KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat di Dk Kaibon Desa Delanggu Kabupaten Klaten ditutup dengan pagelaran Wayang Kulit dua sesi siang untuk generasi muda dan malam untuk masyarakat umum, sebagai upaya pelestarian budaya lokal.Minggu ( 29/3/2024)
Suasana budaya semakin terasa kental di Padukuhan Kaibon, Desa Delanggu. Puncak rangkaian acara Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat yang berlangsung selama dua hari ditutup megah dengan pagelaran Wayang Kulit yang digelar dalam dua sesi khusus siang dan malam. Perhelatan seni budaya ini sekaligus menjadi momen silaturahmi dan Halal Bihalal bagi warga masyarakat pasca Idul Fitri 1447 H.

Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya yang hanya digelar pada malam hari, di sini terlihat keistimewaan yang khas. Pagelaran dibuka secara resmi pada pukul 13.00 WIB dan berlangsung hingga 17.00 WIB, kemudian dilanjutkan kembali pada malam hari mulai pukul 20.00 WIB hingga menjelang dini hari.
Lakon Wahyu dan Filosofi Kehidupan
Pada sesi siang hari, panggung seni menghadirkan lakon bernas “Wahyu Makhuto Rama” yang dimainkan dengan sangat apik oleh dalang handal, Ki Kian Dunung Siswoyo. Sementara itu, malam harinya menghadirkan lakon penuh makna “Wahyu Purbo Sejati” yang dibawakan oleh Ki Sarlair Puspo Pandoyo, yang makin memukau dengan kehadiran bintang tamu khusus Ucehek Sanusi dan Gareng Karanganyar.
Kedua lakon bertema “Wahyu” ini bukan sekadar cerita fiksi belaka, melainkan cerminan nilai luhur tentang kebenaran, kepemimpinan yang bijaksana, dan berkah kehidupan yang sangat relevan dengan filosofi masyarakat agraris yang masih menjadi identitas utama warga Desa Delanggu.
Strategi Cerdas: Sesi Siang untuk Generasi Muda
Salah satu inovasi dan tujuan utama digelarnya pertunjukan pada siang hari adalah sebagai upaya nyata dalam pelestarian budaya lokal. Menurut keterangan perangkat desa setempat, sesi siang sengaja dikhususkan agar bisa dinikmati oleh anak-anak dan remaja sebagai generasi penerus.
“Pertunjukan siang hari kami buka khusus agar bisa dilihat oleh anak-anak dan remaja, putra-putri daerah kita. Pesan moralnya adalah mengenalkan seni wayang kulit sedini mungkin, agar warisan leluhur ini tidak tergerus oleh zaman yang semakin modern,” ungkap perangkat desa TH yang juga warga asli dk Kaibon Delanggu dalam keterangannya.
Berbeda dengan sesi malam yang biasanya didominasi oleh para orang tua dan sesepuh desa untuk mendalami filosofi di balik cerita, sesi siang ini dijadikan sebagai kelas budaya terbuka bagi generasi muda. Diharapkan, mereka tidak hanya menjadi penonton pasif, tapi juga bisa mencintai dan memahami identitas budaya bangsanya sendiri,” paparnya.

Komitmen Kaibon Menjaga Adat
Wayang kulit bukanlah hal baru bagi warga Dukuh Kaibon. Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin tahunan yang membedakan mereka dengan daerah lain di sekitarnya. Sebagai desa yang sangat kental akan nilai-nilai budaya, masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani ini berupaya keras menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan arus modernisasi.
“Desa kami selalu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan adat budaya peninggalan nenek moyang. Ini tak lepas dari kerukunan dan kekompakan yang kuat di antara warga. Kami ingin agar seni wayang ini terus hidup dan dikenal dengan baik oleh generasi penerus,” tambahnya.
Dua sesi pertunjukan yang sukses digelar ini membuktikan bahwa seni tradisi masih memiliki tempat yang sangat istimewa di hati masyarakat. Dengan semangat gotong royong dan cinta yang mendalam terhadap budaya lokal, Dukuh Kaibon kembali membuktikan diri sebagai benteng pertahanan kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu.
Pagelaran wayang kulit dua sesi ini menjadi penutup yang manis dan penuh makna bagi Kenduri Bakdo Kupat tahun 2026 yang di ketuai oleh Eksan Hartanto juga pencetus festival mbok Sri. Semoga melalui upaya mengenalkan seni budaya pada anak-anak sejak dini, nilai-nilai luhur bangsa akan terus hidup abadi dan menjadi jati diri yang kuat bagi generasi mendatang.
( Desi )


Komentar Klik di Sini