KUPANG — METROPAGINEWS.COM || Siapa sangka, sabut kelapa yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah ternyata bisa menjadi ladang rupiah? Itulah yang coba dibuktikan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana (FEB Undana) lewat pelatihan kreatif yang digelar di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, pada Selasa (27/5/2025).
Mengusung tema “Pemanfaatan Sabut Kelapa sebagai Hiasan Alat Rumah Tangga”, pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi jembatan antara potensi lokal yang nyaris terlupakan dan semangat kewirausahaan masyarakat desa.

Bertempat di aula Kantor Desa Mata Air, puluhan warga berkumpul dengan penuh semangat. Mereka tidak hanya datang untuk menonton, tetapi benar-benar siap belajar dan mempraktikkan cara mengubah sabut kelapa menjadi produk bernilai jual seperti pot bunga, tempat sampah, hingga hiasan botol unik.
Turun langsung ke lokasi, Dekan FEB Undana, Dr. Apriana H. J. Fanggidae, SE, M.Si, bersama dua dosen pendamping—Filipus A.G. Suryaputra, S.E., M.Ak., dan Chrispy Theresia Pratiwi Daud, S.AB., MM—menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi warga.
“Desa ini kaya akan kelapa. Tapi sabutnya selama ini hanya jadi limbah. Padahal, kalau dikelola dengan baik, hasilnya luar biasa,” ujar Dr. Apriana saat membuka pelatihan.
Tak hanya soal teknik membuat kerajinan, peserta juga dibekali pemahaman dasar kewirausahaan—sebuah bekal penting untuk meniti jalan sebagai pelaku UMKM mandiri. Dr. Apriana bahkan menantang anak-anak muda desa untuk berani berpikir sebagai pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.
Modalnya? Hanya sabut kelapa gratis dari pekarangan, lem, dan kawat. Tapi hasilnya bisa menjadi karya estetis yang diminati pasar. “Kami ingin kegiatan ini melahirkan pelopor di desa, bukan sekadar peserta,” tegasnya.
Sambutan hangat datang dari Kepala Desa Mata Air, Elia Luluporo, yang membuka kegiatan secara resmi. “Kami bangga karena Undana hadir langsung. Pelatihan seperti ini sangat relevan dan dibutuhkan warga kami. Kami berharap, ini bukan yang terakhir,” tuturnya.

Kegiatan pun berlanjut ke sesi praktik. Di sinilah suasana menjadi lebih hidup. Warga, tua-muda, pria-wanita, saling membantu dan mencoba langsung membuat kerajinan dari sabut kelapa. Tak sedikit yang antusias bertanya dan berencana melanjutkan praktik di rumah.
Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia membawa harapan. Harapan akan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Harapan agar setiap rumah di Desa Mata Air tak hanya memproduksi limbah, tapi juga menciptakan peluang.
Dengan pendekatan yang sederhana, menyentuh, dan aplikatif, FEB Undana kembali membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari serat kecil sabut kelapa. Dan Desa Mata Air kini punya amunisi baru: kreativitas warga yang siap menantang pasar.
Reporter: Alberto L


Komentar Klik di Sini