BerandaPendidikanDari Kain Tradisional hingga Isu Stunting, Undana Tampil Berdampak di Hadapan Mendiktisaintek

Dari Kain Tradisional hingga Isu Stunting, Undana Tampil Berdampak di Hadapan Mendiktisaintek

KUPANG — METROPAGINEWS.COM || Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menjadi pusat perhatian nasional setelah mendapat kunjungan langsung dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda kerja Kementerian yang dimulai dari kawasan timur Indonesia, sekaligus menandai komitmennya untuk memahami lebih dalam kondisi serta tantangan perguruan tinggi di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), dengan Undana sebagai salah satu titik strategis pembangunan pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur.

 

 

Menteri Brian hadir bersama sejumlah tokoh penting, antara lain Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc, Anggota Komisi X DPR RI, Anita Jacoba Gah, serta Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Adrianus Amheka. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Rektor Undana, Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc., beserta jajaran pimpinan universitas. Dalam sambutannya, Rektor Undana menyampaikan sejumlah tantangan sekaligus pencapaian universitas yang kini menaungi sekitar 32 ribu mahasiswa.

 

IMG 20250417 WA0071

“Kami bersyukur, tahun lalu Undana mendapatkan jatah formasi PNS, ini sangat membantu mengatasi kekurangan tenaga pendidik. Namun, di sisi lain, kami masih menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah infrastruktur kampus yang pembangunannya terakhir dilakukan pada 2015 menggunakan dana APBN,” ungkap Prof. Maxs.

Ia juga menyoroti kondisi sosial ekonomi mahasiswa, di mana sekitar 30 persen mahasiswa Undana berasal dari kelompok UKT terendah, menandakan perlunya dukungan kebijakan afirmatif untuk mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Dalam konteks penerimaan mahasiswa baru, Rektor menjelaskan bahwa untuk jalur SNBT tahun ini diikuti sekitar 30 persen peserta, sedangkan SBMPTN dan jalur mandiri masih menunggu hasil seleksi.

Dengan mengusung tagline “Undana Berdampak”, Rektor menyatakan bahwa universitas terus berupaya menjadi institusi yang tidak hanya mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap pembangunan daerah, salah satunya lewat program penanganan stunting yang telah diimplementasikan di berbagai wilayah. “Kami juga menggandeng mitra swasta untuk mendukung kegiatan akademik dan pembangunan infrastruktur. Saat ini Undana telah berstatus BLU, namun masih menghadapi kendala seperti gedung-gedung mangkrak. Kami berkomitmen tidak menambah jumlah mahasiswa baru demi menjaga kualitas layanan pendidikan,” tegasnya.

Sebagai bagian dari upaya internasionalisasi, Undana juga secara aktif mengirimkan mahasiswa dan dosen ke luar negeri, seperti ke Thailand, Jepang, dan Filipina, guna meningkatkan kapasitas serta memperluas jejaring internasional.

Anggota Komisi X DPR RI, Anita Jacoba Gah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa saat ini parlemen tengah membahas perubahan anggaran pendidikan. Ia menegaskan tiga peran utama DPR RI, yakni legislasi, penganggaran, dan pengawasan, dengan harapan Undana mendapat perhatian lebih dalam distribusi anggaran nasional.

Sementara itu, Menteri Prof. Brian Yuliarto dalam sambutannya menyampaikan bahwa daerah seperti NTT memiliki peran strategis dalam menciptakan kemajuan wilayah sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan nasional. “Kami yakin banyak hal yang perlu dikembangkan dari kampus-kampus daerah. Justru kampus di daerah memegang peranan penting untuk membawa perubahan nyata bagi masyarakat sekitar,” ujar Menteri Brian.

Mendiktisaintek menekankan bahwa mulai 2 Mei mendatang, Kemdiktisaintek berencana akan meluncurkan tagline “Diktisaintek Berdampak”, sebuah semangat baru untuk memastikan bahwa seluruh insan pendidikan tinggi dapat memberikan kontribusi langsung, termasuk kampus di daerah terhadap kemajuan wilayah sekitarnya. Sebagai bagian dari strategi tersebut, Mendiktisaintek mengajak pemerintah daerah untuk bekerja sama dalam pelaksanaan program magang mahasiswa. “Kami ingin mahasiswa terjun langsung mempelajari permasalahan daerah, berinteraksi dengan pembuat kebijakan, bahkan mendampingi Kepala Daerah agar mendapatkan wawasan baru yang relevan sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi,” jelas Menteri Brian.

Menurutnya, kebijakan pendidikan tinggi harus menumbuhkan paradigma baru bahwa kampus tidak hanya sebagai pusat ilmu, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi daerah yang mempunyai dampak jelas. “Di negara maju, universitas dinilai dari seberapa besar dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Kampus adalah aset luar biasa dengan sumber daya manusia unggul yang harus dioptimalkan,” tutur Menteri Brian.

Mendiktisaintek menyampaikan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk menjadi negara maju adalah 8%. “Ini bukan hal kecil, tetapi kita harus memiliki ambisi, motivasi, dan penguasaan teknologi agar daya saing nasional meningkat. Tanpa sains dan teknologi, sulit untuk tumbuh cepat dan sejajar dengan negara maju,” harap Menteri Brian. Ia juga mengapresiasi antusiasme masyarakat terhadap program-program Kemdiktisaintek, seperti KIP Kuliah. “Ini investasi masa depan yang lebih berkelanjutan. Kami senang jika daerah juga mulai mengalokasikan KIP-K Daerah. Dukungan seperti ini sangat berarti,” katanya.

Menteri Prof. Brian Yuliarto juga mengapresiasi sambutan hangat dari civitas akademika Undana, termasuk pemberian beberapa lembar kain tradisional berpewarna alami. “Saya akan jahit semua kain ini menjadi pakaian. Ini bukan hanya oleh-oleh, tapi simbol kekayaan budaya dan identitas lokal yang harus kita banggakan,” ujarnya sambil tersenyum.

Dia menekankan pentingnya dunia kampus beradaptasi dengan percepatan sosial, ekonomi, dan perkembangan teknologi global. “Kita hadir di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Budaya ilmiah dan pemanfaatan teknologi di kampus adalah fondasi masa depan. Kita tidak bisa tertinggal,” tegas Menteri.

Menteri Brian mengajak mahasiswa untuk tetap mengingat peran dosen dalam perjalanan mereka. “Kampus juga merupakan ibu kandung kalian. Kalau sudah sukses, jangan lupa datang lagi ke kampus. Sapa Bapak Ibu Dosen yang telah membuat kalian berhasil. Sapa juga adik-adik di kampus agar turut berhasil seperti kalian nanti,” pesan Menteri Brian kepada mahasiswa/i yang hadir pada kesempatan tersebut.

Kunjungan ini diakhiri dengan dialog bersama pimpinan fakultas dan mahasiswa, yang menjadi forum penting untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, dan harapan tentang masa depan pendidikan tinggi di wilayah timur Indonesia.***

Reporter: Alberto L

Komentar Klik di Sini