BerandaBudayaDesamorfosis 2026: Puluhan Desa Tampilkan Keberagaman Wisata Unggulan Klaten

Desamorfosis 2026: Puluhan Desa Tampilkan Keberagaman Wisata Unggulan Klaten

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Desamorfosis 2026 berlangsung meriah di Lapangan Barepan, Cawas, Kabupaten Klaten pada 25–26 September 2026. Festival dua hari ini menampilkan 40 stan yang terdiri dari 31 desa wisata dan 9 UMKM, serta rangkaian kegiatan pendukung seperti pertunjukan seni, demo kuliner, dan sesi informasi pengembangan desa wisata. Pembukaan resmi dilakukan oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, yang menegaskan pentingnya sinergi seluruh pihak untuk mengembangkan potensi pariwisata daerah (26/09/2026).

Festival mengusung tema “Klaten Desamorfosis”, sebuah metafora perubahan desa rintisan menjadi desa wisata yang lebih maju dan berkelanjutan. Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Klaten, Titin Windiyarsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Dunia sekaligus memperkenalkan produk desa wisata yang telah mendapat pengakuan resmi. Menurut Titin, festival bertujuan mendorong peningkatan kualitas destinasi, menggiatkan event pariwisata, serta memperkuat pemasaran produk lokal.

IMG 20260926 155738

Dalam pernyataannya Titin Windiyarsih menyatakan, “Tujuannya memperkenalkan potensi produk desa wisata yang telah mendapat surat keputusan menjadi desa wisata. Kemudian mendorong desa untuk menjadi desa wisata yang berkualitas, serta menggiatkan event pariwisata.” tegasnya

Keberagaman potensi yang dipamerkan menjadi daya tarik utama Desamorfosis 2026, dimana stan-stan desa menampilkan berbagai jenis wisata yang mencerminkan karakter dan kekayaan masing-masing komunitas, mulai dari pengembangan wisata air seperti sungai, embung, dan kolam yang difungsikan sebagai lokasi rekreasi sekaligus edukasi lingkungan, wisata pegunungan dan alam dengan panorama perbukitan, jalur treking, dan spot fotografi, wisata budaya dan kesenian yang menonjolkan pertunjukan wayang, tari tradisional, serta kerajinan tangan sebagai upaya pelestarian warisan lokal, wisata sejarah yang mengelola situs dan cagar budaya menjadi daya tarik edukatif, hingga wisata kuliner yang dipadu dengan peran UMKM menampilkan makanan khas, oleh-oleh, dan produk kerajinan berbahan lokal, interaksi langsung antara pelaku UMKM dan pengunjung diharapkan membuka peluang pemasaran baru, meningkatkan penjualan, dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di desa.

Pada saat pembukaan kegiatan desamorfosis 25 September 2026, Bupati Hamenang Wajar Ismoyo turut menekankan bahwa pengembangan pariwisata harus dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah, masyarakat desa, dan pelaku usaha. “Maka sudah sepatutnya, sepantasnya bersama-sama kita bergandengan tangan untuk kemudian bisa mengembangkan pariwisata di Kabupaten Klaten,” ujar Bupati Hamenang. Ia menambahkan bahwa Klaten memiliki beragam potensi wisata yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rekreasi, edukasi, dan ekonomi tanpa harus meninggalkan kabupaten.

Bupati juga menyoroti dampak ekonomi yang diharapkan dari geliat pariwisata desa, peningkatan kunjungan wisatawan, penyerapan tenaga kerja lokal, dan perputaran ekonomi di tingkat desa. Dengan paket wisata yang lengkap, rekreasi, edukasi, dan oleh-oleh, wisatawan diharapkan menghabiskan waktu lebih lama sehingga kontribusi ekonomi menjadi lebih signifikan.

Disbudporapar juga menempatkan aspek pembinaan sebagai agenda penting pasca-festival. Titin menyampaikan rencana pendampingan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, pengelolaan destinasi, dan strategi pemasaran digital. Festival menjadi ajang berbagi praktik terbaik antar-desa, termasuk pengelolaan sampah, standar keselamatan wisata, dan pengembangan paket wisata tematik.

Titin menegaskan bahwa kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran, “Festival ini menjadi ajang berbagi praktik terbaik antar-desa, termasuk pengelolaan sampah, standar keselamatan wisata, dan pengembangan paket wisata tematik.” ungkapnya

Meskipun berjalan sukses, penyelenggara mencatat ada beberapa desa yang belum dapat berpartisipasi. Titin menyebutkan bahwa sebenarnya terdapat 40 desa wisata yang terdaftar, namun 9 desa berhalangan hadir karena kendala internal. Pihak dinas berkomitmen melakukan pendampingan agar pada penyelenggaraan berikutnya seluruh desa yang telah ditetapkan dapat tampil dan merasakan manfaat promosi serta jejaring.

Pemilihan lokasi di Cawas, tepatnya Lapangan Barepan, dipandang strategis karena aksesibilitas yang baik dan kapasitas menampung pengunjung dari berbagai daerah. Kehadiran pengunjung dari Sukoharjo, Gunungkidul, dan wilayah sekitarnya membuka peluang jejaring antar-pelaku wisata dan kolaborasi lintas daerah.

Desamorfosis 2026 memperlihatkan bahwa Klaten memiliki modal besar dalam pengembangan pariwisata berbasis desa, kekayaan alam, tradisi budaya, dan produk lokal yang beragam. Keberhasilan jangka panjang bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha serta konsistensi program pembinaan dan pemasaran. Pesan Bupati Hamenang agar semua pihak bergandengan tangan menjadi pengingat bahwa pariwisata desa bukan sekadar atraksi, melainkan upaya kolektif untuk membangun kesejahteraan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

( Pitut Saputra )