KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Festival Mbok Sri ke-9 Delanggu 2026 Njeng Sunan pimpin Umbul Donga untuk kedua kalinya. 20 tahun konsisten, Kyai Hartoto Kusnin selaraskan doa petani, tanah & pangan. FMS 25-27 Sep: ritual, diskusi pertanian, budaya & kolaborasi seniman. Senin (5/10)
Kembali hadir sebagai napas dan ruh keagungan doa. Komunitas legendaris Njeng Sunan untuk kedua kalinya mengisi keberkahan dalam Festival Mbok Sri (FMS) ke-9 yang digelar di Delanggu, Klaten.
Festival tahunan yang tak terpisahkan dari kebanggaan Beras Rojolele ini berlangsung selama tiga hari penuh 25, 26, dan 27 September 2026, bertepatan sehari setelah peringatan Hari Tani Nasional 24 September. Tahun ini FMS hadir berbeda: lebih menitikberatkan pada persoalan, harapan, dan masa depan pertanian serta agraris di Delanggu.

Njeng Sunan: Penuntun Doa yang Selalu Hadir
Seperti halnya di Grebek Apem Sewu, kehadiran Njeng Sunan yang dipimpin Kyai Hartoto Kusnin menjadi jantung penyelarasan spiritual festival. Ia bukan sekadar pelengkap acara melainkan perwakilan doa tulus dari seluruh warga.
Kiprah Njeng Sunan kini telah menginjak 20 tahun. Dua puluh tahun konsisten, setia, tak pernah lelah mengedepankan penghormatan kepada alam sebagai wujud rasa syukur. Melalui dzikir, sholawat, dan tembang macapat, mereka membawakan harapan agar tanah Delanggu senantiasa diberi kemakmuran, kelancaran, dan keberkahan yang melimpah.
“Kami hadir untuk menyelaraskan doa manusia dengan alam petani dengan tanah, benih dengan air, usaha dengan hasil. Semoga Rojolele terus lestari,” demikian semangat yang dibawa.
Ritual & Kegiatan: Menghidupkan Kembali Ikatan yang Hampir Pudar
Gagasan menjaga pertanian dan kemanusiaan diwujudkan dalam rangkaian kegiatan yang menyentuh akar sekaligus membuka masa depan:

Ritual Penyelarasan:
– Umbul Donga doa bersama pemimpin Njeng Sunan
– Kirab Mbok Sri mengarak simbol kesuburan dan pangan
– Wiwitan memohon restu sebelum menanam/memanen
Pembelajaran & Ekonomi Warga:
– Jagongan Tani berbagi pengalaman dan solusi pertanian
– Pemutaran Film Dokumenter hasil karya warga
Pasar Mbok Sri mempromosikan hasil bumi dan kerajinan
– Loopen de Delanggu & Panggung Hiburan Rakyat kolaborasi seniman janthur, karawitan, dan seniman asal Austria
Semua dirancang agar budaya tak hanya diingat, tetapi dihidupi tanpa kehilangan akar, namun terbuka pada kemungkinan baru.
Dua puluh tahun Njeng Sunan hadir, dua kali memimpin doa di Festival Mbok Sri. Kesetiaan ini mengingatkan: pangan bukan sekadar hasil kerja tangan, melainkan buah doa, keselarasan, dan rasa hormat kepada tanah yang memberi kehidupan. Semoga semangat FMS ke-9 ini tumbuh menjadi kekuatan agar petani dihargai, tanah dijaga, dan Rojolele tetap menjadi kebanggaan yang tak lekang oleh waktu.
Reporter: Tim Liputan METROPAGINEWS.COM
Editor: Desi Apriani



Komentar Klik di Sini