KARANGANYAR – METROPAGINEWS.COM ||
Siang ini di Klinik Pembuatan Kaki Palsu PT. Kuspito, Papahan, Tasikmadu, Karanganyar, suasana dipenuhi harapan dan kerja sama. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Surakarta bersama Komunitas Satu Hati dan PT. Kuspito menggelar kegiatan pengukuran dan pencetakan soket kaki palsu untuk tiga penyandang disabilitas amputasi kaki dari wilayah Klaten, Solo, dan sekitarnya. Kegiatan ini bukan sekadar rangkaian teknis; ia menjadi momen penting bagi pemulihan mobilitas, martabat, dan kemandirian para penerima manfaat (15/08/2026).
Inisiatif ini berawal dari aspirasi komunitas. Komunitas Satu Hati Klaten yang dipimpin oleh Nina Kusumawati, akrab disapa Bunda Nina, mengajukan kebutuhan nyata anggotanya sehingga menjadi dasar perencanaan program pengabdian berbasis penelitian. Pendekatan yang dimulai dari aspirasi komunitas tersebut memastikan intervensi yang diberikan relevan, tepat sasaran, dan berkelanjutan. “Giat hari ini, Sabtu tanggal 15 Agustus 2026, Komunitas Satu Hati Klaten, Poltekkes Kemenkes Surakarta, dan PT. Kuspito Ortotik Prostetik bersama-sama dalam pengabdian masyarakat telah melakukan proses pengukuran dan cetak soket kaki palsu untuk tiga orang disabilitas amputasi kaki di daerah Klaten dan Solo. Komunitas Satu Hati Klaten sangat mendukung program pengabdian masyarakat ini karena bisa memberikan bantuan pada teman-teman disabilitas yang sangat beragam kebutuhannya dan dapat menunjang kemandirian para penyandang disabilitas,” ujar Nina dengan nada penuh harap.

Kegiatan dimulai dengan sambutan singkat dan penjelasan alur pelayanan. Setiap pasien menjalani evaluasi menyeluruh yang mencakup pemeriksaan sisa anggota tubuh, kondisi kulit, jaringan lunak, serta kebutuhan fungsional harian. Pengukuran anatomi dilakukan secara teliti untuk memastikan cetakan dan desain soket sesuai, sehingga prostesis nantinya nyaman dipakai dan mendukung aktivitas sehari-hari. Teknik pengukuran meliputi pengambilan cetakan, pengukuran panjang dan lingkar, serta pemeriksaan titik-titik rawan yang berpotensi menimbulkan luka tekan.
Lebih dari aspek teknis, tim juga menaruh perhatian pada aspek psikososial. Pendampingan oleh relawan komunitas, keluarga, dan mahasiswa membantu mengurangi kecemasan pasien. Tim memberikan edukasi tentang fungsi alat, proses adaptasi, serta latihan awal yang perlu dilakukan pasien. Keterlibatan keluarga menjadi kunci agar perawatan prostesis berjalan baik dan risiko komplikasi seperti luka tekan dapat diminimalkan. Sesi edukasi singkat tentang perawatan alat, pencegahan luka tekan, dan latihan mobilitas dasar menjadi bagian tak terpisahkan dari program.
Peran akademis terlihat jelas melalui keterlibatan Poltekkes Kemenkes Surakarta. Dr. Nur Rachmat, BPO, M.Kes, dosen spesialis Ortotik Prostetik, memimpin evaluasi klinis dan supervisi teknis. “Program ini merupakan hasil penelitian yang berangkat dari kebutuhan komunitas. Pendekatan berbasis bukti memastikan intervensi yang diberikan relevan dan efektif. Selain membantu pasien, kegiatan ini juga memberi pengalaman praktik yang sangat berharga bagi mahasiswa,” kata Dr. Nur Rachmat. Di bawah bimbingannya, mahasiswa terlibat langsung dalam pengukuran dan dokumentasi, sementara teknisi klinik PT. Kuspito mengerjakan pembuatan komponen prostesis dengan standar produksi yang memadai.
Kolaborasi lintas peran ini memberi manfaat ganda, pasien menerima alat bantu yang dirancang sesuai standar klinis, sedangkan mahasiswa memperoleh pengalaman lapangan yang memperkaya kompetensi mereka. Klinik PT. Kuspito menyediakan fasilitas produksi dan ruang konsultasi sehingga alur dari pengukuran hingga pembuatan dapat berjalan efisien. Meski demikian, pelaksanaan program tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan bahan baku, variasi kondisi sisa anggota tubuh pasien, dan kebutuhan penyesuaian berulang menjadi hambatan yang harus diatasi. Tim mengatasi hambatan tersebut dengan solusi kreatif, seperti penggunaan bahan alternatif yang aman dan desain modular yang memudahkan penyesuaian tanpa mengorbankan kenyamanan.
Dampak program terlihat nyata pada penerima manfaat. Sri Waluyo, Wagimin, dan Kasbul melaporkan kemudahan bergerak, peningkatan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari, serta tumbuhnya rasa percaya diri. Bagi keluarga, pengurangan beban perawatan menjadi manfaat signifikan yang meningkatkan kualitas hidup keluarga secara keseluruhan. Di sisi akademis, mahasiswa memperoleh pengalaman lapangan yang tidak tergantikan oleh teori semata, sehingga kompetensi klinis mereka semakin matang.
Keberhasilan kegiatan ini membuka peluang replikasi di wilayah lain. Dukungan lebih luas dari pemerintah daerah, lembaga kesehatan, dan donatur akan memperkuat kapasitas klinik lokal, memastikan ketersediaan bahan baku, serta menyediakan pelatihan lanjutan bagi teknisi dan tenaga kesehatan. Pengembangan sistem monitoring jangka panjang juga diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas alat dan kebutuhan penyesuaian di masa mendatang.
Pengukuran soket kaki palsu di Klinik Kuspito menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara komunitas, institusi pendidikan, dan klinik lokal mampu menghadirkan solusi praktis dan bermakna. Ketika intervensi dirancang dari kebutuhan komunitas dan dilaksanakan dengan kolaborasi yang jelas, hasilnya bukan hanya alat bantu, melainkan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk melangkah lebih mandiri dan percaya diri. Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari perubahan besar bagi banyak orang.
( Pitut Saputra )

