BerandaUncategorized“Kegagalan” yang Diberkati: Ketika Tuhan Tidak Memihak Orang Hebat

“Kegagalan” yang Diberkati: Ketika Tuhan Tidak Memihak Orang Hebat

Oleh: Petrus Salu, SVD
Kefa, 1 Februari 2026
OPINI — METROPAGINEWS.COM || Zaman ini tampaknya tidak ramah bagi orang lemah. Dunia bergerak cepat dengan satu ukuran tunggal: siapa paling berhasil, paling terlihat, dan paling berpengaruh. Kegagalan

Media sosial menjadi etalase besar tempat manusia berlomba memamerkan pencapaian, kekayaan, dan kesuksesan. Kegagalan disembunyikan, air mata diedit, dan luka diberi filter. Dalam budaya semacam ini, menjadi biasa-biasa saja terasa seperti dosa, sementara menjadi lemah dianggap aib yang harus ditutupi.

Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia yang memuja kehebatan itu, Injil hari ini justru menghadirkan suara yang asing sekaligus menampar kesadaran kita. Yesus tidak berbicara dari panggung megah atau mimbar kekuasaan. Ia naik ke atas bukit, duduk, dan mulai mengajar.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut-Nya bukan pujian bagi mereka yang berhasil menaklukkan dunia, melainkan sebuah pernyataan radikal: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.” Sabda ini bukan romantisasi kemiskinan, melainkan pembongkaran total terhadap logika dunia.

Sabda Tuhan hari ini terasa sangat dekat dengan realitas hidup banyak orang kecil—mereka yang bekerja keras namun tetap terseok, mereka yang setia tetapi jarang diapresiasi, mereka yang hidup jujur tetapi sering tersingkir. Dalam terang bacaan Kitab Suci, justru kepada merekalah Tuhan sedang berbicara dan memulihkan martabat yang dirampas oleh sistem dunia yang kejam.

Nabi Zefanya (2:3; 3:12–13) menampilkan wajah Allah yang konsisten memihak yang lemah. Allah berjanji akan menyisakan suatu umat yang rendah hati dan bersahaja, umat yang tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan sepenuhnya berharap pada Tuhan.

Mereka dikenal sebagai Anawim—orang-orang kecil yang tidak punya kuasa, modal, atau pengaruh, tetapi memiliki satu hal yang paling mendasar: kepercayaan total kepada Allah. Dalam dunia yang gemar menyingkirkan yang rapuh, Tuhan justru menjadikannya pusat rencana keselamatan. Allah mencari hati yang retak, sebab hanya hati seperti itulah yang terbuka bagi cahaya-Nya.

Rasul Paulus, dalam Surat Pertama kepada Jemaat Korintus (1Kor. 1:26–32), melanjutkan logika ilahi yang mengejutkan ini. Ia dengan jujur mengingatkan jemaat bahwa tidak banyak dari mereka yang bijak, terpandang, atau berpengaruh menurut ukuran dunia.

Namun justru melalui mereka itulah Allah berkarya. Allah dengan sengaja memilih yang bodoh untuk mempermalukan yang bijaksana, yang lemah untuk mempermalukan yang kuat.

Strategi Allah ini menampar kesombongan manusia modern yang gemar membangun menara ego. Di hadapan Allah, tidak ada ruang untuk membusungkan dada. Kelemahan bukan kegagalan rohani, melainkan pintu masuk rahmat.

Injil Matius (5:1–12a) menjadi puncak pesan Sabda hari ini. “Miskin di hadapan Allah” bukan sekadar soal tidak memiliki harta, tetapi sikap batin yang bebas dari keterikatan pada ego, status, dan citra diri. Orang yang merasa dirinya sudah cukup, sudah benar, dan sudah hebat, sering kali justru tertutup terhadap suara Tuhan.

Sebaliknya, orang yang miskin di hadapan Allah adalah pribadi yang sadar bahwa dirinya membutuhkan rahmat setiap hari. Ia seperti gelas kosong yang selalu siap diisi kembali. Dari sikap inilah lahir kebebasan sejati—bebas dari keharusan untuk selalu tampak hebat di mata sesama. Sabda Tuhan ini sekaligus menjadi kompas bagi umat yang sedang berziarah di dunia yang fana dan penuh tekanan.

Pertama, Sabda ini mengajak kita berhenti membandingkan hidup. Allah tidak pernah memanggil manusia untuk menjadi replika kesuksesan orang lain. Ia memanggil setiap pribadi untuk setia pada jalan hidupnya sendiri, dengan segala keterbatasan dan salib kecil yang menyertainya.

Kedua, Sabda ini mengundang kita memiliki hati yang tembus cahaya—jujur, tulus, dan tidak penuh kepura-puraan—agar kehadiran kita menjadi ruang aman bagi mereka yang terluka.

Ketiga, Sabda ini menuntun kita menjadikan kelemahan sebagai doa. Saat gagal mendidik anak, gagal membangun usaha, atau gagal setia dalam relasi, kita diajak berkata dengan rendah hati: “Tuhan, aku kosong, silakan Engkau bekerja.” Di titik inilah kuasa Allah sering kali dinyatakan secara nyata.

Keempat, Sabda ini menegaskan pentingnya kesetiaan dalam kebaikan-kebaikan kecil, sebab di hadapan Allah, kebaikan sederhana memiliki nilai kekal yang tidak bisa diukur dengan standar dunia.

Pada akhirnya, Injil hari ini meneguhkan satu kebenaran yang sering kita lupakan: Tuhan tidak alergi pada kegagalan, tetapi Ia menolak kesombongan. Dunia mungkin menyebut kemiskinan dan kelemahan sebagai kutukan, tetapi Kristus menyebutnya jalan menuju Kerajaan Allah.

Dalam kemiskinan hati, Allah berdiam. Dalam kelemahan, kuasa-Nya menjadi sempurna.
Kita tidak harus menjadi raksasa untuk menerangi dunia. Lilin kecil yang setia menyala dalam gelap jauh lebih bermakna daripada matahari besar yang hanya hidup dalam ilusi. Di mata Tuhan, manusia berharga bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan karena kepada siapa ia bersandar.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.*

Alberto

Komentar Klik di Sini