SURAKARTA – METROPAGINEWS.COM || Memperingati peristiwa bersejarah empat hari pertempuran di Solo yang bertepatan pada 10 Agustus, digelar acara doa, dzikir, dan sholawat bersama Njeng Sunan dalam kegiatan bertajuk Umbul Dungo untuk Nagari.
Acara yang berlangsung di Gedung Joewang 45, Monumen Laskar Putri Betang Surakarta, dihadiri masyarakat yang antusias menyaksikan momen sakral tersebut. Hadir pula anggota keluarga dari DHCBPK 45 (Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan) Solo.

Pemilihan Gedung Joewang 45 sebagai lokasi bukan hanya untuk mengenang pertempuran empat hari di Solo pada 7–10 Agustus, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan, mendoakan keselamatan bangsa, serta memohon keberkahan dan persatuan.
Njeng Sunan merupakan majelis dzikir, sholawat, dan mocopat yang memadukan unsur religi, budaya, dan nasionalisme. Makna Umbul Dungo sendiri tidak hanya menjadi wujud nguri-uri adat dan tradisi leluhur, tetapi juga menggabungkan doa dari berbagai agama tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan.
Wening Damayanti, General Manager Petit Boutique Hotel & Gedung Joewang 45, mengatakan bahwa bangunan ini memiliki nilai sejarah yang tinggi.
“Gedung Joewang ini dibangun pada tahun 1800-an, pernah menjadi markas Belanda sebagai kantin pada masa itu, dan juga sempat difungsikan sebagai klinik,” paparnya.
Hingga kini, Gedung Joewang 45 masih aktif digunakan sebagai kantor Dewan Harian Cabang 45 dan menjadi tempat pertemuan rutin para veteran.
“Sebagai bangunan bersejarah yang berada di tengah kota, saya berharap pemerintah dapat berkolaborasi agar gedung ini menjadi destinasi pariwisata,” pungkasnya.
(Desi)


Komentar Klik di Sini