BerandaKulinerPKM Undana Dorong Kaparak dan Manggulu Naik Kelas Jadi Produk UMKM Desa...

PKM Undana Dorong Kaparak dan Manggulu Naik Kelas Jadi Produk UMKM Desa Lambakara

WAINGAPU – METROPAGINEWS.COM || Kuliner tradisional tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi yang besar apabila dikembangkan secara kreatif.

 

Potensi tersebut coba dikembangkan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui program “Diversifikasi Pengolahan dan Pemasaran Produk Kuliner Tradisional untuk Peningkatan UMKM Masyarakat Desa Lambakara, Sumba Timur.”

20260923 092546 0000

Program yang dilaksanakan di Desa Lambakara, Kabupaten Sumba Timur, ini diarahkan untuk memberdayakan masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), agar mampu mengolah potensi pangan lokal menjadi produk kuliner yang lebih inovatif, menarik, memiliki daya saing, sekaligus mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.

 

Salah satu fokus utama kegiatan adalah pengembangan dua pangan tradisional masyarakat Sumba, yakni kaparak dan manggulu.

 

Kedua produk tersebut tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga sebagai potensi usaha yang dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan dan selera pasar.

 

Melalui program ini, masyarakat didorong untuk melakukan diversifikasi mulai dari pengolahan, bentuk dan penyajian produk, hingga pengemasan, branding, manajemen usaha dan pemasaran.

 

Langkah tersebut diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap pangan lokal. Produk tradisional tidak lagi hanya diproduksi untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk UMKM yang memiliki nilai jual dan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.

 

Ketua Tim PKM Undana, Yosep Lawa, S.Pd., M.Biotech, mengatakan pangan lokal memiliki potensi besar untuk menjadi sumber kekuatan ekonomi masyarakat apabila dikembangkan melalui inovasi dan strategi pemasaran yang tepat.

 

“Potensi pangan lokal seperti kaparak dan manggulu perlu dikembangkan agar tidak hanya menjadi produk konsumsi rumah tangga, tetapi juga dapat menjadi produk UMKM yang memiliki nilai ekonomi dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

 

Menurutnya, pengembangan pangan lokal tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menghasilkan makanan, tetapi juga bagaimana menciptakan produk yang memiliki daya tarik, kualitas, identitas, serta mampu bersaing di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.

 

Karena itu, kegiatan PKM tersebut dirancang tidak hanya memberikan keterampilan pengolahan, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan usaha.

 

Dalam pelaksanaan kegiatan, Elsye Mersy Lawa Latuluma memberikan materi dan pelatihan mengenai diversifikasi produk kuliner tradisional.

 

Melalui pelatihan tersebut, masyarakat mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan kaparak dan manggulu menjadi produk yang lebih beragam serta memiliki daya tarik bagi konsumen.

 

Diversifikasi menjadi penting karena produk pangan tradisional perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan konsumen tanpa menghilangkan karakter lokal yang menjadi identitasnya.

 

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya sanitasi dan higiene pangan selama proses pengolahan.

 

Aspek kebersihan dan keamanan pangan menjadi bagian penting dalam pengembangan produk UMKM karena kualitas produk bukan hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga oleh proses produksi yang bersih, aman, dan memenuhi prinsip pengolahan pangan yang baik.

 

Selain inovasi produk, Tim PKM Undana juga memberikan perhatian serius terhadap aspek pengemasan dan branding.

 

Materi tersebut disampaikan oleh Andri Paulus Loe, S.Pd., M.Pd.

 

Masyarakat diberikan pemahaman bahwa kemasan bukan sekadar pembungkus atau pelindung produk. Kemasan juga menjadi bagian dari strategi pemasaran karena dapat membentuk kesan pertama konsumen terhadap sebuah produk.

 

Identitas produk yang jelas, tampilan kemasan yang menarik serta informasi produk yang baik dapat membantu membangun citra dan kepercayaan konsumen.

 

Karena itu, pengembangan kaparak dan manggulu diarahkan agar memiliki tampilan yang lebih menarik dan siap diperkenalkan sebagai produk UMKM.

 

Materi yang diberikan juga mencakup manajemen usaha, sehingga masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami bagaimana mengelola usaha secara lebih terarah.

 

Salah satu bagian yang tidak kalah penting dalam kegiatan ini adalah pengenalan pemasaran digital.

 

Masyarakat diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran produk UMKM.

 

Pemanfaatan media sosial memberikan peluang bagi produk lokal untuk dikenal oleh konsumen di luar wilayah Desa Lambakara.

 

Jika selama ini pemasaran produk tradisional lebih banyak mengandalkan konsumen di lingkungan sekitar, strategi digital membuka peluang untuk memperluas jangkauan pasar.

 

Masyarakat dapat memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produk, membangun identitas usaha, menampilkan kemasan, memberikan informasi kepada konsumen, hingga mempromosikan produk secara lebih luas.

 

Dengan demikian, inovasi produk dapat berjalan beriringan dengan inovasi dalam pemasaran.

 

Program PKM tersebut dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Yosep Lawa, S.Pd., M.Biotech sebagai ketua, bersama anggota Dr. Johnson N. Naat, S.Pd., M.Si., Prof. Dr. Jasman, S.Pd., M.Si., Ni Wayan O. A. C. Dewi, S.Pd., M.Si., dan Heru Christianto, S.Pd., M.Pd.

 

Kegiatan juga melibatkan mahasiswa, yakni Avelinda Brigitha Taimenas, Zulfikar Hasan, Aurelia K. Wolla Bani, dan Dwiventi Rambu Ndapa Aung.

 

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di luar ruang kelas.

 

Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam berinteraksi dengan masyarakat, memahami potensi lokal, serta melihat secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

 

Program PKM Undana di Desa Lambakara diharapkan memberikan dampak yang tidak hanya dirasakan selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat terus berkembang setelah program selesai.

 

Masyarakat diharapkan semakin terampil dalam mengolah produk pangan tradisional sekaligus memiliki kemampuan dalam pengemasan, branding, manajemen usaha dan pemasaran digital.

 

Integrasi berbagai aspek tersebut menjadi penting karena produk yang berkualitas membutuhkan dukungan pengelolaan usaha dan strategi pemasaran yang memadai.

 

Kaparak dan manggulu pun memiliki peluang untuk berkembang dari sekadar produk pangan tradisional menjadi bagian dari ekonomi kreatif berbasis potensi lokal masyarakat Sumba Timur.

 

Pengembangan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menjaga keberlanjutan kuliner tradisional di tengah perubahan zaman.

 

Dengan inovasi yang tepat, makanan tradisional tidak harus kehilangan identitas dan nilai budayanya. Justru, kekayaan kuliner lokal dapat dikemas dengan pendekatan yang lebih modern sehingga mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

 

Melalui program ini, Tim PKM Undana berupaya mempertemukan tradisi, inovasi, kewirausahaan dan teknologi digital dalam satu gerakan pemberdayaan masyarakat.

 

Harapannya, kaparak dan manggulu tidak hanya tetap lestari sebagai bagian dari kekayaan kuliner Sumba, tetapi juga mampu tumbuh sebagai produk UMKM yang memiliki nilai tambah, daya saing dan peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Lambakara.

 

(Alberto)

Komentar Klik di Sini