BerandaPendidikanUndana Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Perkuat Komitmen Jawab Tantangan Pembangunan Daerah...

Undana Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Perkuat Komitmen Jawab Tantangan Pembangunan Daerah dan Bangsa

KUPANG — METROPAGINEWS.COM || Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menegaskan posisinya sebagai lokomotif pengembangan ilmu pengetahuan di Nusa Tenggara Timur melalui pengukuhan tiga Guru Besar baru dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa yang digelar khidmat di Graha Cendana Undana, Selasa (5/8/2025). Momen bersejarah ini bukan hanya menjadi puncak karier akademik bagi ketiga dosen, melainkan juga penanda semakin kuatnya komitmen Undana dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat.

 

Dalam pengukuhan kali ini, tiga Guru Besar yang dilantik berasal dari disiplin ilmu berbeda namun relevan dengan isu-isu strategis pembangunan daerah, yakni Prof. Dr. Drs. Hikmah, M.Pd. (bidang Teknik Lingkungan dan Penyehatan, FKIP), Prof. Dr. Ir. Arifin Sanusi, M.T. (bidang Energi Terbarukan, FST), dan Prof. Dr. Drs. Petrus Kase, M.Soc.Sc. (bidang Analisis Kebijakan Publik, FISIP). Dengan pengukuhan ini, Undana kini telah memiliki 71 Guru Besar sejak berdirinya pada tahun 1962.

Sebagai tradisi akademik, ketiga Guru Besar menyampaikan orasi ilmiah yang mencerminkan arah pemikiran mereka terhadap problematika pembangunan. Prof. Dr. Drs. Hikmah, M.Pd. memaparkan orasi bertajuk “Fenomena Lingkungan Pesisir: Analisis Perilaku Masyarakat dalam Pengelolaan Sanitasi Lingkungan”. Ia menekankan pentingnya keterlibatan multiaktor seperti pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat pesisir untuk membangun sanitasi lingkungan yang berkelanjutan berbasis pada kearifan lokal.

Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Arifin Sanusi, M.T. dalam orasinya bertajuk “Pengembangan Energi Terbarukan dalam Mendukung Kemandirian Energi Lokal” menegaskan bahwa pengembangan energi angin merupakan strategi krusial dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Dalam penelitiannya, ia menciptakan model turbin angin Savonius sederhana yang telah dipatenkan dan dinilai efektif dikembangkan secara lokal.

Sementara itu, Prof. Dr. Drs. Petrus Kase, M.Soc.Sc. menyampaikan orasi berjudul “Analisis Kebijakan Deliberatif dalam Konteks Tata Kelola Pemerintahan Kontemporer”. Dalam paparannya, ia menganalisis pentingnya pendekatan deliberatif dalam proses perumusan kebijakan publik, yang dinilai lebih partisipatif, inklusif, dan solutif dibandingkan pendekatan konvensional.

Prosesi pengukuhan ditandai dengan pengucapan pengukuhan oleh Rektor Undana, Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc., serta pengalungan gordon oleh Ketua Komisi Guru Besar sebagai simbol resmi pengangkatan jabatan akademik tertinggi di lingkungan universitas.

Rektor Undana, Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc., dalam sambutannya menegaskan bahwa pidato pengukuhan bukan sekadar seremoni, melainkan pertanggungjawaban ilmiah seorang profesor kepada masyarakat akademik dan publik luas. “Ini adalah kristalisasi pemikiran dan kompetensi keilmuan yang harus mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat,” tegas Rektor.

Prof. Maxs juga menyampaikan bahwa dengan dikukuhkannya tiga guru besar ini, Undana kini memiliki 48 guru besar aktif dari total 71 guru besar sejak berdirinya tahun 1962. Sebanyak 13 telah purnabakti, 9 wafat, dan 1 berpindah institusi. “Jumlah ini akan bertambah menjadi 71. Kita jadwalkan pada 11 Agustus 2025 mendatang, Undana akan kembali mengukuhkan 3 guru besar, sehingga total akan menjadi 51 guru besar aktif,” ujarnya.

Namun demikian, Rektor menyoroti bahwa jumlah ini masih belum ideal, meski peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir menjadi catatan positif yang turut mendongkrak status akreditasi unggul Undana per 30 Maret 2025. “Secara proporsi, baru sekitar 5 persen dari jumlah dosen aktif yang telah menyandang gelar profesor. Idealnya 10 persen,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar pencapaian akademik, Prof Maxs menekankan peran strategis guru besar sebagai penjaga nilai, pilar integritas, serta agen perubahan sosial. “Guru besar adalah mercusuar ilmu dan moral. Mereka harus mampu menjadi solusi atas persoalan-persoalan besar bangsa, termasuk kemiskinan ekstrem, stunting, dan persoalan kesehatan di NTT,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada para keluarga yang telah menjadi pendorong utama di balik perjuangan para dosen dalam mencapai jabatan tertinggi akademik tersebut. “Hari ini adalah refleksi perjuangan panjang, sekaligus bukti bahwa Undana terbuka bagi siapa saja. Dua dari guru besar hari ini berasal dari Sulawesi Selatan ini adalah testimoni nyata tentang inklusivitas dan kesempatan yang setara,” tambah Rektor.

Di hadapan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang turut hadir dalam acara tersebut, Dokter Hewan itu mengajak seluruh civitas akademika Undana untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan menjaga marwah universitas. “Mari jadikan momen ini sebagai semangat untuk mencetak lebih banyak guru besar, lebih banyak solusi, dan lebih banyak generasi unggul bagi masa depan bangsa,” pungkasnya.

Apresiasi turut disampaikan oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang hadir secara langsung. Ia menekankan bahwa pengukuhan Guru Besar merupakan momentum pengingat bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang akademik semata. “Pengukuhan guru besar bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga panggilan untuk menghadirkan ilmu yang menjawab tantangan zaman. Lingkungan, energi terbarukan, dan kebijakan publik adalah fondasi untuk membangun NTT yang sehat, cerdas, maju, dan sejahtera. Sinergi dengan pemerintah dan masyarakat menjadi keniscayaan,” tegasnya.

Sebagai institusi pendidikan tinggi tertua di NTT, Undana terus menunjukkan konsistensinya dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan menghasilkan karya-karya akademik yang relevan dengan kebutuhan pembangunan. Pengukuhan tiga Guru Besar ini memperkuat posisi Undana sebagai rumah lahirnya pemikiran strategis demi kemajuan daerah, bangsa, dan dunia.

Reporter: Alberto L

Komentar Klik di Sini