BANYUWANGI – METROPAGINEWS.COM II Keberadaan bangunan Candi Manggala yang terletak di Dusun Sidorejo, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran bentuknya mirip seperti di Borobudur yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra, Selasa (13/1). Candi
Candi Manggala letaknya berada di belakang Wihara Dhamma Harja. Berdiri diatas lahan seluas kurang-lebih 1 (satu ) hektar.
Keberadaan bangunan Candi Manggala merupakan bangunan candi di era modern yang dikerjakan oleh tukang dan pemahat batu profesional berasal daerah Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan wilayah Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Begitupula bahan yang digunakan untuk pembuatan Candi Manggala berasal dari kedua wilayah itu. baik bangunan utama maupun sejumlah patung Budhha.
Candi Manggala ini tak bisa dipisahkan dari lembaran perjalanan panjang usia Wihara Dhamma Harja dan Dibangunnya candi juga erat kaitannya dari sejarah kampung tersebut.
Bangunan Candi Manggala dimulai sejak bulan Januari 2022 lalu.
Sebagaimana cerita tutur dan catatan sejarah, kampung Sidorejo dikenal luas oleh masyarakat sekitar dengan sebutan kampung “Candi”. Akan tetapi tak ada satupun keberadaan bangunan candi yang ditemukan dan berdiri disana.
” Warga sekitar di Dusun Sidorejo dikenal dengan sebutan Candi, sebutan kampung itu akhirnya diwujudkan dengan pembuatan candi yang sekarang ini dinamai Candi Manggala ,”Ungkap sejumlah warga masyarakat Sidorejo, Desa Yosomulyo.
Asal muasal kampung candi itu sejatinya bukan karena adanya Candi melainkan dari nama seorang tokoh atau sesepuh yang dulunya membabat alas untuk dijadikan hunian. Nama sesepuh itu dijadikan tetenger kampung oleh masyarakat hingga sekarang ini. Makamnya (sesepuh Candi) itu berada dibawah pohon beringin dekat pematang sawah yang letaknya tak jauh dari wihara Dhamma Harja dan juga disebutkan tempat tersebut sebagai petilasan Raja Macanapura.
Mengenai total luas bangunan candi utama 5 × 5 meter persegi dan tinggi 7 meter. Jika ditambah bangunan pagar, luasan keseluruhan Candi Manggala seluas 15 meter persegi.
Selain itu, Candi Manggala terdapat patung naga beda bentuk di tiap arah mata angin. Patung naga ada empat versi. Yang menghadap ke selatan dengan tujuh kepala naga itu versi Thailand. Terus yang menghadap ke timur itu versi Tiongkok. Menghadap ke arah barat itu versi Bali dan Utara itu versi Jawa.
Pembuatan patung tersebut untuk memberikan nuansa berbeda pada setiap pintu masuk candi. Dari makna dari perwujudan naga sendiri dalam ajaran Buddha adalah sewaktu Sidharta Gautama melakukan meditasi setelah tujuh hari mencapai pencerahan. Ketika meditasi itu datang naga untuk melindungi Budha Gautama dari terpaan hujan lebat. Untuk cerita itu diterjemahkan beragam di masing-masing negara. Maka, bentuk naga di setiap negara itu berbeda-beda. Ada yang versi Thailand, India, Srilanka dan Indonesia.
Candi Manggala sekarang ini ramai dikunjungi dan sudah digunakan untuk kegiatan peribadatan dan peringatan hari besar Agama Buddha. Terakhir, digunakan untuk upacara Asadha pada bulan Agustus 2024 lalu.
Selain umat Budha, pelataran candi juga sering digunakan acara pertemuan maupun kegiatan pemuda kampung. Termasuk dari warga non agama Buddha. Dipusatkan di Balai Kebajikan berada tepat di selatan Candi Manggala.
Kumpul-kumpul itu bagian dari kegiatan rutin di kampung sekitar wihara. Perbedaan itu bukan menjadi penghalang bagi warga setempat.
Desa Yosomulyo dikenal sebagai Desa Moderasi yang terdiri dari beragam pemeluk agama. Bahkan dijuluki miniaturnya Indonesia karena beragamnya pemeluk agama yang tinggal di desa ini.
Melalui pembangunan Candi Manggala berharap umat Budha itu semakin mengenal ajaran Budha dengan lebih mudah dan bisa mempraktekkan di rumah. Terlebih lagi setiap kajian dan ceramah yang digelar selalu mengundang hadirkan penceramah dari luar Kabupaten Banyuwangi.
(Tyo)


Komentar Klik di Sini