BREBES – METROPAGINEWS.COM II
Banjir bandang yang kembali melanda Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, membawa dampak serius bagi sektor pertanian. Luapan Sungai Keruh tak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga menghancurkan ratusan hektare lahan persawahan di Desa Adisana. Ratusan petani kini terancam mengalami kerugian besar akibat gagal tanam dan gagal panen.
Peristiwa banjir terjadi pada Jumat 24 Januari 2026 malam setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hingga malam hari.

Air sungai yang meluap disertai lumpur dengan cepat menggenangi area persawahan, merusak tanaman padi milik warga yang sebagian baru berusia sekitar tiga minggu, bahkan ada yang seharusnya sudah memasuki masa panen.
Kondisi ini membuat para petani tak berdaya menyelamatkan tanaman mereka. Modal tanam yang telah dikeluarkan dalam jumlah besar pun terancam hilang sia-sia.
“Ini sebenarnya baru ditanam, modalnya sudah banyak. Tapi malah kena banjir lagi. Ya jelas kami rugi,” ungkap Winda, salah seorang petani terdampak, dengan nada pasrah.
Tak hanya tanaman muda, sejumlah sawah yang siap dipanen juga terendam air cukup lama, sehingga hasil panen dipastikan gagal total.
Bagi petani, kondisi ini menjadi pukulan berat karena banjir serupa telah terjadi berulang kali.
Kepala Desa Adisana, Ahmad Yani, menyebutkan bahwa banjir kali ini merupakan kejadian kedua sepanjang tahun 2026 dan menjadi yang terparah. Luapan Sungai Keruh masuk langsung ke wilayah desa dan berdampak luas, baik pada permukiman warga maupun lahan pertanian.
“Ini banjir kedua tahun ini dan yang paling parah. Dampaknya ke pemukiman dan pertanian. Untuk lahan pertanian kurang lebih sekitar seratus hektare. Ada yang gagal tanam dan ada juga yang gagal panen,” jelasnya.
Ia menegaskan perlunya perhatian serius dan langkah nyata dari seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah daerah dan instansi terkait, untuk segera melakukan penanganan menyeluruh, khususnya di wilayah hulu sungai.
“Harapan kami semua stakeholder segera memperhatikan dan langsung action, terutama di hulu. Kalau hulunya tidak ditangani, sampai kapan pun banjir akan terus terjadi,” tegas Ahmad Yani.
Pemerintah Desa Adisana menilai, penanganan di wilayah hilir tidak akan efektif apabila persoalan di hulu Sungai Keruh terus diabaikan.
Terlebih, kondisi tanggul sungai dilaporkan telah jebol di beberapa titik, sementara musim hujan diperkirakan masih akan berlangsung dalam waktu cukup panjang.
Hingga kini, warga dan para petani terdampak masih menanti langkah konkret dari pemerintah guna mencegah banjir susulan yang dikhawatirkan kembali merusak lahan pertanian dan mengancam sumber penghidupan mereka.
(Mistam)


Komentar Klik di Sini