KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Kirab bendera, Umbul Donga, dan Doa Bersama Njeng Sunan buka langkah menghidupkan kembali Pasar Lama Jatinom kembali ber nyawa. Kyai Hartoto Husnin: kita rindu suasana pasar yang dulu penuh kehidupan. Malam harinya pasar hidup kembali dengan nuansa masa lalu yang dirindukan warga. Kamis (22/10)
Semangat kebersamaan dan kepedulian warga Kelurahan Jatinom membuahkan hasil. Pada Sabtu (17/10/2026), suasana di kawasan Pasar Lama Jatinom berubah jauh dari biasanya. Ratusan warga berkumpul meriah dalam rangkaian kegiatan bertajuk “Pasar Ilang Kumandange” sebuah upaya tulus untuk menghidupkan kembali pasar lawas yang sekian lama mati suri.

Kegiatan dimulai sejak siang hari dengan Kirab Bendera Merah Putih yang membentang sepanjang 200 meter, diikuti kegiatan Umbul Donga sebagai bentuk keprihatinan warga melihat kondisi pasar yang semakin sepi.
Malam Semakin Hidup, Suasana Masa Lalu Kembali Terasa
Saat malam tiba, kawasan Pasar Lama Jatinom semakin meriah dan hidup. Lapak-lapak yang sebelumnya sepi kini terisi rapi dengan aneka ragam kuliner, mulai dari jajanan tradisional yang khas hingga hidangan modern yang digemari. Aroma masakan yang tercium, suara tawar-menawar yang ramah, dan keramaian pengunjung seketika menghadirkan suasana yang lama tak dirasakan.
Nuansa seolah kembali ke era yang telah berlalu. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk sekadar berbelanja atau jajan, tetapi ada yang sengaja hadir untuk mengenang kembali masa lalu. Di sana-sini tampak senyum bahagia warga yang seolah pulang ke rumah sendiri.

Tak hanya kuliner, pengunjung juga disuguhi kehadiran para pemeran seni yang menampilkan pertunjukan khas daerah. Ada pula penjual barang-barang langka dan barang bekas yang menyimpan cerita masa lalu, menambah kesan istimewa pada malam itu. Barang antik, pernak-pernik kuno, dan benda-benda yang jarang ditemui di tempat lain menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang mencari kenangan.

Doa Bersama Njeng Sunan: Nemahi Jaman Edan Ora Edan, Ora Keduman
Di tengah kehangatan suasana tersebut, Njeng Sunan hadir membawa pesan dan harapan yang mendalam. Malam berlangsung khidmat saat digelar Doa Bersama Njeng Sunan, diisi dengan pembacaan sholawat, mocopat, dan doa bersama sebuah usaha menyelaraskan hubungan alam, manusia, dan kehidupan, dengan harapan nilai-nilai luhur kembali tumbuh membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat Jatinom.
Njeng Sunan mengusung tema “Pasar Ilang Kumandange” dengan pesan bijak: “Nemahi jaman edan ora edan, ora keduman” menghadapi zaman yang gila dengan tidak ikut gila, sehingga tidak ikut tertelan zaman. Filosofi ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus perubahan yang terus bergerak, ada nilai-nilai luhur yang harus tetap dijaga agar tidak hilang terbawa waktu.
Kyai Hartoto Husnin, pendiri Njeng Sunan yang juga merupakan putra asli Jatinom, menyampaikan kegundahan hatinya di hadapan warga. Baginya, melihat Pasar Lama Jatinom yang sepi terasa seperti ada bagian dari tanah kelahirannya yang hilang.
“Banyak yang berubah, banyak yang hilang. Hanya ingatan masa lalu yang masih melekat,” ungkap Kyai Hartoto dengan nada haru.
Pasar Lama Jatinom memang menyimpan kenangan yang tak tergantikan. Dahulu, di sinilah pusat pertemuan pedagang dan pembeli, tempat setiap pasaran Legi sudah tak bisa dilewati karena penuh sesak. Kini, kehadiran Pasar Gabus dan Pasar Klitikan membuat keberadaannya semakin terpinggirkan. Lapak-lapak yang dulu riuh, kini banyak yang kosong.
Dari keprihatinan itulah, Kyai Hartoto bersama lurah pasar dan seluruh elemen masyarakat berkolaborasi mengajak warga bergerak. Bukan sekadar bernostalgia, tetapi berdoa dan bekerja bersama agar denyut kehidupan di pasar ini bisa kembali terasa.

Langkah Baru Tanpa Kehilangan Jiwa Lama
Joko Suranto, salah satu penggagas kegiatan, menyampaikan rencana ke depan. Pasar Lama Jatinom akan dihidupkan kembali sebagai pusat kuliner tradisional yang buka setiap hari, sementara pada Sabtu malam hingga Minggu pagi akan diisi acara musik dan kesenian. Nantinya juga akan disiapkan panggung kesenian agar anak-anak muda bisa mengenal budaya, keroncong, dan permainan tradisional.
Joko Winarno, warga pendatang yang juga terlibat dalam kegiatan ini, mengungkapkan persiapan hanya dilakukan dalam waktu 10 hari. “Awalnya tidak ada konsep sama sekali. Alhamdulillah kita dipertemukan dengan orang-orang yang terpanggil untuk meramaikan pasar ini,” ujarnya.
Sumedi, Lurah Pasar Jatinom, menyampaikan terima kasih dan apresiasinya. Lapak yang disiapkan adalah tempat-tempat yang memang sudah lama kosong, sehingga tidak mengganggu pedagang yang sudah ada. “Kita ajak warga kembali memanfaatkan ruang pasar ini dengan guyub rukun,” katanya.
Camat Jatinom dan Kepala Desa Jatinom yang hadir pun sangat mengapresiasi langkah warga ini. Antusiasme warga sungguh luar biasa bahkan mereka yang sempat ragu pun akhirnya ikut terlibat dan merasa terharu.
Harapan sederhana namun kuat terucap dari hati warga: semoga Pasar Lawas Jatinom benar-benar hidup kembali bukan sekadar tempat jual beli, tetapi rumah bersama yang selalu dirindukan, tempat berdagang, berkumpul, dan bernostalgia bersama.
( Desi )



Komentar Klik di Sini