BerandaBudaya"MUTER KAYA RODHA": Pameran Foto Bentangkan Narasi Waktu Dan Jejak Peradaban Delanggu...

“MUTER KAYA RODHA”: Pameran Foto Bentangkan Narasi Waktu Dan Jejak Peradaban Delanggu  

KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Pameran foto “Muter Kaya Rodha” di Desa Delanggu menghadirkan narasi waktu dan jejak peradaban melalui 40 foto yang dipajang di gang dan dinding rumah warga, sebagai bagian dari pra-Festival Mbok Sri.Selasa (31/3/2026)

 

Sebuah perhelatan seni visual yang unik dan memukau menghiasi rangkaian Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat di Dukuh Kaibon, Desa Delanggu. Bertajuk “Muter Kaya Rodha”, pameran foto ini mengajak pengunjung menyusuri lorong waktu, merefleksikan kehidupan yang senantiasa berputar bagai roda—tak pernah berhenti, hanya berganti arah dan cerita.

20260331 195103 0000

Digelar selama dua hari, 26–27 Maret 2026, pameran ini menjadi bagian penting dari pra-Festival Mbok Sri yang akan menjelang puncak acara pada akhir tahun ini. Konsep yang diusung bukan sekadar memajang gambar, melainkan menghadirkan seni secara mendalam di tengah ruang hidup masyarakat lokal.

Filosofi Roda dan Denyut Kehidupan

Tema “Muter Kaya Rodha” dipilih dengan pertimbangan mendalam. Roda dijadikan simbol dan semiotika kehidupan yang penuh makna. Seperti roda yang terus berputar tanpa akhir, hidup masyarakat Delanggu juga mengalami siklus yang panjang dari masa kejayaan industri gula pada masa lalu hingga kebangkitan kini dengan dibukanya kembali Stasiun Delanggu.

“Hidup selalu berputar seperti roda, ia tak pernah benar-benar berhenti hanya berganti arah, berganti cerita. Pameran foto ini lahir dari tanah Delanggu, untuk Delanggu. Ia mengajak kita menoleh ke belakang, meraba jejak, tanpa kehilangan langkah ke depan,” demikian makna mendalam yang tertuang dalam konsep pameran.

20260331 200156 0000 1

Roda juga menjadi saksi bisu bagaimana manusia Delanggu bertahan hidup sehari-hari,memikul beban hidup, mengayuh perjuangan, mengangkut harapan,mulai dari pagi sebelum srengenge (matahari) menyembul hingga senja meluruh di ujung sawah yang luas.

 

Kampung Jadi Galeri, Dinding Rumah Jadi Kanvas

Keunikan utama pameran ini terletak pada konsep ruangnya yang egaliter dan terbuka secara total. Tidak menggunakan gedung mewah atau ruang pamer tertutup, pameran malah memanfaatkan gang-gang kecil dan lingkungan sekitar Kampung Kaibon sebagai galeri hidup yang hidup.

Sebanyak 14 titik “Latar” (halaman rumah dalam bahasa Jawa) dijadikan lokasi pamer, dengan sebanyak 40 foto seri yang dipasang secara menarik. Dinding rumah penduduk bertransformasi menjadi bidang pamer yang akrab dan hangat, menjadikan ruang semi-privat di mana orang bisa saling menyapa, berbagi cerita, dan berdialog langsung dengan karya seni yang dipajang.

“Kami merancang lorong pamer ini sebagai ‘Lorong Waktu’. Menciptakan dialog yang hidup antara ruang, karya, dan pengunjung. Semua sejajar, saling mengenal, bertukar kisah,” ungkap narasi dari panitia penyelenggara.

20260331 194426 0000

Sentuhan Tangan Fotografer Lokal dan Nasional

Pameran ini digarap dengan penuh cinta oleh Anung Pamadya, fotografer lepas kelahiran Delanggu yang memotret kotanya sendiri dengan kedalaman rasa (roso) yang khas. Bersama komunitas kecilnya yang terdiri dari Eldo Bagus Satris, Fajar Wilji Raharjo, dan Awan, mereka merangkai potongan-potongan identitas Delanggu menjadi satu narasi yang utuh.

Tidak sendirian, dua fotografer tamu dari luar daerah, Ignasius Satrio dan Sisca Jesperanza, turut melengkapi pameran dengan cerita tentang keriuhan Pasar Tiban dan sisa-sisa warisan bara api industri masa lalu. Karya-karya mereka merekam denyut kehidupan pasar yang ramai, jalanan basah embun pagi, hingga keramaian malam kota, sekaligus mengikat masa lalu yang pernah berjaya sebagai pusat industri gula terbesar di Asia Tenggara dengan masa kini yang mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.

 

Komitmen Menjaga Ingatan

Eksan Hartanto, Ketua Sanggar Rojolele selaku pencetus Festival Mbok Sri, memaparkan bahwa pameran ini adalah program strategis untuk membangkitkan ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan identitas daerahnya.

“Pameran foto pra-Festival Mbok Sri tahun 2026 ini menjadi bagian dari program asli yang akan kita bawa menuju puncak acara. Dengan tema Muter Kaya Rodha, kami ingin mengajak masyarakat menepi sejenak, menyadari bahwa hidup memang tak pernah diam, selalu bergerak mencari arah dan makna,” papar Eksan.

Dengan digelarnya pameran ini, terbukti bahwa seni dan budaya tidak harus hanya berada di dalam ruang yang megah. Ia bisa hadir di mana saja, bahkan di gang sempit sekalipun, asalkan ada niat yang tulus untuk merawat cerita dan mengenang jejak leluhur yang telah membentuk kehidupan saat ini.

Pameran foto “Muter Kaya Rodha” bukan sekadar peristiwa visual yang sementara, melainkan sebuah perjalanan rasa dan ingatan. Mengingatkan kita bahwa seperti roda yang terus berputar tanpa henti, kehidupan akan selalu menemukan caranya untuk bergerak maju, membawa segala warisan masa lalu sebagai bekal berharga menuju masa depan yang lebih baik.

 

 

( Desi )

Komentar Klik di Sini