhadap kandungan nutrisi.

Mesin pengering pun dirancang sendiri dengan pengaturan mekanika fluida aliran udara agar tidak merusak klorofil dan mencegah perubahan klorofil menjadi feofitin yang menyebabkan warna kecoklatan.

Setelah pengeringan, proses penepungan dilakukan dengan metode penepungan dingin menggunakan mesin berpendingin dan ruang bersuhu sekitar 16 derajat Celsius untuk menjaga stabilitas nutrisi.

Dalam setiap tahapan, faktor cahaya, oksidasi, dan suhu menjadi perhatian utama karena ketiganya berpotensi merusak klorofil dan kandungan antioksidan.

“Dalam pengolahan pangan ada prinsip garbage in, garbage out. Kalau bahan masuknya tidak terbaik, hasilnya juga tidak akan terbaik. Karena itu setiap detail kami perhitungkan,” tegasnya.

Ke depan, Moreing Timor juga berkomitmen melibatkan masyarakat sekitar sebagai mitra pemasok kelor. Namun petani harus mengikuti standar budidaya yang ditetapkan, yakni penanaman dari biji dan penggunaan pupuk organik sesuai metodologi yang telah diuji.

Dengan pendekatan ilmiah, kontrol mutu ketat, serta pengembangan kebun organik mandiri, Moreing Timor optimistis NTT mampu menjadi pusat produksi serbuk kelor, pil kelor, dan produk turunan kelor berkualitas premium yang mampu bersaing di tingkat global.


(Alberto)

Komentar Klik di Sini