WAIBAKUL – METROPAGINEWS.COM || Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terus dilakukan Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Sabtu (19/9/2026).
Kali ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana menyasar para guru di wilayah Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah, dengan memperkenalkan dan mendampingi penerapan model pembelajaran inovatif berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Rangkaian workshop dan pendampingan awal tersebut dilaksanakan pada 27–30 Juli 2026 di sekolah mitra, termasuk SMP Negeri 1 Umbu Ratu Nggay Barat, Desa Praimadeta.
Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam merancang sekaligus menerapkan pembelajaran yang mampu mendorong siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga aktif menganalisis, mengevaluasi, menciptakan gagasan, dan memecahkan persoalan.
Tim PkM FKIP Undana dipimpin Sudirman, S.Pd., M.Pd., dari Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Undana. Ia bersama anggota tim Dr. Yusnaeni, S.Pd., M.Si., Dr. I Wayan Sukarjita, S.Pd., M.Si., dan M. Ulil Hac D, S.Pd., M.Pd.
Program tersebut turut melibatkan tiga mahasiswa Pendidikan Kimia, yakni Marsenja Dapa Moni, Ayuwantira Rambu Rija, dan Ersa Rambu Sada Moki.
Sasaran utama kegiatan adalah guru pada jenjang SMP dan SMA di sekolah mitra. Sementara siswa menjadi penerima manfaat dari program melalui peningkatan kualitas proses pembelajaran yang diterapkan guru di dalam kelas.
Pelaksanaan program PkM ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan identifikasi awal yang dilakukan tim, proses pembelajaran di sekolah mitra masih menghadapi sejumlah tantangan.
Pembelajaran dinilai masih cenderung berlangsung satu arah dan berpusat pada guru. Pada sisi lain, pemanfaatan model pembelajaran inovatif belum optimal sehingga ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi masih perlu diperluas.
Kondisi tersebut membuat penguatan kompetensi pedagogik guru menjadi bagian penting dalam program pendampingan.
FKIP Undana kemudian merancang kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan pengalaman praktis kepada guru dalam menyusun, mengembangkan, dan menerapkan perangkat pembelajaran inovatif.
Melalui pendekatan tersebut, guru diharapkan mampu menggeser pola pembelajaran dari sekadar penyampaian materi menuju proses belajar yang lebih aktif dan berpusat pada peserta didik.
Dalam workshop, para guru mendapatkan penguatan mengenai konsep pembelajaran abad ke-21, Higher Order Thinking Skills (HOTS), pembelajaran aktif, serta strategi memilih model pembelajaran sesuai karakteristik mata pelajaran dan kebutuhan peserta didik.
Sejumlah model pembelajaran diperkenalkan kepada para peserta, di antaranya Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), Discovery Learning, serta Search-Solve-Create-Share (SSCS) yang diintegrasikan dengan strategi Reading-Questioning-Answering (RQA).
Model-model tersebut memberikan alternatif bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih variatif.
Melalui PBL, misalnya, siswa diarahkan untuk belajar melalui persoalan atau masalah yang relevan. Sementara PjBL memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar melalui proses pengerjaan proyek.
Discovery Learning mendorong siswa menemukan dan membangun pemahamannya melalui proses pembelajaran, sedangkan SSCS memberikan alur bagi siswa untuk mencari informasi, menyelesaikan persoalan, menciptakan solusi, dan membagikan hasilnya.
Strategi RQA kemudian digunakan untuk mendorong aktivitas membaca, menyusun pertanyaan, dan memberikan jawaban sebagai bagian dari proses belajar.
Workshop tersebut dikemas dalam bentuk kegiatan yang lebih praktis. Guru tidak hanya duduk mendengarkan paparan materi, tetapi dilibatkan dalam diskusi, analisis contoh, simulasi, hingga micro-design perangkat ajar.
Dalam proses tersebut, guru didampingi untuk menyusun berbagai komponen pembelajaran, mulai dari tujuan pembelajaran, LKPD, media pembelajaran sederhana, pertanyaan pemantik, asesmen HOTS, hingga rubrik penilaian.
Pendekatan ini memungkinkan guru menghasilkan rancangan pembelajaran yang dapat langsung disempurnakan dan diterapkan di kelas.
Dengan demikian, kegiatan PkM tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi diarahkan untuk menghasilkan produk pembelajaran yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan guru dan siswa di sekolah mitra.
Tim PkM FKIP Undana juga menyiapkan tahapan lanjutan setelah workshop awal.
Program akan dilanjutkan melalui klinik perangkat ajar, implementasi pembelajaran, observasi kelas, coaching, refleksi berbasis lesson study sederhana, serta evaluasi proses dan hasil.
Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana model pembelajaran yang telah dirancang dapat diterapkan dalam kondisi nyata di ruang kelas.
Melalui observasi dan refleksi, guru dapat mengidentifikasi bagian pembelajaran yang sudah berjalan dengan baik sekaligus menemukan aspek yang masih perlu diperbaiki.
Pola pendampingan seperti ini diharapkan dapat membuat perubahan praktik pembelajaran berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.
Salah satu tujuan utama program tersebut adalah membuka ruang belajar yang lebih besar bagi siswa.
Dalam pembelajaran berbasis HOTS, siswa didorong untuk tidak hanya menghafal materi, tetapi menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memahami persoalan, menganalisis informasi, mengevaluasi berbagai kemungkinan, menghasilkan gagasan, serta menemukan solusi.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran diharapkan menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Guru memiliki peran penting sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar agar siswa berani bertanya, mengemukakan pendapat, berdiskusi, mencoba, dan merefleksikan proses belajarnya.
FKIP Undana menempatkan keberlanjutan sebagai salah satu bagian penting dari program PkM tersebut.
Perangkat ajar yang dihasilkan selama kegiatan diharapkan dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh guru sesuai karakteristik mata pelajaran dan kondisi peserta didik.
Keberlanjutan juga diarahkan melalui komunitas belajar guru, supervisi akademik, pemanfaatan perangkat ajar hasil pendampingan, serta pendampingan lanjutan.
Dengan cara tersebut, perubahan yang diharapkan tidak berhenti pada selesainya workshop, tetapi berkembang menjadi budaya pembelajaran dan refleksi di sekolah.
Program PkM FKIP Undana di Sumba Tengah pada akhirnya menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas guru sekaligus menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, kritis, kreatif, dan kontekstual.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, guru tidak hanya mendapatkan tambahan wawasan tentang pembelajaran inovatif, tetapi juga memperoleh pendampingan untuk membawa konsep tersebut ke dalam praktik nyata di kelas.
(Alberto)



Komentar Klik di Sini