YOGYAKARTA – METROPAGINEWS.COM ||
Derby antara PSIM Yogyakarta dan Persis Solo diwarnai dengan ketegangan pada sejumlah titik perbatasan wilayah, setelah rombongan suporter tamu berupaya menuju lokasi pertandingan. Kepolisian Resor Gunungkidul mengambil langkah cepat dengan menerapkan pengamanan ketat di jalur-jalur strategis untuk mengantisipasi kedatangan suporter Persis Solo yang rencananya menuju Bantul, langkah yang sejalan dengan keputusan PSSI dan kesepakatan penyelenggara agar hanya suporter tuan rumah yang diperbolehkan hadir di stadion demi menjaga kondusifitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (06/02/2026).
Polres Gunungkidul menyiagakan personel di beberapa titik perbatasan dan melakukan penyekatan terhadap rombongan yang sudah memasuki wilayah Kota Wonosari. Rombongan tersebut dihentikan di Bundaran Siyono dan diarahkan untuk putar balik menuju Solo. Wakapolres Gunungkidul, Kompol Sumanto, S.H., menegaskan bahwa penyekatan dilakukan secara humanis, petugas tidak sekadar memaksa pulang, tetapi juga memperhatikan kondisi cuaca yang terik dan kebutuhan dasar para suporter. Sebagai bentuk kepedulian, petugas menyediakan air minum dan mengimbau agar rombongan tetap tenang serta mematuhi arahan, pendekatan persuasif yang dimaksudkan untuk mencegah gesekan yang dapat memicu kericuhan.

Meski upaya humanis itu berhasil meredam sebagian potensi konflik dan arus lalu lintas di Kota Wonosari sempat kembali normal, situasi tidak sepenuhnya aman. Di beberapa titik sepanjang ruas Jalan Solo–Yogyakarta, termasuk pertigaan SGM Prambanan, dan depan Indomaret Somopuro terjadi kericuhan kecil yang melibatkan penggunaan petasan. Insiden-insiden ini memaksa aparat kepolisian di perbatasan meningkatkan penjagaan, menempatkan mobil patroli dan personel di titik-titik rawan untuk mengantisipasi kemungkinan bentrok susulan hingga dini hari ini. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa meski kebijakan penyekatan efektif menahan arus massa, risiko konfrontasi tetap ada ketika kelompok-kelompok kecil bertindak di luar kendali.
Koordinasi antar wilayah menjadi kunci dalam meredam potensi eskalasi. Polres Gunungkidul berkomunikasi intens dengan jajaran kepolisian di kabupaten dan kota tetangga untuk berbagi informasi mengenai pergerakan massa dan menyiapkan langkah cepat bila diperlukan. Pos-pos pemeriksaan terpadu didirikan, arus lalu lintas dialihkan melalui jalur alternatif, dan patroli mobile disiagakan untuk merespons laporan secara cepat. Penempatan personel di titik-titik rawan didasarkan pada analisis intelijen dan pengalaman sebelumnya, sehingga upaya pencegahan lebih terarah dan tidak sekadar reaktif.
Selain tindakan represif bila diperlukan, aparat juga menekankan pentingnya pencegahan melalui sosialisasi aturan pertandingan dan imbauan agar suporter tidak melakukan perjalanan ke lokasi laga. PSSI dan pihak penyelenggara telah menetapkan sanksi tegas bagi pelanggar yang mencoba memaksa masuk ke stadion, langkah yang dimaksudkan untuk menegaskan bahwa keselamatan publik menjadi prioritas. Kompol Sumanto menegaskan bahwa penyekatan bukan dimaksudkan untuk menghalangi hak suporter, melainkan untuk menjaga keselamatan publik, ia meminta masyarakat memahami situasi dan mendukung upaya aparat dalam menjaga ketertiban selama pertandingan berlangsung.
Respons publik terhadap pendekatan humanis aparat beragam. Beberapa warga menyambut baik langkah polisi yang mengutamakan keselamatan dan ketertiban, memuji tindakan persuasif yang menghindarkan bentrokan besar. Namun pengamat keamanan menilai bahwa pendekatan persuasif perlu dipadukan dengan kesiapan taktis untuk merespons ancaman nyata. Evaluasi pasca-pertandingan menjadi penting untuk menilai efektivitas pengamanan, memperbaiki koordinasi, dan merumuskan kebijakan yang lebih komprehensif menjelang laga-laga besar berikutnya.
Peran pengurus suporter dan tokoh lokal juga mendapat sorotan. Pengurus suporter kedua belah pihak diminta berperan aktif dalam menyampaikan informasi resmi kepada anggota dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat memecah belah komunitas pendukung. Di tingkat masyarakat, peran media sosial dan para tokoh berpengaruh krusial untuk meredam provokasi, informasi yang akurat dan imbauan yang konsisten dapat mencegah penyebaran hoaks yang kerap memperkeruh suasana dan memancing emosi massa. Suporter diimbau menahan diri dan menyalurkan dukungan melalui cara-cara aman dan sah, seperti menonton siaran langsung dari rumah atau berkumpul di tempat nonton bersama yang telah mendapat izin.
Dari sisi hukum, aparat menegaskan akan menindak tegas setiap tindakan anarkis atau pelanggaran hukum yang terjadi selama pengamanan. Proses penegakan hukum akan dilakukan sesuai prosedur, termasuk penahanan sementara, pemeriksaan, dan penyidikan bila ditemukan bukti keterlibatan individu atau kelompok dalam tindakan kekerasan. Pernyataan ini dimaksudkan untuk memberi efek jera sekaligus menjaga kepercayaan publik bahwa tindakan yang melanggar hukum tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.
Pengalaman dari insiden hari itu menjadi pengingat bahwa pertandingan sepak bola, selain sebagai hiburan, juga membutuhkan manajemen risiko yang matang. Semua pihak, federasi, klub, aparat keamanan, pengurus suporter, dan masyarakat, memiliki tanggung jawab kolektif untuk memastikan olahraga tetap menjadi ruang yang aman dan menyatukan.
Rekomendasi yang muncul pasca-insiden meliputi peningkatan kapasitas komunikasi antar instansi, pelatihan penanganan massa bagi personel keamanan, serta program edukasi bagi suporter tentang etika dan keselamatan. Implementasi rekomendasi tersebut diharapkan menurunkan risiko insiden dan memperkuat budaya sportivitas di kalangan pendukung klub.
Keberhasilan menjaga kondusifitas tidak hanya diukur dari minimnya kerusuhan, tetapi dari kemampuan semua pihak bekerja sama secara bertanggung jawab. Jika komitmen itu terjaga, pertandingan dapat dinikmati aman oleh komunitas sepak bola yang lebih sehat, dan derby yang semula berpotensi memecah belah justru menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas serta menegakkan nilai-nilai sportivitas. Sejumlah publik berharap semoga harapan tentang sepakbola Indonesia yang lebih baik tersebut bisa terwujud kedepannya.
( Pitut Saputra )

