KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Sanggar Rojolele kembali menghidupkan tradisi leluhur melalui Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat 2026 yang digelar pada 26–27 Maret 2026. Acara ini menjadi momentum penting sebagai pemantik api atau Cethik Geni menuju puncak perhelatan besar, Festival Mbok Sri 2026. Sebanyak 1.500 ketupat dimasak secara bersamaan di atas 20 tungku yang berjajar rapi sebagai simbol nyata dari gotong royong.Jumat ( 27/3/2026)
Aroma janur dan semangat kebersamaan menyelimuti Padukuhan Kebonsari, Desa Delanggu, Klaten. Sanggar Rojolele kembali menghidupkan tradisi leluhur melalui Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat 2026 yang digelar pada 26–27 Maret 2026. Acara ini menjadi momentum penting sebagai pemantik api atau Cethik Geni menuju puncak perhelatan besar, Festival Mbok Sri 2026.

Mengusung tema “Seni Bertahan Petani: Tatag Ngupaya, Jejeg Urip” (Teguh dalam Berupaya, Tegak dalam Hidup), kegiatan ini menjadi cerminan ketangguhan para petani. Filosofi Tatag merefleksikan semangat pantang menyerah meski dihimpit tantangan zaman, sementara Jejeg Urip melambangkan cita-cita hidup yang bermartabat dan berdaulat di atas tanah sendiri.

1.500 KETUPAT DIMASAK SECARA MASAL – SIMBOL GOTONG ROYONG
Puncak acara ditandai dengan prosesi Adang Kupat Massal yang spektakuler. Sebanyak 1.500 ketupat dimasak secara bersamaan di atas 20 tungku yang berjajar rapi. Aktivitas kolektif ini bukan sekadar memasak, melainkan simbol nyata dari gotong royong yang menjadi ruh kehidupan masyarakat agraris.

Ketua Panitia Pelaksana,sekaligus direktur Festival Eksan Hartanto, menegaskan bahwa tradisi ini memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat.
“Bakdo Kupat ini adalah wujud syukur kita kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah. Lebih dari itu, proses memasak 1.500 ketupat di 20 tungku ini adalah simbol Cethik Geni, menyulut kembali api semangat kebersamaan. Kami ingin menanamkan filosofi Tatag Ngupaya, Jejeg Urip, bahwa selama kita mau berusaha dan berdiri tegak, kita akan mampu bertahan dan bermartabat,” ujar Eksan saat ditemui di lokasi acara, Kamis(26/03).
Eksan juga berharap kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi dan pewarisan nilai. “Di sini para sesepuh mengajari anak muda menenun janur, menganyam ketupat, dan memasak bersama. Ini cara kita merawat ingatan dan memperkuat identitas budaya Delanggu,” tambahnya.
RANGKAIAN ACARA YANG SARAT MAKNA
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini juga memanjakan mata dan telinga pengunjung dengan berbagai acara, antara lain:
– Lokakarya pembuatan ketupat bersama para sesepuh desa
– Prosesi Kirab Ambengan Kupat yang penuh khidmat
– Kenduri bersama warga serta Halal Bihalal Akbar
– Pameran foto dokumentasi budaya
– Panggung seni dengan pertunjukan Wayang Kulit dan orkes Melayu dangdut jadul
TRADISI TURUN TEMURUN YANG MULAI MEMUDAR
Eksan menjelaskan bahwa Bakdo Kupat merupakan tradisi turun temurun masyarakat Padukuhan Kebonsari yang telah berlangsung sejak era 1950-an. Tradisi ini lahir sebagai perayaan filosofis setelah Idul Fitri bukan sekadar kemenangan, melainkan momentum pemulihan relasi sosial dan spiritual warga. Puncak perayaan biasanya dilaksanakan pada hari ke-6 dan ke-7 Syawal (H+6 dan H+7 Lebaran) saat masyarakat berkumpul dalam suasana kebersamaan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, esensi tradisi mulai memudar. Praktek gawe kupat secara kolektif yang dulunya dilakukan bersama-sama kini tergantikan dengan membeli ketupat jadi. Tradisi produksi kolektif berubah menjadi konsumsi instan, hingga makna filosofis ketupat sebagai simbol pengakuan kesalahan, saling memaafkan, dan penguat kehidupan setelah Ramadan hanya menjadi formalitas sebelum makan bersama.
Perubahan ini disebabkan oleh sulitnya memperoleh bahan baku janur akibat berkurangnya pohon kelapa di perkampungan, perubahan lanskap desa, dan terputusnya rantai pengetahuan antar generasi. Menyadari kondisi tersebut, Sanggar Rojolele berinisiatif mengajak warga untuk menghidupkan kembali nilai dan praktek tradisi melalui Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat 2026.

Dengan semangat yang telah dipantik melalui kegiatan ini, masyarakat kini siap menyambut puncak perayaan budaya yang lebih besar, yakni Festival Mbok Sri 2026.
Dengan semangat yang telah dipantik melalui Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat 2026, masyarakat kini siap menyambut puncak perayaan budaya yang lebih besar, yakni Festival Mbok Sri 2026. Eksan mengutarakan harapannya bahwa semangat gotong royong yang telah dinyalakan melalui acara ini dapat terus berkobar dan menjangkau seluruh pelosok Kabupaten Klaten.
“Kami berharap tradisi Bakdo Kupat tidak hanya hidup kembali di Padukuhan Kebonsari, tetapi juga menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menghidupkan kembali tradisi leluhur mereka sendiri,” pungkasnya. Selain itu, Eksan juga berharap generasi muda dapat terus belajar dan melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi akar identitas bangsa, sehingga filosofi Tatag Ngupaya, Jejeg Urip dapat terus hidup dan menjadi landasan dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Dengan demikian, Festival Mbok Sri 2026 nantinya tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya, tetapi juga menjadi bukti bahwa warisan leluhur kita masih relevan dan mampu memperkuat tali persatuan antar masyarakat,” tambahnya dengan penuh harapan.
( Desi )


Komentar Klik di Sini