BerandaDaerahKenapa Gebyar Bumiayu Fair (GBF) Masih Bertahan? (Bagian 1)

Kenapa Gebyar Bumiayu Fair (GBF) Masih Bertahan? (Bagian 1)

BREBES – METROPAGINEWS.COM || Agus Sutiono. Ketua Aliansi Perjuangan Pemekaran Kabupaten Brebes.

Antropolog, Clifford Geertz, mengatakan bahwa kebutuhan manusia tidak hanya di tentukan oleh kebutuhan material, manusia hidup melalui simbol, makna dan hubungan sosial, karenanya ruang ruang Perjuangan memiliki arti yang penting.

Ditengah dunia yang sudah berubah, seseorang sudah menjelajah di semua sektor kehidupan tanpa harus keluar rumah. Sudah ada layar ponsel, transaksi ekonomi, menikmati musik dan hiburan pun sudah melalui teknologi.
Namun, ada sesuatu yang tidak berubah yakni Kebutuhan Manusia Untuk berkumpul.

Mungkin itulah sebabnya GBF masih bertahan, ia menawarkan sesuatu yang tidak dapat di berikan oleh Internet yakni Kehadiran.

Untuk menikmati GBF, seseorang harus datang, harus berjalan, berbagi ruang dengan orang lain.
Merasakan udara malam dan mendengarkan suara keramaian secara langsung.
Suasana seperti itu di jaman sekarang sangat langka.

Dari sisi sosial, GBF tidak semata mata di pahami sebagai tempat transaksi ekonomi. GBF merupakan ruang sosial, tempat orang bertemu, bercerita, membangun hubungan dan menjadi bagian dari komunitas.

GBF juga bukan hanya tempat orang untuk berjual beli makanan dan tiket permainan, ia juga ruang sosial tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat.

Kenapa Gebyar Bumiayu Fair (GBF) Masih Bertahan? (Bagian 1)
BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider

GBF tidak menjual kemewahan, tidak menawarkan gaya hidup global dan tidak mengandalkan citra eksklusif. Oleh karena itu lah GBF masih bertahan di tengah perubahan yang begitu cepat, GBf tetap menyediakan ruang ruang kerinduan untuk lebih akrab.

GBF juga mempunyai cara dan fungsinya sendiri, ia memberi hiburan tersendiri. Bukan hiburan yang merubah nasib seseorang. Namun hiburan kecil yang membuat manusia Bertahan.

GBF DAN MEDIA SOSIAL

Media sosial sekarang ini sering menampilkan kehidupan yang telah dipilih dan di saring. Seseorang berusaha menunjukan versi terbaiknya yakni berfoto, momen dan pengalaman terbaik.

GBF tidak demikian, ia tidak berusaha terlihat sempurna, lampunya mungkin tidak semegah pasar modern, jalannya juga mungkin tidak selalu rapi, apalagi kalau hujan, wahana hiburannya juga tidak secanggih tempat bermain nasional, musiknya pun tidak semeriah festival Internasional.

Tapi justru karena ketidaksempurnaannya, GBF terasa dekat dengan kehidupan sehari hari. GBF tidak menjual ilusi, tapi menawarkan pengalaman apa adanya.

Di tengah Kota Bumiayu yang terus berubah, di tengah Brebes Selatan yang tengah bersiap diri menjadi daerah otonomi, di tengah digital yang semakin menyita perhatian manusia, GBF masih berjalan dengan kesederhanaannya dan tetap mampu Mengumpulkan Manusia.

Dan kadang kadang di jaman orang yang sudah semakin sibuk dengan dirinya sendiri, mengumpulkan manusia merupakan suatu pekerjaan yang luar biasa.

GBF hadir menyimpan kesederhanaan, ia menyimpan harapan bahwa di saat dunia berputar sangat cepat, seseorang masih mau berkumpul, bercakap cakap dan berbagi kebahagian secara sederhana dan agar tidak terlalu lelah menjadi manusia, Kita Membutuhkan GBF .

( Mistam )

Komentar Klik di Sini