BerandaSejarahMenggali Reruntuhan Ingatan Eks Foto Studio Widuri Delanggu

Menggali Reruntuhan Ingatan Eks Foto Studio Widuri Delanggu

KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Minggu ini, sebuah sudut desa yang tenang di RT 04 RW 03, Kuncen Sidodadi, Delanggu, mendadak ramai oleh aktivitas warga yang bergotong royong menggali reruntuhan puing -puing peninggalan masa lampau, Minggu (20/7/2025).

 

Dulu, di lokasi itu berdiri Taman Outdoor dan Foto Studio Widuri yang sempat berjaya. Dari koleksi miniatur khas Bali, gapura ikonik megah, patung-patung klasik, hingga relief arsitektur yang menghidupkan suasana Pulau Dewata bagi penduduk setempat dan para tamu kala itu. Namun, sejak wafatnya almarhum Bapak Harto, disusul istrinya, dan kemudian pewarisnya Bapak Heru Suprapto, kompleks tersebut terbengkalai. Tanah dan bangunan dijual, miniatur yang tersisa tercecer dan terkubur seiring waktu.

 

PSX 20250720 155725

Beberapa bulan terakhir, warga RT 04 RW 03 bersatu padu menggali sisa-sisa gapura kembar dari batu berornamen khas Bali. Pintu gerbang yang dulu megah itu kini terkubur di balik akar pohon dan tanah liat. Gotong royong sukarela dimulai sejak pertengahan bulan, berbekal sekop, sapu lidi, dan semangat kolektif. Potongan relief dan pilar batu dikumpulkan satu per satu, disisihkan untuk direnovasi ulang. Meski banyak bagian hilang atau rusak parah, setiap pecahan dianggap sakral sebagai kenangan sekaligus simbol toleransi dan keragaman budaya Nusantara.

Semangat kebersamaan tumbuh subur di setiap helaan napas warga. Bagi mereka, rekonstruksi gapura bukan semata urusan estetika taman kampung. Ini adalah upaya memelihara tradisi gotong royong, mengukuhkan toleransi antarwarga yang beragam latar belakang, serta menguatkan makna sejarah lokal. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, komunitas pojok kreatif RT 04 menjadi ruang sakral untuk mengingat bahwa kemajuan tak boleh melupakan akar budaya. Dengan memegang obor solidaritas, mereka merajut kembali fragmen masa lalu menjadi satu kesatuan yang memukau.

 

PSX 20250720 155620

Target utama adalah memacu semangat gotong royong ini dalam peringatan HUT Republik Indonesia pada Agustus mendatang. Warga berencana memasang gapura Bali hasil rekonstruksi sebagai latar spot selfie gratis. “Kita ingin adik-adik sekolah dan keluarga punya kenangan baru,” ujar Suroto, sesepuh RT. “Mereka bisa merasakan arsitektur Bali tanpa harus bepergian jauh.” Jika rencana berjalan mulus, Taman RT 04 bakal menjadi destinasi budaya mikro yang menarik kunjungan sanak saudara yang pulang kampung, bahkan wisatawan lokal yang penasaran dengan kekayaan budaya Desa Kuncen Sidodadi.

Agung, warga RT 04 yang kini berusia sekitar 45 tahun, mengenang masa ketika seluruh keluarganya berfoto di depan gapura megah. “Dulu kamera tustel jadi saksi kebersamaan kami,” kenangnya. Setiap libur Lebaran, kerabat jauh rela menempuh perjalanan hanya untuk foto keluarga di studio foto Widuri. Suasana hangat, sorotan lampu flash, dan balutan kain batik membuat setiap jepretan terasa istimewa. Bagi Agung, gerbang batu itu bukan sekadar ornamen ia adalah penjaga cerita, saksi bisu canda tawa dan reuni keluarga.

 

PSX 20250720 155652

Sementara di Yogyakarta, Landy Hatmojo cucu Mbah Harto dan putra Heru Suprapto menyampaikan dukungannya. “Kami bangga warisan keluarga masih punya arti bagi warga,” kata Landy. Meski teknologi foto digital telah menggantikan kamera manual dan studio Widuri sudah tak lagi beroperasi, ia percaya pemugaran gapura dapat membuka ingatan generasi muda tentang sejarah kampungnya. “Bangunan ini jadi oase nostalgia. Ketika saya pulang kampung atau ziarah ke makam Mbah Harto, nantinya saya masih punya kesempatan untuk melihat jejak-jejak hidup mereka yang dulu merintis foto studio Widuri,” terangnya.

Tantangan terbesar adalah kelangkaan potongan relief yang masih utuh. Banyak puing hilang atau rusak parah. Warga pun memutuskan menggunakan campuran semen putih dan batu bata bekas untuk merekonstruksi bagian-bagian yang benar-benar hilang. Agar hasilnya bisa mendekati aslinya, mereka turut mengundang seniman kriya asal Bali untuk berbagi teknik pahatan sederhana. Hingga kini, setiap sore, workshop lapangan diadakan untuk menghidupkan kembali kekayaan teknik tradisional yang sempat dilupakan.

Anak-anak pojok kreatif desa setempat tak mau ketinggalan. Mereka membentuk tim desain untuk menata area taman dan memadukan ornamen-ornamen Bali dengan tanaman lokal. Ada barisan tanaman hidup, bunga kamboja, serta lampu hias bergaya pelita peninggalan kuno. Generasi muda dan sesepuh kampung kini juga membuat taman bersantai mini sebagai wahana berbagi cerita budaya dan tradisi serta mengenang kejayaan Foto Studio Widuri tempo dulu. Melalui media sosial, anak-anak muda mendokumentasikan perkembangan proyek, mengundang dukungan dari alumni sekolah dan saudara yang merantau.

PSX 20250720 161744

 

Setelah gapura selesai dipasang, RT 04 akan membuka ruang pojok kreatif sebagai laboratorium sosial dan budaya. Tangan-tangan terampil dan pemikiran cerdas warga akan menggagas perkembangan desa dan lingkungan ke depan. Dengan modal solidaritas dan semangat berjalan apa adanya, mereka berharap mampu memproyeksikan ide-ide kreatif dan pengembangan lingkungan lebih lanjut. Dengan demikian, pemugaran gapura juga menjadi pintu pembuka gerbang ekonomi dan kreativitas baru, hingga semua warga bisa turut ambil bagian.

Proyek rekonstruksi gapura Bali di RT 04 RW 03 bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah simbol panjangnya sejarah persinggahan budaya Bali di Delanggu, semangat kebersamaan yang melintas generasi, serta kerinduan pada keindahan yang pernah menawan hati warga. Harapan terbesar adalah agar setiap orang yang melewati gerbang itu tak hanya berdecak kagum, tetapi juga terinspirasi untuk menjaga dan merawat warisan budaya dengan sepenuh hati.

Menjelang Agustus, rencananya puing-puing yang dulu tercerai-berai akan berubah wujud menjadi gapura megah yang kembali berdiri di depan taman mini kampung. Semangat RT 04 RW 03 Kuncen Delanggu pun berkobar. Mereka bukan sekadar membangun gapura, tapi membangkitkan memori kolektif dan meneguhkan rasa memiliki terhadap kampung halaman. Ketika detik-detik proklamasi berkumandang, di balik megahnya gapura batu Bali itu, warga akan berkumpul, merasakan getirnya perjuangan leluhur, sekaligus merayakan kebersamaan yang terus hidup. Di sanalah, reruntuhan ingatan menemukan bentuk barunya bukti bahwa masa lalu yang dirawat dengan cinta selalu bisa menjadi pijakan untuk masa depan yang lebih indah.

(Pitut Saputra)

Komentar Klik di Sini