BerandaReligiMengenal Sekilas Hari Raya Epifani

Mengenal Sekilas Hari Raya Epifani

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Setiap Minggu pertama Januari, umat Kristiani di berbagai penjuru dunia memperingati Hari Raya Epifani, sebuah perayaan yang meski kurang populer dibandingkan Natal atau Paskah, namun menyimpan kedalaman teologis dan kekayaan sejarah yang patut direnungkan. Epifani bukan sekadar penutup rangkaian Natal, ia adalah momen pewahyuan, saat keilahian Yesus Kristus dinyatakan kepada dunia dan sekaligus panggilan bagi umat untuk mewartakan kasih Allah kepada seluruh bangsa (06/01/2026).

Kata “Epifani” berasal dari bahasa Yunani epiphaneia, yang berarti penampakan atau manifestasi. Dalam tradisi Kristen, Epifani menyoroti tiga peristiwa penting yang menandai pewahyuan identitas Yesus, kunjungan orang Majus dari Timur, pembaptisan-Nya oleh Yohanes di Sungai Yordan, dan mukjizat pertama-Nya di Kana. Ketiga peristiwa ini bersama-sama menggambarkan pengakuan akan kerajaan, keilahian, dan karya penebusan Kristus.

Secara historis, Epifani termasuk salah satu perayaan tertua dalam tradisi Kristen, catatan menunjukkan umat di Timur Tengah dan Mesir sudah merayakannya sejak abad ke-3. Pada masa awal, perayaan ini menggabungkan kelahiran Yesus, pembaptisan, dan mukjizat-mukjizat awal sebagai satu rangkaian liturgis. Seiring waktu, Gereja Barat dan Gereja Timur mengembangkan penekanan yang berbeda, Gereja Barat cenderung menonjolkan kisah orang Majus, sering disebut Tiga Raja, sementara Gereja Timur, khususnya tradisi Ortodoks, lebih menekankan pembaptisan Yesus sebagai momen Theophany, penampakan Allah yang melibatkan suara Bapa, kehadiran Anak, dan turunnya Roh Kudus dalam rupa burung merpati. Seperti yang dijelaskan Nurbertus Trisno Nugroho dari Gereja Paroki St Theresia Jombor, perbedaan ini mencerminkan perkembangan tradisi liturgi yang kaya dan beragam.

Kisah orang Majus memuat simbolisme yang mendalam. Persembahan emas, kemenyan, dan mur bukan sekadar barang mewah, emas melambangkan pengakuan atas Yesus sebagai Raja, kemenyan menandakan keilahian-Nya dan peran-Nya sebagai Imam Agung yang layak disembah, sedangkan mur merujuk pada penderitaan dan kematian-Nya sebagai Penebus. Lebih jauh, kedatangan orang Majus, bangsa non-Yahudi, untuk menyembah bayi Yesus menegaskan dimensi universal keselamatan yang dibawa Kristus, menjadi dasar bagi misi Gereja untuk menjangkau semua bangsa tanpa memandang etnis atau budaya.

Tradisi perayaan Epifani beragam di berbagai belahan dunia. Di beberapa negara Eropa dan Amerika Latin, diadakan prosesi “Tiga Raja” yang meriah dengan kostum dan musik, di Spanyol dan Meksiko, anak-anak menerima hadiah sebagai simbol pemberian dari orang Majus. Dalam tradisi Katolik, Epifani sering disertai pemberkatan rumah dan penulisan inisial “C+M+B” di atas pintu, merujuk pada nama tradisional para Majus: Caspar, Melchior, dan Balthasar, serta frasa Latin Christus Mansionem Benedicat (“Kristus memberkati rumah ini”). Sementara itu, Gereja Ortodoks merayakan Epifani dengan pemberkatan air dalam skala besar, bahkan di sungai atau danau, yang dipercaya membawa berkat dan digunakan sepanjang tahun dalam berbagai upacara.

Nurbertus menegaskan “Epifani mengandung pesan rohani yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Pewahyuan Allah seringkali hadir dalam bentuk sederhana dan tak terduga, orang Majus datang bukan ke istana, melainkan ke rumah sederhana di Betlehem, pembaptisan Yesus berlangsung di sungai, bukan di bait suci, mukjizat pertama terjadi di pesta pernikahan, bukan di tempat ibadah. Semua itu mengingatkan kita bahwa kehadiran Allah dapat ditemukan dalam keseharian, dan panggilan untuk mengenali-Nya tidak terbatas pada momen-momen sakral semata.

Di tengah dunia yang semakin plural dan kompleks, Epifani juga menjadi undangan untuk merenungkan kembali misi Gereja, menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan membuka diri terhadap “yang lain.” Nurbertus menegaskan bahwa perayaan ini menegaskan kasih Allah yang melampaui batas kelompok tertentu dan mengajak umat untuk mewujudkan kasih itu dalam tindakan nyata, melalui pelayanan lintas iman, solidaritas sosial, dan keterlibatan aktif dalam membangun masyarakat yang adil dan damai. Dalam konteks lokal seperti Klaten dan daerah lain di Indonesia, semangat Epifani dapat diwujudkan lewat program kemanusiaan, dialog antarumat beragama, dan perhatian kepada mereka yang terpinggirkan.

Salah satu tantangan dalam merayakan Epifani adalah menjaga makna spiritualnya agar tidak tenggelam dalam rutinitas atau sekadar tradisi budaya. Di tengah arus komersialisasi dan kesibukan hidup, umat diajak menjadikan Epifani sebagai momen refleksi dan pembaruan iman, waktu untuk bertanya bagaimana kita, sebagai komunitas dan individu, dapat menjadi cermin cahaya Kristus bagi sesama. Epifani bukan hanya perayaan masa lalu, ia adalah panggilan masa kini untuk datang, menyembah, dan membawa persembahan hidup, bukan hanya berupa benda, tetapi juga komitmen untuk mengasihi dan melayani.

Selain itu, Nurbertus juga menambahkan, “Dalam tradisi Katolik, Hari Anak Misioner Sedunia (HAMS) yang diperingati pada Minggu pertama Januari sering dikaitkan dengan Epifani. Penetapan ini bertujuan menumbuhkan semangat misi sejak dini pada anak-anak, menjadikan mereka “bintang” kecil yang membawa terang dan damai seperti orang Majus. Dengan demikian, Epifani juga menjadi momen pendidikan iman yang menanamkan nilai universalitas kasih Allah kepada generasi muda.” ungkapnya.

Epifani mengingatkan kita bahwa pewahyuan Tuhan bersifat inklusif dan hadir di mana saja. Di tengah dunia yang haus akan terang, perayaan ini mengajak setiap orang untuk menjadi saksi kasih Kristus, menerima, membagikan, dan mewartakan terang itu kepada semua bangsa.

( Pitut Saputra )