KUPANG — METROPAGINEWS.COM || Komitmen terhadap perlindungan perempuan dan anak kembali digaungkan di Kota Kupang lewat sebuah dialog interaktif yang diselenggarakan oleh Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kota Kupang bekerja sama dengan Yayasan Kaya Tene. Kegiatan yang mengangkat tema “Perempuan dan Anak Butuh Aman, Kita Wujudkan” ini berlangsung pada Jumat, 30 Mei 2025, di Celebes Resto, Kayu Putih.
Dialog ini menghadirkan tiga tokoh penting di bidang perlindungan perempuan dan anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT Veronika Ata, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi NTT Ruth Diana Laiskodat, dan Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda NTT AKP Fridinari D. Kameo. Ketiganya berbagi pengalaman, tantangan, serta upaya konkret yang dilakukan untuk menciptakan ruang yang aman dan manusiawi bagi perempuan dan anak.
Ketua Pemuda Katolik Kota Kupang, Valentinus Kopong Masan, dalam sambutannya menegaskan bahwa dialog ini lahir dari panggilan moral dan iman. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan respon atas seruan Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, yang menekankan pentingnya perjuangan martabat manusia, terutama dalam konteks perlindungan terhadap kelompok rentan.
“Kita merasa ada sebuah keterpanggilan untuk turut memperjuangkan nilai kemanusiaan. Jika kita bicara dari perspektif iman, manusia sebagai ciptaan Tuhan memiliki martabat yang tinggi. Maka dari itu, kegiatan hari ini bukan sekadar diskusi, tapi merupakan bentuk nyata keterlibatan kami sebagai pemuda Katolik dan mitra masyarakat sipil,” ujar Valentinus.
Dosen pada Stipas Keuskupan Agung Kupang itu juga menyoroti pentingnya pemahaman dan kesadaran dari generasi muda terhadap isu kekerasan yang terus mengancam perempuan dan anak, terutama di lingkungan domestik. Menurutnya, banyak kasus kekerasan berakar dari pola pendidikan yang keliru dalam keluarga. Oleh karena itu, diskusi ini diharapkan mampu menggugah kesadaran kolektif untuk memperbaiki pola asuh dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi tumbuh kembang anak dan perempuan.
Valentinus menjelaskan bahwa alasan pemilihan narasumber bukan tanpa pertimbangan. Ketiganya adalah figur yang aktif dan berkompeten dalam menangani langsung isu-isu perempuan dan anak di wilayah NTT. Dengan kehadiran mereka, diskusi menjadi semakin berbobot dan menghadirkan perspektif yang komprehensif, baik dari sisi kebijakan, perlindungan hukum, maupun realitas lapangan.
Suasana dialog berlangsung dinamis, dengan antusiasme peserta yang tinggi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, seperti mahasiswa, aktivis, perwakilan lembaga pemerintah, serta masyarakat umum yang peduli pada isu perlindungan anak dan perempuan. Selain mendengarkan pemaparan dari para narasumber, peserta juga aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan yang memperkaya diskusi.
Kegiatan ini diakhiri dengan pernyataan komitmen bersama untuk terus menggaungkan pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak serta memperkuat kolaborasi lintas sektor demi terwujudnya lingkungan sosial yang aman, adil, dan manusiawi.***
Reporter: Alberto L



Komentar Klik di Sini