KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Di Padukuhan Kebonsari, Desa Delanggu, Klaten, Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat 2026 tidak hanya menampilkan tradisi lama, tetapi juga mengangkat dua hal istimewa: keajaiban perapian kayu bakar yang menghasilkan cita rasa autentik, dan kehangatan tradisi Rewang yang menjadi simbol ikatan persaudaraan masyarakat. Menurut Eksan Hartanto, pencetus Festival Mbok Sri, kedua elemen ini menjadi jantung dari seluruh rangkaian kegiatan budaya sebagai pemantik semangat kebersamaan menuju Festival Mbok Sri 2026.Sabtu (28/3/2026)
Suara kayu yang berderak, nyala api yang menari-nari, serta asap yang mengepul memenuhi angkasa menjadi pemandangan langka yang kini kembali disajikan. Di Padukuhan Kebonsari, Desa Delanggu, Klaten, Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat 2026 tidak hanya menampilkan tradisi lama, tetapi juga mengangkat dua hal istimewa: keajaiban perapian kayu bakar dan kehangatan tradisi Rewang.
Eksan Hartanto, pencetus Festival Mbok Sri, menjelaskan bahwa kedua elemen ini menjadi jantung dari seluruh rangkaian kegiatan budaya yang digelar.

API KAYU: RAHASIA RASA DAN KENANGAN
Berbeda dengan zaman modern yang serba cepat menggunakan kompor gas, di sini para sesepuh dan warga setia menggunakan kayu bakar sebagai nyawa dari proses Adang Kupat (memasak ketupat).
Penggunaan kayu bakar bukan sekadar upaya berhemat, melainkan sebuah penghormatan terhadap memori masa lalu. Ini adalah cara mereka mengenang kembali kehangatan dapur-dapur desa di era dulu ketika teknologi belum mendominasi.
“Memasak pakai kayu itu beda rasanya. Panasnya itu meresap sempurna ke dalam anyaman janur. Kalau pakai gas, rasanya kurang ‘nendang’ dan teksturnya tidak sepadat ini,” ujar Eksan.
Eksan Hartanto menambahkan pandangannya tentang filosofi penggunaan kayu bakar. “Kayu bakar bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang hubungan kita dengan alam. Setiap kayu yang kita bakar adalah penghormatan kepada hasil bumi yang telah memberi kita kehidupan. Ini juga menjadi cara kita mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya menghargai sumber daya yang ada,” jelasnya.
Proses memasak ini membutuhkan kesabaran ekstra, memakan waktu tidak kurang dari 6 jam. Namun, kesabaran itu terbayar lunas. Ketupat yang dihasilkan memiliki tekstur kenyal yang pas, aroma wangi khas gubug desa, dan yang paling istimewa, tahan awet hingga 3 hari tanpa mengubah rasa. Panas alami dari kayu dianggap memberikan energi yang lebih “hidup” dan sempurna bagi makanan.

REWANG: TANGAN – TANGAN YANG MENYATU DALAM IKATAN BATIN
Di sela-sela asap tungku, baik laki laki dan wanita, dari yang berambut putih hingga remaja putra dan putri, tampak sibuk namun ceria. Inilah wajah dari tradisi Rewang.
Di Dukuh Kaibon dan sekitarnya, konsep katering atau pesan masak jadi tak terdengar. Ketika ada acara besar, para wanita berkumpul secara sukarela. Mereka membagi tugas ada yang memotong, mencuci, menumis, hingga menyajikan, semua dilakukan dengan tawa dan canda.
Rewang bukan sekadar bekerja, melainkan simbol ikatan persaudaraan yang tak terputus. Di sini tak ada gaji, tak ada upah, yang ada hanya rasa tolong-menolong. Filosofinya sederhana namun dalam: jika satu orang atau satu desa bersedih atau bergembira, maka semua merasakannya.
“Rewang ini bukti bahwa kami satu darah. Meskipun tangan kami pegal, hati kami senang karena bisa berkontribusi. Ini yang membuat acara kami terasa hangat dan penuh berkah,” tutur salah satu ibu yang sedang sibuk menyiapkan hidangan.

Sebagai pencetus Festival Mbok Sri, Eksan mengungkapkan pentingnya tradisi Rewang bagi masyarakat. “Rewang adalah jiwa dari kehidupan desa kita. Tanpa semangat ini, acara apa pun akan terasa hampa dan tidak memiliki makna. Inilah nilai yang ingin kamiangkat melalui Festival Mbok Sri – bahwa kebersamaan adalah kunci kemakmuran dan keharmonisan masyarakat,” pungkasnya.
Semangat gotong royong ini juga terlihat dari sumbangan warga. Sebagai masyarakat agraris, bantuan tak hanya berupa uang, tapi juga beras, sayur mayur segar dari kebun, hingga buah-buahan hasil bumi yang melimpah.
Kombinasi antara cita rasa autentik dari kayu bakar dan keikhlasan hati dalam tradisi Rewang inilah yang membuat Kenduri Bakdo Kupat 2026 terasa begitu istimewa. Acara ini bukan hanya sekadar perayaan budaya, melainkan menjadi lukisan hidup yang menggambarkan bagaimana nilai-nilai leluhur dapat tetap hidup dan relevan di tengah kemajuan zaman. Eksan Hartanto berharap semangat yang terpancar dari sini dapat terus menyala dan menjadi landasan kebersamaan yang kokoh saat menyambut puncak acara besar, Festival Mbok Sri 2026. Dengan demikian, tradisi bukan hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga menjadi energi yang menggerakkan masyarakat menuju masa depan yang lebih baik dan penuh rasa persaudaraan.
( Desi )


Komentar Klik di Sini