BerandaOpiniMelepas Jubah, Menembus Batas: Radikalitas Kasih Santo Yosef Freinademetz di Tengah Modernitas

Melepas Jubah, Menembus Batas: Radikalitas Kasih Santo Yosef Freinademetz di Tengah Modernitas

Oleh: Petrus Salu, SVD
Kefamenanu, 29 Januari 2026

OPINI — Di tengah laju zaman yang ditandai percepatan teknologi, krisis empati, dan kenyamanan semu, Gereja kembali diajak menoleh pada sosok misionaris besar yang justru relevansinya semakin kuat di era modern: Santo Yosef Freinademetz. Ia bukan hanya tokoh sejarah misi, melainkan cermin radikal tentang bagaimana iman seharusnya dihidupi melampaui batas, menembus zona nyaman, dan berakar dalam kasih yang membumi.

Refleksi ini menjadi semakin bermakna ketika dihubungkan dengan bacaan Kitab Suci hari ini. Janji Allah kepada Daud (2Sam 7) menegaskan kesetiaan Allah yang tak pernah goyah, sementara perumpamaan tentang pelita (Mrk 4) mengingatkan keberanian iman untuk tampil dan bersinar.

Dalam terang Sabda ini, Freinademetz tampil sebagai pelita yang menolak disembunyikan di bawah gantang kenyamanan Eropa. Ia memilih jalan sunyi: pergi jauh, menetap lama, dan menyerahkan seluruh hidupnya bagi tanah misi di Tiongkok.

Freinademetz bukan misionaris yang sekadar datang dan pergi. Ia adalah seorang penabur Injil yang secara sadar membiarkan dirinya “mati” di tanah misi, agar kehidupan baru dapat bertumbuh dan berbuah.

Hidupnya menegaskan satu kebenaran mendasar: iman tidak akan pernah relevan jika hanya berdiri di luar pagar budaya, apalagi bila dijalani dengan ketakutan untuk terlibat secara nyata.

Langkah paling provokatif dari Yosef Freinademetz pada masanya adalah keberaniannya berhenti menjadi orang asing. Ia tidak hanya mewartakan Injil kepada masyarakat Tiongkok, tetapi menjadikan dirinya bagian dari mereka. Bahasa dipelajari, budaya dihargai, cara hidup dihayati.

Ia “melepas jubah” ego, identitas sempit, dan kenyamanan pribadi, demi menghadirkan Injil yang hidup dan dapat disentuh.
Di sinilah relevansi Freinademetz bagi dunia hari ini menjadi sangat kuat. Modernitas menghadirkan kemajuan teknologi yang luar biasa, namun sering kali diiringi pendangkalan relasi, polarisasi sosial, dan krisis kepedulian. Banyak orang—termasuk pelayan Gereja—tanpa sadar terjebak dalam zona nyaman personal, religiositas simbolik, atau pelayanan yang berjarak dari realitas umat.

Dari Freinademetz, kita belajar sebuah paradoks iman: manusia justru menemukan jati diri sejatinya ketika berani kehilangan diri demi melayani sesama. Ia mengubah dunia bukan dengan paksaan, melainkan dengan metamorfosis hati—mengubah dirinya terlebih dahulu sebelum berharap dunia berubah.

Kasih, bagi Freinademetz, adalah bahasa universal yang mampu menembus sekat budaya, ideologi, dan perbedaan. Dalam konteks dunia yang terpolarisasi oleh algoritma digital dan konflik identitas, pesan ini menjadi sangat aktual. Misi Gereja hari ini tidak cukup hanya membawa ajaran, tetapi harus menghadirkan kehadiran yang menyembuhkan.

Lebih jauh, semangat misi Freinademetz menantang Gereja untuk berani berinovasi. Jika dahulu ia menembus batas geografis dan budaya, kini medan misi juga terbentang luas di ruang digital. Teknologi bukan untuk narsisme rohani, melainkan sarana inkulturasi baru—tempat Injil diwartakan dengan kreativitas, kerendahan hati, dan keberpihakan pada mereka yang haus makna di tengah kebisingan dunia maya.

Freinademetz juga mengingatkan bahwa salib adalah bagian tak terpisahkan dari panggilan misioner. Tantangan, penolakan, dan ketidaknyamanan bukan tanda kegagalan, melainkan indikasi bahwa seseorang sedang berjalan di jalur yang benar. Dalam setiap medan berat, Tuhan tidak pernah absen; Ia telah lebih dahulu hadir dan memikul bagian terberat.

Akhirnya, kemenangan iman bukanlah soal menguasai atau menaklukkan, melainkan melayani tanpa syarat. Iman yang menang adalah iman yang berani keluar dari zona nyaman, mengalahkan ketakutan pribadi, dan menjadikan diri milik sesama.

Semangat Santo Yosef Freinademetz hari ini kembali membakar api misi dalam jiwa Gereja. Ia mengajak umat beriman untuk berhenti menjadi penonton sejarah dan mulai menjadi pelaku kasih yang menjangkau masa depan. Dalam dunia yang terus berubah, satu doa tetap relevan dan mendesak:

“Tuhan, ini aku. Pakailah hidupku secara radikal.”

Santo Yosef Freinademetz, doakanlah kami.*

(Alberto)

Komentar Klik di Sini