OPINI — METROPAGINEWS.COM || Di tengah dunia yang semakin bising oleh notifikasi, unggahan, dan perlombaan citra diri, iman Kristiani menghadapi tantangan yang tidak kecil: bagaimana tetap setia pada panggilan Injil tanpa terjebak dalam budaya flexing—memamerkan diri demi pengakuan digital.
Ilustrasi sederhana tentang seorang pemuda yang sibuk berswafoto di “Pantai Galilea versi modern” menyentil realitas kita hari ini. Saat Yesus lewat dan memanggil, “Ikutlah Aku,” perhatian sang pemuda justru tertahan oleh live streaming, likes, dan kekhawatiran apakah surga menyediakan Wi-Fi yang kencang. Kita tertawa, namun di situlah cermin iman kita dipantulkan.
Tanpa sadar, banyak orang beriman kini lebih sibuk merawat persona digital ketimbang keheningan hati. Jala yang dahulu digunakan untuk menangkap ikan, kini berubah rupa menjadi feed, story, dan timeline—alat yang baik, tetapi bisa menjerat jika menggantikan panggilan terdalam sebagai murid Kristus.
Nabi Yesaya (Yes. 8:23b–9:3) berbicara tentang bangsa yang berjalan dalam kegelapan namun melihat Terang yang besar. Dalam konteks hari ini, kegelapan itu sering kali bukan kemiskinan materi, melainkan kesepian di tengah keramaian.
Banyak orang memiliki ratusan bahkan ribuan teman daring, namun kehilangan satu pun ruang aman untuk berbagi air mata. Layar kita terang, tetapi hati kita sering redup—lelah membandingkan hidup dengan standar semu yang diproduksi media sosial. Budaya flexing melahirkan kompetisi tanpa akhir, kecemasan sosial, dan perpecahan yang halus namun nyata.
Rasul Paulus, dalam 1 Korintus 1:10–13, memberikan teguran keras yang terasa sangat aktual. Jemaat Korintus terpecah karena mengidolakan figur-figur tertentu: Paulus, Apolos, atau Kefas. Hari ini, pola itu menjelma dalam bentuk baru—bukan lagi sekadar tokoh kerasulan, tetapi figur rohani, kelompok pelayanan, bahkan gaya pastoral tertentu.
Ketika di lingkungan Gereja masih terdengar bisik-bisik, “Saya tim Pastor A,” atau “Kelompok kami paling aktif dan berjasa,” sesungguhnya kita sedang mematikan sinyal Terang Kristus. Gereja bukan fans club, melainkan satu Tubuh Kristus yang dipanggil untuk seia sekata, sehati sepikir, dan satu frekuensi dalam kasih.
Injil Matius (Mat. 4:12–23) menegaskan bahwa Yesus memanggil para murid justru saat mereka sedang bekerja—di tengah rutinitas, jala, dan keringat hidup sehari-hari. Panggilan itu tidak menunggu kondisi ideal.

BACA JUGA : Kasus Perampokan di Kedungreja Disidangkan, Tak Ada Saksi yang Meringankan
Demikian pula hari ini, Yesus masuk ke ruang-ruang yang paling nyata: grup WhatsApp, linimasa Facebook, rapat kantor, sekolah, ladang, kebun, bisnis, dan ruang keluarga. Ia tidak memanggil kita keluar dari dunia digital, tetapi mengutus kita untuk menghadirkan Injil di dalamnya.
Menjadi “penjala manusia” di era digital berarti menggunakan pengaruh bukan untuk menjatuhkan, menyebar kebencian, atau memelihara dendam, melainkan untuk menarik sesama keluar dari lumpur keputusasaan menuju harapan.
Tiga Sikap Iman yang Mendesak.
Pertama, puasa digital dan penyaringan batin. Sebelum jempol menekan tombol share atau mengetik komentar, perlu ada jeda rohani: apakah ini memantulkan Terang Kristus atau hanya memamerkan ego? Stop flexing diri, mulailah membagikan harapan.
Kedua, kehadiran tanpa gawai. Di tengah budaya serba cepat, perhatian utuh menjadi bentuk kasih yang paling langka. Meletakkan ponsel saat makan bersama keluarga atau berbincang dengan sahabat adalah tindakan sederhana namun profetis—itulah cara konkret menjala manusia dengan kasih.
Ketiga, satu frekuensi dalam pelayanan dan kehidupan bersama. Keberhasilan orang lain bukan ancaman, melainkan kemenangan seluruh Tubuh Kristus. Mentalitas “siapa yang paling berjasa” perlu diganti dengan pertanyaan iman: “Apa yang bisa kita lakukan bersama?”
Stop Flexing, Start Shining.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang yang ingin tampil dan viral. Yang langka adalah mereka yang bersedia memantulkan cahaya Kristus dengan rendah hati dan konsisten. Kita dipanggil bukan untuk menjadi pusat perhatian, melainkan saksi Terang.
Saatnya meninggalkan jala egoisme, log out dari perpecahan, dan log in ke dalam persaudaraan sejati. Gereja dan umat beriman akan bersinar bukan karena kuatnya sinyal digital, melainkan karena kesatuan hati dalam Kristus.
Stop flexing. Start shining. Dalam satu frekuensi Kristus. Amin.*
Oleh: Petrus Salu, SVD
Alberto


Komentar Klik di Sini