BerandaEntertainmentMusicDari Manggarai ke Musik Populer, Herto Bastian Abul Teguhkan Identitas Flores

Dari Manggarai ke Musik Populer, Herto Bastian Abul Teguhkan Identitas Flores

JAKARTA – METROPAGINEWS.COM || Herto Bastian Abul merupakan sosok kreatif yang tak mudah ditempatkan dalam satu label. Selain dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu, ia juga memiliki perjalanan di dunia komunikasi dan pendidikan tinggi. Latar belakang Hubungan Internasional hingga studi sastra membuat Herto terbiasa melihat cerita dari berbagai sudut, baik melalui musik maupun dunia akademik. (01/08/2026)

Di balik perjalanan tersebut, ada satu benang merah yang terus ia bawa, yakni identitas. Lahir dan besar di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Herto menjadikan daerah asalnya bukan sekadar bagian dari biodata, melainkan sumber inspirasi dalam berkarya. Kecintaannya terhadap budaya lokal juga pernah ia sampaikan saat terlibat dalam Flores The Singing Island Virtual Festival pada 2021.

Identitas Flores kemudian hadir melalui pilihan bahasa dalam musiknya. Herto menulis dan menyanyikan lagu dalam bahasa Indonesia, Inggris, hingga Manggarai. Salah satu karya yang paling dekat dengannya adalah “Momangm E”, lagu berbahasa Manggarai yang membuktikan bahwa musik lokal tetap dapat menyentuh pendengar meski mereka tidak memahami seluruh makna liriknya.

Dari Manggarai ke Musik Populer, Herto Bastian Abul Teguhkan Identitas Flores

BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider

Perjalanan musikal Herto telah berlangsung sejak album “Laboratory” pada 2019. Setelah itu, ia menghadirkan berbagai karya seperti “Beautiful Day”, “You’re My God”, “Here I Am”, “Sa Minta Maaf”, “Tuhan Atur Ulang”, dan “Apa Masalahnya”. Pada 2026, ia kembali dengan “Ca Ca Laku Lelon” bersama Petra Dolla, yang membawa bahasa serta realitas sosial Manggarai ke dalam ruang musik populer.

“Ca Ca Laku Lelon” juga menunjukkan keberanian Herto mengangkat sisi budaya yang tidak selalu nyaman. Lagu tersebut membuka ruang perbincangan mengenai bahasa, representasi, dan realitas sosial masyarakat Manggarai. Bagi Herto, kebudayaan bukan hanya tentang keindahan yang dipamerkan, tetapi juga cerita, humor, konflik, dan berbagai persoalan yang menjadi bagian dari kehidupan.

Di luar musik, Herto tetap aktif di bidang komunikasi dan pendidikan tinggi, termasuk menjalani aktivitas profesional di Universitas Kristen Indonesia. Dua dunia tersebut justru memiliki titik temu yang kuat: sama-sama menggunakan cerita untuk membangun makna. Perjalanan Herto menunjukkan bahwa menjadi modern tidak harus meninggalkan akar budaya. Sebab, bagi dirinya, kreativitas dapat membuat seseorang terlihat, tetapi identitas lah yang membuatnya memiliki sesuatu untuk dikatakan.

(Ysf)

Komentar Klik di Sini