BerandaBerita TerkiniMancing Hore Merajut Kebersamaan Warga Dalam Semarak Kemerdekaan

Mancing Hore Merajut Kebersamaan Warga Dalam Semarak Kemerdekaan

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Minggu terakhir Agustus jadi puncak rangkaian perayaan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Lomba Memancing jadi momen penutup yang ditunggu-tunggu banyak kalangan warga RW 3 Kuncen, Sidodadi, Delanggu. Puncak acara yang diberi tajuk Mancing Hore ini bukan sekadar lomba memancing biasa, ia adalah perayaan sederhana yang sarat makna, tempat tawa, cerita, dan solidaritas warga dari berbagai usia berkumpul di tepi sungai kecil belakang SMP Negeri 1 Delanggu (30/08/2026).

Sungai di belakang sekolah tersebut disulap menjadi arena mancing hore yang penuh kebahagiaan, dengan cara membendung aliran di antara SMP Negeri 1 dan SD Negeri 1 Delanggu, lalu mengisinya dengan sekitar 100 kilogram ikan lele, ditambah beberapa ikan lele berukuran besar seberat 5 kilogram per ekor serta ikan bawal dan tombro sebagai ikan maskot berhadiah, total setidaknya 20 ekor maskot disediakan panitia guna menambah semangat peserta mancing hore, panitia juga menata area duduk dan nomor lapak bagi peserta maupun penonton, sementara suasana kampung terasa kental dengan tikar terhampar, anak-anak berlarian, dan aroma gorengan serta minuman hangat yang menguar dari stan kecil warga, menjadikan acara sederhana ini makin penuh kehangatan.

Suasana Undian Lapak peserta Mancing Hore di Kuncen, Sidodadi Delanggu (dok foto @Pitut Saputra)
Suasana Undian Lapak peserta Mancing Hore di Kuncen, Sidodadi Delanggu (dok foto @Pitut Saputra)

Menurut Anas, salah seorang panitia, kegiatan ini memang sudah menjadi tradisi tahunan. “Mancing Hore ini kami rancang sebagai acara puncak peringatan kemerdekaan, karena hobi memancing itu murah meriah dan bisa dinikmati semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan tujuan utama acara, bukan kompetisi memancing profesional, melainkan wadah rekreasi dan pengikat tali persaudaraan antar warga.

Hadiah-hadiah yang disiapkan pun mencerminkan semangat kebersamaan. Fajar panitia sekaligus pembawa acara menuturkan bahwa “Ada kategori hadiah untuk ikan berpita, ikan maskot terberat, serta door prize menarik yang membuat suasana semakin meriah.” paparnya. Hadiah-hadiah kecil ini bukan sekadar insentif, melainkan simbol apresiasi bagi partisipasi warga. Sementara itu, panitia juga membuka kesempatan bagi warga yang ingin berjualan makanan dan minuman, sehingga acara tersebut sekaligus menjadi peluang ekonomi mikro bagi pelaku usaha lokal.

Suasana di lokasi penuh warna, para pemancing menata kail dengan sabar, sesekali tertawa saat umpan ditarik oleh ikan kecil. Anak-anak yang belum cukup umur untuk memancing juga ikut bersemangat sebagai penonton dan suporter, memberi tepuk tangan saat ikan besar berhasil ditarik ke permukaan. Di antara riuh rendah itu, terlihat pula momen-momen sederhana namun menyentuh, ketika seorang kakek mengajarkan cucunya cara memasang umpan, sepasang remaja berbagi cerita sambil menunggu gigitan ikan, dan tetangga yang jarang bertemu saling bercerita dan menyapa hangat, serta banyak lagi moment indah tercipta dalam kebersamaan hari itu.

Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat rasa gotong royong. Persiapan yang melibatkan banyak pihak, dari penyediaan ikan, pembuatan bendungan sementara, hingga pengaturan keamanan dan kebersihan, menunjukkan bagaimana kerja kolektif mampu menghadirkan sesuatu yang bermakna. Panitia berharap, lewat kegiatan ini, warga semakin rukun dan kompak dalam menghadapi dinamika kehidupan kampung.

Marjoko salah seorang peserta mengatakan “Selain aspek sosial, Mancing Hore turut memberi dampak positif bagi kesehatan mental warga. Aktivitas memancing yang santai memberi kesempatan untuk melepaskan penat, menikmati udara segar, dan bercengkerama tanpa tekanan.” jelasnya. Bagi banyak orang, momen sederhana seperti ini menjadi obat ampuh dari rutinitas harian yang padat. Kehadiran musik ringan, permainan anak, dan canda tawa menambah nuansa rileks yang membuat hari itu terasa istimewa.

KS3 sebagai panitia penyelenggara acara juga memperhatikan aspek keselamatan dan lingkungan. Panitia menata area agar aman bagi anak-anak, menyediakan tempat sampah, serta mengimbau warga untuk menjaga kebersihan sungai setelah acara selesai. Langkah-langkah kecil ini penting agar tradisi yang menyenangkan tidak mengorbankan kelestarian lingkungan setempat.

Di sisi lain, Mancing Hore turut membuka ruang bagi kreativitas warga, beberapa peserta membawa peralatan memancing unik, ada pula yang mengenakan kostum kemerdekaan untuk menambah semarak. Penonton yang tidak memancing tetap merasa terlibat, mereka menjadi juri tak resmi yang memberi semangat, atau pedagang kecil yang menjajakan jajanan khas kampung. Semua elemen itu berpadu menjadi sebuah perayaan komunitas yang hangat dan inklusif.

Menjelang penutupan, suasana berubah menjadi lebih khidmat namun tetap penuh kegembiraan. Pengumuman pemenang disambut tepuk tangan meriah, sementara pembagian door prize memberikan kejutan-kejutan kecil yang membuat banyak wajah berseri. Lebih dari sekadar kompetisi, momen ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dirayakan bukan hanya lewat upacara formal, tetapi juga melalui kebersamaan sehari-hari yang memperkuat ikatan sosial.

Mancing Hore RW 3 Kuncen Sidodadi Delanggu berhasil menutup rangkaian HUT RI ke-81 dengan cara yang sederhana namun bermakna. Acara ini mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa lahir dari hal-hal kecil, sebuah kail, seutas tali, dan tawa yang dibagi bersama. Semoga tradisi ini terus hidup, menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar nilai kebersamaan, dan menjadi pengikat yang membuat kampung semakin rukun, kompak, dan penuh harapan.

( Pitut Saputra )