SO’E – METROPAGINEWS.COM || Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Universitas Nusa Cendana (Undana) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Tuafanu, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), pada Jumat, 12 Desember 2025.
Kegiatan ini mengusung tema “Edukasi Masyarakat tentang Vaksinasi dan Pemeriksaan Kesehatan Hewan sebagai Upaya Pencegahan Penyakit.”
Mahasiswa Koas Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) turut terjun langsung melakukan vaksinasi di bawah pendampingan para dokter hewan Undana.
Dengan penuh antusias, mereka memeriksa satu per satu ternak milik warga sembari memberikan edukasi tentang pentingnya vaksinasi, pola pemeliharaan ternak yang benar, serta upaya pencegahan penyakit.
Setelah proses vaksinasi, para dokter dari Rumah Sakit Hewan Pendidikan Undana menggelar sesi edukasi bagi masyarakat.
Salah satu materi yang paling ditekankan adalah bahaya rabies yang masih menjadi ancaman di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur.

Warga dijelaskan mengenai cara penularan rabies, tanda-tandanya pada hewan, serta langkah-langkah yang harus dilakukan apabila terjadi kasus gigitan.
Edukasi kemudian berlanjut pada pentingnya biosecurity dalam peternakan. Para Dokter menjelaskan bahwa biosecurity adalah serangkaian tindakan untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit di kandang atau kelompok ternak.
Masyarakat diajak memahami bahwa perlindungan ternak dimulai dari hal sederhana seperti membatasi keluar-masuk orang ke kandang, membersihkan alas kaki sebelum masuk kandang, serta melakukan karantina ternak baru minimal dua minggu.
Mereka juga diingatkan untuk memisahkan hewan sakit dari yang sehat, menjaga kebersihan kandang, serta tidak membeli hewan dari wilayah yang sedang mengalami wabah penyakit.
Dokter menekankan bahwa satu kesalahan kecil dalam biosecurity dapat berujung pada kerugian besar bagi peternak.
Selain menjaga ternak, para dokter juga mengingatkan peternak untuk melindungi diri sendiri melalui penerapan biosafety.
Warga diedukasi bahwa penyakit ternak tidak hanya berbahaya bagi hewan, tetapi juga bisa mengancam kesehatan manusia.
Mereka dianjurkan memakai sarung tangan saat menangani hewan sakit, menggunakan sepatu kandang, mengenakan masker saat kandang berbau atau berdebu, serta segera mencuci tangan setelah memasuki area kandang.
Penanganan bangkai hewan juga perlu diperhatikan, yakni dengan menguburnya atau membakarnya dengan benar agar tidak mencemari lingkungan atau menjadi sumber penyebaran penyakit.
Materi mengenai vaksinasi menjadi bagian yang paling menarik perhatian masyarakat. Para dokter menjelaskan bahwa vaksin bekerja layaknya perisai atau latihan bagi tubuh hewan sebelum menghadapi serangan penyakit.
Vaksinasi bukan hanya melindungi hewan dari kematian, tetapi juga mencegah penyebaran penyakit, mengurangi kerugian ekonomi, dan jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan saat terjadi wabah.
BACA JUGA : Kasus Perampokan di Kedungreja Disidangkan, Tak Ada Saksi yang Meringankan
Para Dokter memberikan pemahaman bahwa vaksinasi hanya dapat diberikan pada hewan yang sehat, tidak mengalami stres, dan tidak sedang dalam kondisi tertentu seperti bunting tua, baru dipindahkan kandang, atau sedang diare maupun demam.
Warga juga diperkenalkan pada syarat vaksinasi bagi berbagai jenis hewan, mulai dari sapi, kambing, babi hingga ayam, sehingga masyarakat dapat memahami kapan vaksin dapat diberikan dan kapan harus ditunda.
Dalam sesi lanjutan, tim Undana memaparkan berbagai penyakit berbahaya yang dapat menyerang ternak di wilayah NTT.
Masyarakat diperkenalkan pada anthrax, penyakit mematikan yang disebabkan bakteri dan mampu bertahan puluhan tahun di tanah.
Tanda-tandanya seperti demam tinggi, kesulitan bernapas, tremor, hingga kematian mendadak dengan darah gelap yang keluar dari berbagai lubang tubuh.
Peternak diingatkan bahwa anthrax merupakan zoonosis sehingga dapat menular ke manusia.
Brucellosis turut disampaikan sebagai penyakit berbahaya yang menyebabkan gangguan reproduksi pada ternak dan dapat menular pada manusia melalui konsumsi daging yang kurang matang atau susu yang tidak dipasteurisasi.
Untuk ternak babi, tim dokter memberikan perhatian khusus pada ASF atau African Swine Fever, penyakit yang memiliki tingkat kematian sangat tinggi dan menyebabkan kerugian ekonomi serius bagi peternak.
Gejalanya antara lain lesu, perdarahan pada telinga dan hidung, serta perubahan warna kulit.
Meski tidak menular ke manusia, penyakit ini dapat melumpuhkan usaha ternak babi dalam waktu cepat.
Penyakit CSF atau hog cholera juga menjadi perhatian, mengingat penyebarannya dapat terjadi melalui kontak langsung maupun makanan sisa yang tidak dikelola dengan baik.
Sementara itu, bagi peternak sapi dan kambing, dokter menjelaskan bahaya Septicemia Epizootica yang ditandai demam, pembengkakan di leher, dan kematian mendadak.
Untuk peternak ayam, mereka diberikan wawasan tentang penyakit Coryza atau snot yang menyebabkan pilek berkepanjangan pada unggas, mata berair, bersin, serta penurunan nafsu makan.
Para peternak diajak menjaga kebersihan kandang, memastikan ventilasi baik, serta menghindari kepadatan berlebih agar unggas tidak mudah terinfeksi.
Kegiatan PKM di Desa Tuafanu ini mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Mereka menyampaikan terima kasih kepada Undana karena kegiatan ini membuka wawasan baru bagi para peternak yang selama ini masih minim informasi terkait kesehatan hewan.
Melalui edukasi yang sederhana namun komprehensif, kegiatan ini mampu meningkatkan ketahanan ternak, menekan risiko wabah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor peternakan.
Dengan kegiatan ini, Undana kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mengabdi melalui dunia akademik, tetapi juga hadir langsung menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Program PKM ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan yang dipraktikkan di lapangan dapat membawa perubahan positif bagi peningkatan kesehatan ternak dan kualitas hidup masyarakat di pedesaan.
Camat Kualin, Welhelmus Nabunome, yang turut hadir, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran Undana di wilayahnya.
Ia mengatakan bahwa kegiatan edukasi dan pencegahan penyakit ternak sangat berarti bagi masyarakat Tuafanu yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan.
Welhelmus menjelaskan bahwa sekitar 80 persen masyarakat bekerja di sektor pertanian dan 20 persen di sektor peternakan, sehingga kesehatan hewan memiliki pengaruh langsung terhadap keberlanjutan ekonomi keluarga di desa tersebut.

“Kami mengucapkan limpah terima kasih kepada pihak Rumah Sakit Hewan Pendidikan Undana yang sudah datang memberikan edukasi, vaksinasi, dan pemeriksaan kesehatan hewan. Kegiatan ini sangat vital bagi masyarakat kami,” ujar Welhelmus.
Ia juga mengajak warga untuk membaca brosur-brosur yang dibagikan tim Undana agar pengetahuan baru yang diterima tidak hanya berhenti pada hari kegiatan, tetapi bisa terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Welhelmus berharap agar kerja sama ini dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ia mengusulkan agar tahun depan Undana kembali mengirimkan mahasiswa untuk melaksanakan KKN tematik di 7 Desa di Kualin, khususnya untuk memperkuat pendampingan dan kajian-kajian yang dibutuhkan masyarakat setempat.
Ia menyebutkan bahwa Kecamatan Kualin memiliki delapan desa dengan jumlah penduduk lebih dari 2.000 orang, dan lima desa di antaranya berada di wilayah Pantai Selatan yang rentan terhadap berbagai tantangan lingkungan.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini dan berharap Undana terus hadir membantu masyarakat kami,” papar Welhelmus.
Kegiatan PKM ini diketuai oleh, drh. Tri Utami, M. Sc, bersama anggotanya yakni, drh. Maria Tulasi, M. Sc, dan drh. Marlin Cindy Malelak, M. Sc.
(Alberto)


Komentar Klik di Sini