KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Tasyakuran Bersih Dusun Kadut, Desa Bono, Kecamatan Tulung yang ke-9 kalinya sukses digelar di pelataran Dukuh Kadut pada Sabtu malam (18/07/2026).
Acara tahunan ini diwarnai dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menghadirkan Dalang Ki Hary Natacarita dengan lakon “SRI BOYONG” yang penuh makna pendidikan karakter.

Acara yang sarat akan nilai budaya ini dihadiri oleh berbagai undangan penting, antara lain Hartanto (Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PDI Perjuangan), Moh. Hasyim (Anggota DPRD Klaten dari PDI Perjuangan), Abdurohman SH (Sekretaris Camat Tulung yang mewakili Camat Hendri Pamukas, S.Sos.MM), pemerintah desa Bono, OPD di wilayah Kecamatan Tulung, unsur TNI, POLRI, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Abdurohman SH menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Dukuh Kadut.
“Semoga acara pagelaran ringgitan ini berjalan lancar dan cerita yang diusung menjadi tuladha (contoh yang baik) untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita semua dapat menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

Hartanto, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga Dukuh Kadut Desa Bono atas semangat kekeluargaan, kegotong royongan, dan guyub rukun yang terjalin kuat, sehingga pagelaran wayang kulit pada malam itu dapat terlaksana dengan sukses.
“Dengan Tasyakuran Bersih Dusun ini, semoga masyarakat Dukuh Kadut semakin sejahtera dan lancar rezekinya,” ujar Hartanto kepada Metropaginews.com.
Menurutnya, acara Bersih Dusun di Dukuh Kadut merupakan kegiatan rutinitas tahunan yang menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal. Sebagai anggota DPRD Provinsi, ia menyatakan bahwa tugasnya juga mencakup untuk nguri-uri budaya atau menjaga serta membesarkan berbagai bentuk budaya yang ada di Jawa Tengah, baik wayang, kethoprak, jathilan, maupun kesenian tradisional lainnya.
“Acara malam ini merupakan kegiatan nguri-uri budaya, dan tujuannya adalah agar masyarakat tahu bahwa kita memiliki budaya yang baik. Jangan sampai budaya yang tidak baik masuk ke kalangan anak-anak kita atau generasi muda,” jelas Hartanto.
Ia juga menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
“Kita diwajibkan untuk menanamkan kepada anak-anak dan generasi muda agar mereka mengerti budaya Jawa, memahami tatakrama, serta berbudi pekerti luhur,” tambahnya.
Dalam era digital yang serba cepat saat ini, Hartanto mengingatkan akan adanya banyak budaya luar yang dapat memberikan dampak negatif bagi moral generasi muda.
“Jangan sampai budaya beraneka ragam yang ditinggalkan oleh leluhur kepada kita semua menjadi hilang dan tertelan zaman,” pungkasnya.
(Pusoko)


Komentar Klik di Sini