BerandaBudaya20 Tahun Konsisten Nguri-Nguri Budaya! Njeng Sunan Pimpin Umbul Dungo di Grebek...

20 Tahun Konsisten Nguri-Nguri Budaya! Njeng Sunan Pimpin Umbul Dungo di Grebek Apem Sewu Penuntun Doa & Penyelaras Alam Kampung Sewu

SURAKARTA – METROPAGINEWS.COM || Grebek Apem Sewu perdana di Kampung Sewu Jebres Solo berlangsung khidmat. Njeng Sunan pimpin Umbul Dungo — 20 tahun konsisten lestarikan tradisi. Kirab dari Pohon Preh, larung Bengawan Solo, jamasan Tombak Bolo Sewu. Hadir Wawali Astrid Widayani Minggu (4/10)

 

Ada kehangatan yang berbeda di tepian Bengawan Solo pada 27 September 2026 lalu. Untuk perdana kalinya, tradisi Grebek Apem Sewu digelar di Kampung Sewu, Jebres, Surakarta berlangsung syahdu, penuh makna, dan dihadiri ribuan warga.

Desain tanpa judul 20261004 222634 0000
Tugu Apem Sewu

Acara yang menjadi wajah kekayaan tradisi Kota Solo ini dipusatkan di Taman Tugu Apem Sewu, tepat di tepi Sungai Bengawan Solo. Warga, budayawan, sesepuh, hingga jajaran pemerintahan tumpah ruah menjadi saksi keindahan warisan leluhur.

Hadir langsung Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, Camat Jebres, Lurah Jebres, para budayawan, dan tokoh masyarakat. Dalam sambutannya, Astrid sangat mengapresiasi kegiatan ini sebagai wujud nyata nguri-uri budaya yang patut dijaga dan diteruskan.

Desain tanpa judul 20261004 222207 0000
Pohon Preh

Kirab Bermakna: Jejak Sejarah dari Pohon Preh

Kanjeng Mufti sebagai perwakilan Njeng Sunan dan sekaligus budayawan memaparkan ” Rangkaian acara diawali kirab yang sarat filosofi, berangkat dari Pohon Preh juga dikenal sebagai Pohon Pamrih. Di sinilah, menurut cerita turun-temurun, Pangeran Mangkubumi adik kandung Sinuhun Pakubuwono II bermeditasi sebelum Perjanjian Giyanti 1755. Pangeran yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I inilah bagian dari cikal bakal kisah Kampung Sewu yang tak lekang waktu.”

Dari sana, prosesi berlanjut ke Larungan di Sungai Bengawan Solo simbol penyucian diri dan syukur kepada alam. Dilanjutkan seminar kebudayaan serta Jamasan Tombak Bolo Sewu, pusaka kebanggaan warga yang dijaga dengan penuh hormat.

Puncak Acara: Umbul Dungo, 20 Tahun Njeng Sunan Menuntun Doa.

Desain tanpa judul 20261004 221948 0000
Astrid Widayani Wakil Walikota Solo

Momen yang paling dinanti hadir: Umbul Dungo, dipimpin langsung oleh Njeng Sunan.

Kehadiran Njeng Sunan bukan sekadar tamu undangan. Komunitas doa yang diasuh Kyai Hartoto Kusnin ini telah 20 tahun konsisten hadir menjadi penuntun doa di berbagai acara kebudayaan setia, tulus, tak pernah absen menjaga harmoni.

“Njeng Sunan sendiri sudah berjalan selama 20 tahun. Unsurnya adalah penghormatan kepada alam wujud rasa syukur kita kepada semesta,” ungkap salah satu anggota Njeng Sunan.

Dalam Grebek Apem Sewu ini, Njeng Sunan mewakilkan doa tulus dari seluruh warga: agar Kampung Sewu senantiasa diberi kemakmuran, kelancaran, dan kesejahteraan yang melimpah.

Suasana berubah syahdu saat dzikir, sholawat, dan tembang macapat dikumandangkan serentak. Njeng Sunan hadir bukan sekadar memimpin melainkan menjadi jembatan: menyelaraskan hidup manusia dengan alam, agar setiap langkah senantiasa diterangi keberkahan.

Tradisi Adalah Doa yang Hidup

Kehadiran Njeng Sunan menegaskan: tradisi bukan sekadar tontonan atau upacara. Ia adalah doa, rasa syukur, dan ikatan batin antara manusia dengan alam. Dua puluh tahun kesetiaan itu adalah bukti — budaya tidak diwariskan begitu saja, melainkan dijaga dengan ketekunan setiap hari.

Semoga semangat Grebek Apem Sewu dan Njeng Sunan terus menginspirasi: agar Bengawan Solo tetap mengalir jernih, Kampung Sewu tetap lestari, dan rasa syukur kepada alam tak pernah pudar dari hati kita.

 

Reporter: Tim Liputan METROPAGINEWS.COM

Editor: Desi Apriani

Komentar Klik di Sini