KLATEN – METROPAGINEWS .COM || Upacara piodalan Candi Untoroyono ke-19 di Klaten berlangsung meriah dengan ratusan umat Hindu dan kehadiran tokoh dermawan seperti H .Didik Haryadi ST.SH.MH seorang pengusaha dan juga anggota DPR RI menegaskan pentingnya toleransi beragama sebagai wujud Bhineka Tunggal Ika. Acara menjadi simbol persatuan di tengah keragaman budaya Jawa Tengah.Sabtu (20/12/25)
Suasana Candi Untoroyono di Dukuh Nayan, Desa Kalangan, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, terisi kehangatan dan kesakralan pada Jumat (19/12/2025). Upacara piodalan dan mecaru yang diadakan setiap tahun sekali berlangsung dengan khidmat, disertai oleh ratusan umat Hindu yang datang dari berbagai daerah menjadikan acara ini tidak hanya ritual keagamaan, tapi juga pesta persatuan yang memukau.

Keistimewaan tahun ini, acara piodalan bertepatan dengan hari jadi Candi Untoroyono yang ke-19 sebuah momen yang menggabungkan keagamaan, sejarah, dan semangat gotong royong. Candi yang kini dijadikan pura bagi umat Hindu di kawasan tersebut menjadi saksi bisu bagaimana tradisi Bali dapat bertumbuh dan berkembang harmonis di tengah lingkungan budaya Jawa Tengah yang kaya, khususnya di Kabupaten Klaten yang dikenal dengan keragaman budayanya.
“Wujudnya, piodalan adalah hari ulang tahun dewa-dewa atau pura yang kita junjung tinggi,” ungkap Wihisnu ketua PHDI Jawa Tengah.
a menjelaskan asal kata “piodalan” yang berasal dari “pi” (hari) dan “odalan” (ulang tahun). Upacara ini, lanjutnya, bertujuan untuk menghormati dewa-dewa pelindungi desa dan sawah, sekaligus memohon keselamatan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Klaten.
Serangkaian ritual yang indah menyelimuti piodalan, antara lain:
– Membawa sesajen (persembahan) yang dihiasi dengan kehalusan tangan, penuh makna simbolis ke pura
– Melakukan puja (doa) dan sembahyang yang khidmat, mengirimkan harapan dan syukur
– Mengadakan tarian dan musik tradisional yang merdu, menghidupkan suasana dengan keindahan budaya
– Membagikan makanan dan minuman kepada masyarakat, mencerminkan semangat gotong royong dan kasih sayang
Tujuan mendasar piodalan melampaui sekadar ritual:
– Menghormati dewa-dewa dan pura sebagai tuan rumah alam dan kehidupan
– Memohon keselamatan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat
– Mengjaga keseimbangan alam dan masyarakat, menciptakan harmoni antara manusia dan lingkungannya
– Meningkatkan kesadaran spiritual dan keimanan, memperkuat hubungan batin setiap individu
Selama acara, serangkaian ritual indah menyelimuti tempat suci. Umat membawa sesajen yang dihiasi dengan kehalusan tangan, penuh simbolisme spiritual. Lantunan puja dan sembahyang khidmat bercampur dengan nada musik tradisional yang merdu, sementara penari memamerkan gerakan yang megah semua itu menciptakan suasana yang penuh keindahan dan kedamaian. Tidak ketinggalan, semangat gotong royong terlihat ketika makanan dan minuman dibagikan kepada semua hadirin, tanpa memandang latar belakang agama atau suku.

Kesakralan acara semakin terasa dengan kehadiran empat pandita berwibawa dari Bali dan Jawa Timur, antara lain
1. Ida Pandhita Mpu Nabe Dharmika Sandi Kerta Satwika, Denpasar, Bali
2. Ida Pandhita Mpu Nabe Dharmika Sandhi Kertajaya, Basongan, Kediri
3. Ida Pandhita Shri Bhagawan Cakra Nata Brahmanda Utama, Kayu Putih, Banjar, Buleleng, Bali
4. Ida Pandhita Mpu Dharmika Satwika Santi, Griya Anom Sari, Denpasar Utara
Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa tradisi Hindu tidak terbatas pada wilayah, melainkan menyebar sebagai ikatan spiritual yang kuat yang memperkuat toleransi antar daerah.

Tidak hanya umat dan pandita, acara ini juga dihormati oleh tokoh masyarakat dan kepemerintahan, termasuk utusan Bupati Klaten serta Anggota DPR RI H. Didik Haryadi ST., SH., MH. (Komisi XI, Fraksi PDI-P, Dapil V). Sosok Didik menjadi sorotan karena peran pentingnya dalam melestarikan Candi Untoroyono melalui pemeliharaan dan dukungan finansial pribadi, ia menunjukkan wujud nyata penghormatan terhadap keberagaman agama di Kabupaten Klaten.
“Toleransi beragama bukan hanya kata-kata, tapi harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di Kabupaten Klaten, kita lihat betapa indahnya ketika umat Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu hidup berdampingan, saling membantu, tanpa ada rasa berbeda. Ini adalah jiwa dari Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi landasan Pancasila kita,” ujar Didik dengan semangat yang terasa dalam suaranya. Ia menambahkan, “Kebetulan saat itu ada beberapa bagian pura yang perlu direnovasi jadi apa salahnya jika kita saling membantu? Persatuan itu tumbuh dari tindakan kecil yang penuh kepedulian, dan itu yang membuat Klaten menjadi tempat yang harmonis.”
Didik juga menekankan, “Setiap agama mengajarkan kasih sayang dan kebaikan. Kita tidak boleh membedakan orang berdasarkan agama mereka semua adalah saudara sebangsa yang hidup di bumi yang sama. Candi Untoroyono harus menjadi simbol itu: tempat di mana tradisi bertemu, dan toleransi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,”ucapnya
Acara yang berlangsung seharian itu tidak hanya sukses memeriahkan piodalan, tapi juga membuktikan bahwa di tengah perbedaan budaya dan agama, masyarakat Kabupaten Klaten bahkan Indonesia mampu hidup berdampingan dengan harmoni, penuh kasih sayang, dan rasa hormat satu sama lain. Candi Untoroyono, yang kini menjadi saksi persatuan, semakin menjadi simbol keindahan tradisi yang abadi dan nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika.
( Desi )


Komentar Klik di Sini