KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Ikon Gedong Jetis, Umbul Batu Tumpeng, terbengkalai setelah pembongkaran tanpa musyawarah. Warga kecewa, rencana wisata mandek, dan spekulasi muncul.Bagaimana sikap yang seharusnya dimiliki kepala desa ? Minggu (14/12/25)
Gedong Jetis, Tulung Klaten,Yang dulu menjadi jantung sosial dan kebanggaan masyarakat Gedong Jetis, Umbul Batu Tumpeng, kini terbenam dalam kesendirian. Setiap sudutnya menyaksikan kebanggaan masa lalu yang hancur: tumpukan batu arca pecah belah tertutup tumbuhan liar, dan sumber mata air yang masih mengalir dengan tenang seolah menyimpan kesedihan atas kehilangan kegembiraan yang pernah ada.
Selama bertahun-tahun, umbul ini bukan hanya tempat mencuci atau mandi bagi warga sehari-hari. Ia juga menjadi magnet bagi pengunjung dari berbagai daerah di hari-hari tertentu, sebuah tradisi yang diturunkan oleh leluhur. “Kegiatan di sini sudah menjadi bagian dari kita, seperti aliran darah yang menghubungkan semua warga,” ujar salah seorang warga S (inisial ) dengan raut wajah yang berganti-ganti antara keseriusan, sayu, dan geram saat menceritakan kepada awak media.

Semua berubah total setelah pergantian kepala desa. Hampir tiga tahun silam, umbul yang menjadi ikon desa dibongkar tanpa ada musyawarah yang melibatkan masyarakat luas. Rencana yang diumumkan adalah mengubahnya menjadi obyek wisata dengan kolam renang, namun kesepakatan itu dinilai sepihak oleh warga. “Kita tidak pernah di ajak berbicara. Hanya orang-orang tertentu yang tahu rencananya, dan dari awal pun kita tidak setuju,” papar S.
Saat ini, rencana pembangunan itu terhenti di tengah jalan,jauh dari gambaran perencanaan yang dijanjikan. Bahkan spekulasi menyebar bahwa pembongkaran semata-mata untuk kepentingan pribadi dan lahan korupsi. “Tidak seperti kepala desa yang dulu, yang selalu memperhatikan warga. Kita masih mengharapkan dia kembali,” tambah S dengan nada haru.

Upaya awak media mengkonfirmasikan ke kepala desa Gondrong Jetis (DT) hanya menghasilkan jawaban yang mengecewakan. “Pertanyaan tentang umbul tidak akan saya jawab. Itu bukan urusan desa, tapi Bumdes,” katanya, bahkan sempat menolak sepenuhnya membahas masalah yang jelas menjadi urusan inti masyarakat.
Padahal, sikap yang seharusnya dimiliki seorang kepala desa dalam kasus seperti ini adalah kepekaan terhadap aspirasi warga, transparansi dalam setiap proses keputusan, dan keberanian untuk bertanggung jawab.
Sebagai pemimpin yang melayani, kades seharusnya memprioritaskan kebutuhan bersama, mengadakan musyawarah yang sebenarnya sebelum mengambil langkah besar, dan memberikan penjelasan yang jelas jika rencana mengalami hambatan. Juga penting untuk membangun sinergi antara pemerintah desa, Bumdes, dan masyarakat agar setiap program dapat berjalan sesuai harapan dan memberikan manfaat nyata.
Dalam keterasingan yang semakin dalam, harapan warga menjadi semakin sederhana: mereka menginginkan kembali keasrian Umbul Batu Tumpeng, agar tempat yang pernah menjadi pusat kehidupan mereka bisa dipakai lagi untuk aktivitas sehari-hari ,tanpa janji-janji yang hampa dan keputusan yang sepihak.
( Desi )


Komentar Klik di Sini