KLATEN-METROPAGINEWS.COM ||
Mengunjungi Daerah Sorogaten Tulung tentu tak lengkap bila tak singgah ke Warung Sop Edi, wisata kuliner yang sangat populer di daerah ini. Di bulan Ramadhan, tempat ini seringkali menjadi destinasi wisata kuliner bagi mereka yang menggelar kegiatan buka bersama (bukber), sehingga suasana warung kian ramai dan hangat oleh kebersamaan warga setempat. Warung yang namanya merupakan singkatan dari “Enak Dan Istimewa” itu kini menjadi rujukan bagi warga yang mencari masakan rumahan dengan harga terjangkau dan cita rasa yang konsisten (06/03/2026).
Warung Sop Edi dikelola oleh Adi Kusuma, sosok yang dikenal ramah dan mudah bergaul. Adi bukanlah orang yang langsung terjun ke dunia kuliner sejak awal, ia sempat bekerja di perusahaan besar, Astra, namun memilih meninggalkan pekerjaan korporat demi kebebasan waktu dan menekuni kecintaannya pada dunia memasak. Keputusan itu berbuah manis, warung sederhana yang ia kelola kini ramai dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari pegawai kecamatan hingga para guru di sekitar Sorogaten Tulung.

Dari segi harga, Warung Sop Edi menawarkan menu yang ramah kantong dengan rentang harga Rp 6.000 hingga Rp 30.000, sehingga cocok untuk pelajar, pekerja, dan keluarga. Konsep harga terjangkau ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat warung mudah diterima masyarakat luas. Selain itu, suasana warung yang hangat dan pelayanan yang bersahabat membuat pelanggan merasa seperti makan di rumah sendiri.
Identitas keluarga pemilik menjadi bagian penting dari daya tarik warung. Adi seringkali menceritakan bahwa keluarganya memiliki akar budaya keraton Surakarta, disebutkan bahwa mbah buyutnya adalah Bong Supit Keraton, ayahnya juga pernah berperan sebagai abdi dalem di Kasunanan, dan ibunya berasal dari keturunan keraton Mangkunegaran. Karenanya tak heran bila warna cat warung yang selalu dipertahankan dominan hijau dan kuning, sebagai simbol keterkaitan tersebut, dan menegaskan filosofi visual yang menghubungkan usaha kuliner modern dengan tradisi keraton yang dihormati.
Secara arsitektur, Warung Sop Edi menampilkan gaya klasik pedesaan yang sederhana namun rapi. Bangunan berdesain tradisional dengan garis-garis yang tidak berlebihan memberi kesan hangat dan akrab. Interiornya mengandalkan meja dan kursi kayu, dekorasi minimalis, serta dominasi warna hijau dan kuning yang memberi nuansa keraton. Di kalangan warga, warung ini juga dikenal “masih ada kekancingan” dengan keraton yang menambah nilai tradisional dan keaslian pengalaman bersantap.
Dari sisi kuliner, Warung Sop Edi memiliki beberapa menu andalan yang menjadi magnet pelanggan. Sop Matahari dan Sop Ayam tercatat sebagai best seller karena rasa yang konsisten dan porsi yang memuaskan. Selain itu, Iga Bakar menjadi pilihan bagi pengunjung yang menginginkan hidangan lebih istimewa namun tetap terjangkau. Menu-menu tersebut diracik dengan pendekatan kreatif namun sederhana, mengutamakan bahan segar dan teknik memasak rumahan yang akrab di lidah masyarakat setempat. Penyajian yang rapi dan bumbu yang meresap menjadi kunci utama yang membuat pelanggan kembali lagi.
Kepopuleran warung ini juga didukung oleh jaringan pelanggan tetap yang solid. Banyak pelanggan berasal dari pegawai kecamatan, guru, dan tenaga pendidik di sekitar Sorogaten Tulung. Kehadiran kelompok pelanggan ini membantu menyebarkan reputasi warung melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Di bulan Ramadhan, lonjakan pengunjung yang mengadakan bukber menambah dinamika tersendiri, meja-meja penuh, tawa dan obrolan hangat mengisi ruang makan, sementara tim dapur bekerja lebih cepat untuk memenuhi pesanan rombongan.
Ketekunan Adi dalam menggeluti dunia kuliner menjadi faktor penentu keberhasilan Warung Sop Edi. Ia menaruh perhatian besar pada konsistensi rasa, kebersihan, dan pelayanan yang ramah. Pendekatan ini membuat warung bukan sekadar tempat makan, melainkan juga ruang berkumpul keluarga dan komunitas. Banyak pelanggan menyebut warung ini sebagai tempat yang “berkah bagi keluarga”, karena selain menyediakan makanan, warung juga menjadi titik temu sosial yang hangat dan akrab.
Filosofi visual warung, cat hijau dan kuning, sering menjadi topik pembicaraan pengunjung. Warna tersebut tidak hanya dipilih karena estetika, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap akar budaya keluarga. Hijau dan kuning, yang identik dengan nuansa keraton, dipandang sebagai simbol kesinambungan tradisi dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan modern. Bagi pengunjung, kombinasi warna ini memberi kesan tradisi yang kuat dan membedakan Sop Edi dari warung-warung lain di sekitarnya.
Meski beroperasi dalam skala kecil, Warung Sop Edi menunjukkan bagaimana usaha kuliner lokal dapat tumbuh dengan modal keaslian, kerja keras, dan hubungan baik dengan komunitas. Tantangan seperti persaingan kuliner dan perubahan selera konsumen tentu ada, namun fondasi yang kuat, resep yang disukai, harga terjangkau, dan hubungan erat dengan pelanggan, memberi peluang bagi warung ini untuk tetap eksis. Keberhasilan Adi meninggalkan pekerjaan tetap demi mengejar passion memasak juga menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain yang ingin menggabungkan nilai tradisi dan inovasi.
Bagi warga Sorogaten Tulung dan sekitarnya, Warung Sop Edi bukan sekadar tempat makan, ia adalah bagian dari cerita komunitas. Di meja-meja sederhana itu, rasa, tradisi, dan keramahan bertemu dalam piring yang menghangatkan. Di bulan Ramadhan, ketika banyak warga berkumpul untuk berbuka bersama, warung ini kian menegaskan perannya sebagai destinasi kuliner yang menyatukan selera dan kebersamaan.
( Pitut Saputra )

