BerandaPELAYANAN MASYARAKATDi Balik Jeruji Besi: AG Raih Kebebasan Dan Gerobak Usaha, Bukti Lapas...

Di Balik Jeruji Besi: AG Raih Kebebasan Dan Gerobak Usaha, Bukti Lapas Klaten Tak Sekadar Menakutkan

KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Momen haru AG dapat bebas bersyarat dan bantuan gerobak di HBP ke-62. Kisah inspiratif bukti Lapas Klaten bukan tempat menakutkan, melainkan wadah pembinaan dan perubahan positif.Selasa (28/4/2026)

 

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) seringkali hanya dianggap sebagai tempat yang menakutkan, penuh tembok tinggi dan jeruji besi. Namun, bagi mereka yang pernah merasakan proses di dalamnya, tempat ini justru menjadi sekolah kehidupan untuk kembali menemukan jalan, jati diri, dan kesadaran baru.

 

Bagi sebagian orang, masa tahanan menjadi momen refleksi mendalam untuk menyesali kesalahan. Bagi yang lain, tempat ini menjadi wadah pembelajaran yang nyaman hingga enggan berpisah, dan tak sedikit pula yang pulang membawa bekal keterampilan untuk mandiri.

20260429 191006 0000

Itulah yang dialami oleh AG, salah satu warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Klaten. Bertepatan dengan peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62, Senin (27/04/2026), hidupnya berubah menjadi hari yang penuh makna dan tak terlupakan.

 

Di hari yang istimewa itu, AG resmi mendapatkan hak Bebas Bersyarat. Pria yang awalnya divonis 9 tahun 3 bulan penjara ini, berhasil menyelesaikan masa pembinaannya dengan baik. Setelah menjalani pidana selama 4 tahun 7 bulan dan mendapatkan total remisi sebanyak 20 bulan, akhirnya ia pun bisa melangkah keluar sebagai orang bebas.

20260429 190813 0000

Namun kejutan tidak berhenti di situ. Bersamaan dengan pembebasannya, AG juga dipercaya menerima bantuan satu unit gerobak dan seperangkat alat usaha lengkap dari pihak Lapas Kelas IIB Klaten.

 

Air Mata Haru dan Kesadaran Baru

Matanya berkaca-kaca saat menceritakan perasaannya. AG mengaku tidak menyangka akan mendapatkan perhatian sebesar itu. Baginya, momen ini adalah bukti nyata bahwa Lapas jauh lebih manusiawi dan tidak seburuk apa yang ia bayangkan sebelumnya.

“Tembok tinggi dan jeruji besi ini justru yang menyadarkan saya. Pembinaan yang diberikan Lapas bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar menyentuh hati. Kesadaran untuk berubah mulai tumbuh dari bimbingan, pendekatan personal, dan arahan yang diberikan para petugas,” ujar AG dengan suara bergetar.

Desain tanpa judul 20260429 191348 0000

Kisah hidup AG pun turut menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya. Sejak kecil, ia sudah tidak memiliki orang tua dan hanya hidup berdua bersama kakaknya. Kebebasan hari ini bukan hanya dinanti oleh dirinya sendiri, tetapi juga menjadi momen paling membahagiakan bagi sang kakak yang selama ini setia menunggu dan mendukung.

“Saya dan kakak hanya berdua sejak ditinggal orang tua. Kasih sayangnya sangat besar kepada saya. Hari ini adalah bukti bahwa saya tidak sendiri, negara dan keluarga masih peduli,” tambahnya.

 

Bantuan Sebagai Wujud Kepedulian Negara

Menanggapi pemberian bantuan tersebut, Kepala Seksi Kegiatan Kerja dan Latihan Kerja Produksi (KPLP) Lapas Kelas IIB Klaten, Taufik Rahmadi, menjelaskan bahwa ini adalah bentuk nyata dari arahan dan komitmen institusi.

“Pemberian bantuan berupa gerobak ini merupakan tindak lanjut dari program pembinaan kemandirian. AG ini adalah warga binaan yang sangat aktif, sering membantu petugas dalam kegiatan sehari-hari terutama di bagian pembinaan, dan domisilinya pun ada di Klaten, sehingga sangat memungkinkan untuk dikembangkan potensinya,” jelas Taufik.

 

Lebih jauh disampaikan bahwa bantuan ini bukan sekadar hadiah, melainkan representasi dari kepedulian negara kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sedang atau telah menjalani proses hukum.

“Negara hadir tidak untuk menghukum selamanya, tapi untuk memulihkan dan memberdayakan. Kami berharap bantuan ini menjadi modal awal yang kuat bagi AG untuk bangkit, bekerja keras, dan menjadi warga yang berguna,” pungkasnya.

 

Kisah AG kembali membuktikan bahwa di balik keseraman tembok penjara, tersimpan proses pembinaan yang hangat, penuh perhatian, dan selalu membuka peluang bagi siapa saja yang ingin berubah menjadi lebih baik.

“Lapas hadir bukan untuk memutus asa, melainkan menjembatani perubahan. Setiap individu berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk bangkit, mandiri, dan kembali bermasyarakat dengan kepala tegak.” pungkasnya.

 

 

 

( Desi )

Komentar Klik di Sini