KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Kisah inspiratif Gondho dari buruh jadi pemilik peternakan sapi potong dengan 200+ ekor sapi, jadi tempat magang, tapi belum pernah mendapatkan perhatian atau dukungan dari pemerintah desa maupun dinas terkait.Kamis (28/5/2026)
Kesuksesan tidak selalu datang dari dukungan modal besar sejak awal. Buktinya, Gondho warga Desa Barukan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, kini dikenal sebagai pengusaha peternakan sapi potong yang mandiri dan berprestasi tinggi. Bermodal pengalaman dan ilmu yang didapat saat menjadi buruh ternak belasan tahun lalu, ia kini mampu membangun usaha sendiri dengan populasi lebih dari 200 ekor sapi, menjadi tempat magang resmi, serta menyerap tenaga kerja anak muda warga sekitar.

Perjalanan usaha Pak Gondo dimulai sejak tahun 2001. Awalnya hanya berbekal keberanian dan pengetahuan yang ia dapatkan secara langsung saat bekerja membantu orang lain. Merasa sudah cukup paham seluk-beluk dunia peternakan dan merasa mampu untuk berdiri sendiri, perlahan namun pasti ia mulai merintis usahanya sendiri dari nol. Kini, namanya dikenal luas, bahkan peminat dan pembeli sapi potongnya banyak yang datang dari luar daerah Klaten karena kualitas ternaknya yang terjamin dan terawat baik.
Tidak hanya peternakan di lingkungan sekitarnya pun Gondo memanfaatkan lahan yang diberi pupuk sisa kotoran sapi untuk menanam seperti jeruk dan cabai,
Yang membuat usaha Gondho ini istimewa dan patut diacungi jempol adalah manajemen pengelolaannya yang sangat rapi, bersih, dan ketat mengikuti standar prosedur yang seharusnya diterapkan. Tidak sekadar beternak demi keuntungan semata, Gondho sangat memperhatikan segala aspek, mulai dari kebersihan lingkungan kandang, kualitas pakan, hingga kesehatan hewan ternaknya secara menyeluruh.
Setiap hari, tanpa terkecuali, kandang dan seluruh area peternakan disemprot cairan pembersih dan anti virus dua kali sehari, tepat pada pagi dan sore hari, demi mencegah segala jenis penyakit. Karena ketelatenan dan kesungguhan itulah, kualitas sapi-sapi miliknya selalu dalam kondisi prima, sehat, berbadan besar, dan bebas penyakit. Bahkan, karena manajemennya yang sudah terstandar layaknya peternakan besar modern, tempat usahanya kini dipercaya menjadi lokasi pendidikan dan tempat magang bagi mereka yang ingin belajar mendalam dunia peternakan.
Lebih membanggakan lagi, usaha yang dirintis Gondho ini turut andil besar dalam mengurangi angka pengangguran di desanya. Seluruh tenaga kerja yang dipekerjakannya adalah anak-anak muda warga Desa Barukan dan sekitarnya. Mereka dibina, dilatih keterampilannya, dan diberi penghasilan layak dari keringat usaha yang dibangunnya.
“Masih ingat sekali dulu saya hanya ikut orang, bekerja sebagai buruh membantu mengurus ternak. Lama-kelamaan saya rasa ilmu dan pengalaman saya sudah cukup, akhirnya memberanikan diri buka usaha sendiri modal kemampuan yang ada. Alhamdulillah sampai sekarang terus berjalan dan berkembang meski bertahap,” kenang Pak Gondho saat berbincang dengan awak media.

Berjalan Sendiri Tanpa Sentuhan Pemerintah
Di balik kesuksesan yang gemilang dan manfaat besar yang dirasakan warga sekitar, ada sisi lain yang cukup ironis dan menjadi keluhan mendalam Gondho selama ini. Sebagai aset ekonomi desa yang nyata, produktif, dan sudah berskala besar, ternyata keberadaan peternakan miliknya ini sama sekali belum pernah mendapatkan perhatian khusus, pembinaan, maupun dukungan nyata dari Pemerintah Desa Barukan maupun instansi teknis terkait seperti Dinas Peternakan atau Dinas Pertanian Kabupaten Klaten.
Segala fasilitas, ilmu tambahan, permodalan, hingga cara mengelola limbah dan kebersihan yang dilakukan Pak Gondo adalah murni hasil kerja keras, biaya sendiri, dan usaha mandirinya. Tidak ada penyuluh yang datang memberikan arahan, tidak ada pendampingan teknis, dan tidak ada bantuan fasilitas yang diterima, padahal usaha ini jelas-jelas memberikan dampak ekonomi yang besar dan positif bagi desa maupun daerah.
“Sampai saat ini saya jalani semuanya sendiri, Bu. Mulai dari cari pakan, atur jadwal kebersihan, atur kesehatan hewan, sampai urusan administrasi semuanya saya atur sendiri. Belum pernah ada penyuluh dari dinas yang datang melihat, belum ada pendampingan dari desa. Padahal kalau ada arahan atau dukungan, mungkin bisa lebih berkembang lagi usahanya, lebih tertata lagi, dan lebih bermanfaat lagi buat warga sekitar,” ungkap Gondho.
Padahal, sebagaimana aturan dan tupoksi pemerintahan, potensi ekonomi warga yang sudah berskala besar, dikelola dengan rapi, dan memberikan dampak sosial seperti milik Gondho seharusnya menjadi prioritas utama untuk didata, dibina, dan difasilitasi. Keberadaan usaha ini bukan lagi urusan perorangan, melainkan sudah menjadi potensi unggulan desa yang seharusnya masuk dalam data potensi desa maupun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa).
Pertanyaan Besar untuk Pemangku Kebijakan
Fakta ini tentu memunculkan pertanyaan besar: Di mana peran pemerintah desa dan dinas terkait dalam memetakan serta membina potensi warga? Apakah pemimpin wilayah hanya bekerja saat ada bantuan yang dibagikan, namun absen saat warga sudah mandiri dan sukses building ekonomi sendiri?
Padahal, jika Gondho yang sudah terbukti bisa mengelola usaha dengan rapih patuh pada standar dan bermanfaat bagi masyarakat,dan mendapatkan sentuhan tangan dingin pemerintah, bisa dipastikan manfaatnya akan berlipat ganda. Ia bisa menjadi percontohan, pembina bagi peternak lain, dan penggerak ekonomi desa yang sesungguhnya.
Kisah Gondho menjadi bukti nyata bahwa rakyatnya hebat-hebat, mandiri, dan berprestasi meski tanpa bantuan. Namun, hal ini juga menjadi catatan keras: kesuksesan warga jangan sampai membuat pemerintah “tertidur”. Justru warga yang sudah berprestasi dan beretos kerja tinggi inilah yang seharusnya menjadi mitra utama pemerintah untuk memajukan desa dan daerah.
Kini, publik menanti langkah apa yang akan diambil Pemerintah Desa Barukan, Kecamatan Manisrenggo, maupun Pemerintah Kabupaten Klaten. Apakah akan membiarkan aset berharga ini tetap berjalan sendiri, atau justru akan bergerak cepat untuk mendukung dan membesarkan potensi yang sudah ada di depan mata?
Kisah Gondho mengingatkan kita bahwa potensi besar rakyat seringkali ada di depan mata namun belum tergarap dengan baik. Semoga perhatian pemerintah segera datang agar usaha yang sudah terbukti bermanfaat ini bisa berkembang lebih jauh dan menjadi contoh bagi banyak orang.
( Desi )


Komentar Klik di Sini