BANYUWANGI – METROPAGINEWS.COM || Yayasan Candi Purwo Gumuk Gadung (CPGG) terus memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian cagar budaya dan lingkungan di kawasan hutan wilayah BKPH Blambangan Perhutani Selatan, Banyuwangi.
Komitmen tersebut diwujudkan secara bertahap dan berkelanjutan melalui sejumlah program, di antaranya penanaman tanaman serta persiapan pemasangan plang imbauan di sejumlah titik yang dinilai membutuhkan perhatian.
Ketua Yayasan Candi Purwo Gumuk Gadung, I Wayan Sucita, mengatakan pihaknya tengah mempersiapkan berbagai langkah untuk mewujudkan kawasan Candi Purwo sebagai ruang edukasi sekaligus kawasan yang pelestariannya harus dijaga secara bersama-sama.
“Kami sudah mengirimkan surat kepada BKPH Blambangan Perhutani Wilayah Selatan untuk melakukan koordinasi. Kami juga menyampaikan komitmen Candi Purwo untuk ikut mengelola dan menjaga kawasan sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujar Wayan.
Menurutnya, upaya penataan Candi Purwo Gumuk Gadung telah dilakukan sejak lebih dari 25 tahun lalu. Proses tersebut terus berlanjut hingga pada 2011 bangunan Candi Purwo diresmikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi.
Dalam perkembangannya, pihak yayasan menemukan sejumlah persoalan lingkungan, salah satunya masih adanya area yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah sembarangan.
Kondisi tersebut menjadi keprihatinan sekaligus mendorong yayasan untuk memasang plang imbauan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan serta ikut menjaga kebersihan dan kelestarian vegetasi di kawasan hutan.
Sementara itu, Founder Djawadwipablambangan, Mas Tyo, bersama Koordinator Cagar Alam Konservasi, Budy Amboyna, menyatakan siap bersinergi dengan BKPH Blambangan Perhutani Wilayah Selatan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.
Menurut Mas Tyo, sejumlah pihak sebelumnya telah melihat langsung beberapa titik yang dinilai membutuhkan perhatian khusus.
“Bersama Pak Asper BKPH Blambangan beserta Polhut dan sejumlah tokoh masyarakat Pondokasem, kami sudah melihat langsung beberapa titik yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Mulai dari saluran sodetan air yang berpotensi mengakibatkan banjir, penanaman mangrove sebagai penyangga abrasi, hingga sejumlah lokasi yang akan dipasang plang imbauan,” jelasnya.
Ia berharap sinergi antara yayasan, Perhutani, tokoh masyarakat, dan warga dapat terus diperkuat sehingga upaya pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak.
Di sisi lain, Asper BKPH Blambangan Perhutani Wilayah Selatan, Hermawan, menyampaikan apresiasi atas komunikasi dan rencana sinergi tersebut.
“Kami mengapresiasi adanya komunikasi dan sinergi ini. Ke depan, tentunya perlu terus berdiskusi bersama untuk mewujudkan suasana yang harmonis dan kondusif dalam menjaga serta melestarikan lingkungan alam,” ujar Hermawan.
Upaya pelestarian Candi Purwo Gumuk Gadung dan kawasan sekitarnya diharapkan dapat menjadi bagian dari edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga cagar budaya sekaligus ekosistem hutan. Dengan keterlibatan berbagai pihak, kawasan tersebut diharapkan tetap terjaga dan dapat memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
(Tyo)



Komentar Klik di Sini