BerandaSejarahTelusuri Sejarah Hutan Bayu Banyuwangi, Djawa Dwipa Blambangan Siapkan Film Peradaban

Telusuri Sejarah Hutan Bayu Banyuwangi, Djawa Dwipa Blambangan Siapkan Film Peradaban

BANYUWANGI – METROPAGINEWS.COM || Tim Kreatif Djawa Dwipa Blambangan melakukan penelusuran sejumlah titik yang dinilai memiliki nilai sejarah dan budaya di kawasan Hutan Bayu, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (20/9/2026).

 

Penelusuran tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan produksi film yang mengangkat jejak peradaban sejarah di wilayah Bayu, termasuk kisah yang berkembang di masyarakat mengenai Kerajaan Blambangan dan peristiwa Puputan Bayu.

20260920 154640 0000

Tim Kreatif Djawa Dwipa Blambangan mendokumentasikan sejumlah lokasi yang dianggap memiliki keterkaitan dengan sejarah dan tradisi masyarakat setempat. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Rowo Bayu dan wilayah hutan di sekitarnya.

Dalam tradisi tutur masyarakat, kawasan Hutan Bayu juga dikaitkan dengan tempat pertapaan atau semedi Prabu Tawangalun pada masa Kerajaan Blambangan hingga berkembangnya Keraton Macanputih. Namun, berbagai kisah tersebut perlu terus ditelusuri melalui kajian sejarah, sumber tertulis, penelitian arkeologi, serta keterangan para pemerhati budaya.

Kepala Desa Bayu, Ir. Yulia Herlina, saat ditemui di ruang kerjanya menyampaikan komitmennya untuk melestarikan jejak sejarah dan budaya yang berada di wilayah Desa Bayu.

Menurut Yulia, meskipun Desa Bayu secara administratif berdiri pada 1997 setelah pemekaran dari Desa Songgon, wilayah tersebut memiliki sejarah panjang yang dalam berbagai sumber dan tradisi masyarakat dikaitkan dengan peradaban Kerajaan Blambangan.

“Walaupun Desa Bayu berdiri tahun 1997 dari pemekaran Desa Songgon, Kecamatan Songgon, wilayah Desa Bayu mempunyai historis peradaban sejarah pada masa Kerajaan Blambangan,” ujarnya.

Ia mengatakan, kawasan Rowo Bayu hingga kini masih menjadi tujuan kunjungan berbagai kalangan, mulai dari pemerhati budaya, lembaga sejarah dan cagar budaya, akademisi, praktisi, masyarakat umum, hingga pelaku kegiatan spiritual.

Keberadaan kawasan tersebut, menurutnya, tidak hanya memiliki nilai budaya dan sejarah, tetapi juga menyimpan potensi lingkungan yang perlu dijaga.

“Kami akan selalu mewujudkan pelestarian sejarah dan budaya untuk nguri-nguri warisan leluhur hingga dari generasi ke generasi. Melalui Saba Budaya Bayu, besar harapan kami ke depan bisa mewujudkan semua itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Yulia menyebutkan bahwa wilayah Bayu memiliki beragam peninggalan dan temuan benda maupun artefak yang oleh masyarakat dikaitkan dengan jejak peradaban masa lalu. Karena itu, diperlukan pendokumentasian dan penelitian secara berkelanjutan agar keberadaan berbagai peninggalan tersebut dapat dikaji secara lebih komprehensif.

Selain nilai sejarah dan budaya, kawasan Hutan Bayu juga memiliki kekayaan alam yang masih relatif terjaga. Sejumlah tanaman endemik dan beragam satwa liar masih dapat dijumpai di kawasan tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi Tim Kreatif Djawa Dwipa Blambangan yang selalu berkomitmen dalam pelestarian sejarah yang ada di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya,” kata Yulia.

Ia juga mengapresiasi dipilihnya Bayu sebagai salah satu lokasi untuk kegiatan pengambilan gambar, penelitian, penulisan buku, hingga produksi film yang dilakukan Djawa Dwipa Blambangan.

Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mengenalkan potensi sejarah, budaya dan lingkungan Bayu kepada masyarakat luas, sekaligus mendorong generasi muda untuk ikut menjaga warisan leluhur.

(Tyo)

Komentar Klik di Sini