SURABAYA – METROPAGINEWS.COM || Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, anak muda tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan tentang masa depan. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: untuk apa sebenarnya hidup ini dijalani ?
Setiap hari, berbagai hal seolah harus dikejar. Pendidikan, pekerjaan, karier, penghasilan, relasi, pencapaian, popularitas, hingga keinginan menjadi versi terbaik dari diri sendiri, Selasa (1/9/2026)
Namun, di tengah hiruk-pikuk tersebut, ada satu hal yang terkadang terlupakan: hubungan manusia dengan Tuhan.
Pertanyaan mengenai seberapa penting bertuhan bagi anak muda menjadi pembahasan menarik dalam kajian bertema “Sepenting Apa Sih BERTUHAN Buat Anak Muda?” yang menghadirkan Ustadz Nur Fajri Romadhon, B.Sh., M.A. sebagai pemateri.

Kajian tersebut tidak sekadar membahas agama sebagai identitas. Lebih jauh, pembahasannya mengajak generasi muda memahami bahwa keimanan kepada Tuhan dapat menjadi fondasi dalam menentukan arah kehidupan.
Mengapa Anak Muda Perlu Memahami Makna Bertuhan?
Menjadi anak muda berarti berada pada fase kehidupan yang penuh pilihan.
Ada banyak jalan yang dapat ditempuh, keputusan yang harus dibuat, serta berbagai suara dari lingkungan yang ikut membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Media sosial seolah mengatakan bahwa seseorang harus sukses. Lingkungan menghadirkan berbagai standar. Dunia kerja menuntut produktivitas. Pergaulan menawarkan beragam gaya hidup.
Sementara dari dalam diri muncul pertanyaan:
“Sebenarnya saya ingin menjadi siapa?”
Di titik inilah pemahaman tentang Tuhan menjadi penting.
Bertuhan bukan sekadar mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Bertuhan juga berarti memahami siapa diri manusia, dari mana ia berasal, untuk apa ia diciptakan, dan ke mana pada akhirnya ia akan kembali.
Ketika pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut memiliki jawaban, seseorang memiliki pegangan ketika harus menentukan pilihan dalam kehidupannya.
Hidup Bukan Sekadar Mengejar Keinginan
Salah satu pelajaran penting dari pembahasan tentang bertuhan adalah perubahan cara memandang kehidupan.
Tanpa fondasi yang kuat, manusia mudah menjadikan keinginan sebagai pusat kehidupannya.
Apa yang ingin dimiliki harus didapatkan. Apa yang ingin dicapai harus dikejar. Apa yang dilakukan orang lain harus diikuti.
Padahal, tidak semua yang diinginkan manusia selalu membawa kebaikan bagi dirinya.
Karena itu, ketika seseorang mengenal Tuhan, pertanyaan dalam dirinya mulai berubah.
Bukan hanya, “Apa yang saya inginkan?”
Tetapi juga, “Apakah yang saya inginkan ini benar?”
Bukan hanya, “Bagaimana saya bisa sukses?”
Tetapi, “Untuk apa kesuksesan itu saya gunakan?”
Dan bukan sekadar, “Bagaimana agar saya dikenal banyak orang?”
Melainkan, “Untuk apa saya ingin dikenal?”
Perubahan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah cara seseorang menjalani hidup.
Ketika Gagal, Iman Membantu Seseorang Tidak Kehilangan Arah
Anak muda akan berhadapan dengan kegagalan.
Ada cita-cita yang tidak tercapai, pekerjaan yang tidak sesuai harapan, hubungan yang berakhir, bisnis yang jatuh, rencana yang gagal, atau masa depan yang tiba-tiba terasa tidak jelas.
Jika keberhasilan menjadi satu-satunya ukuran harga diri, kegagalan dapat membuat seseorang merasa tidak berharga.
Namun, keimanan memberikan perspektif yang berbeda.
Nilai seorang manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil dicapainya. Seseorang tetap memiliki nilai meskipun sedang berada dalam fase perjuangan.
Kegagalan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Kesulitan tidak selalu berarti kehidupan telah kehilangan arah.
Justru dalam keadaan seperti itu, seseorang dapat kembali mengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Ada Tuhan sebagai tempat bergantung.
Ada proses yang harus dijalani.
Dan ada pelajaran yang mungkin belum terlihat pada saat itu.
Begitu Juga Ketika Berhasil
Kebutuhan manusia kepada Tuhan tidak hanya muncul ketika sedang mengalami kesulitan.
Ketika memperoleh keberhasilan pun manusia membutuhkan Tuhan.
Karier meningkat, penghasilan bertambah, nama semakin dikenal, dan karya mendapatkan apresiasi. Pada titik tersebut, seseorang bisa saja lupa bahwa dirinya tetap manusia yang memiliki keterbatasan.
Kesadaran bertuhan dapat menjadi pengingat agar keberhasilan tidak berubah menjadi kesombongan.
Dengan demikian, iman bukan hanya menjadi tempat bersandar ketika seseorang jatuh, tetapi juga menjadi kompas ketika ia sedang berada di atas.
Anak Muda Tetap Boleh Bermimpi Besar
Memahami pentingnya bertuhan bukan berarti anak muda harus berhenti mengejar dunia.
Justru sebaliknya.
Anak muda tetap perlu memiliki mimpi besar. Boleh ingin menjadi pengusaha, membangun perusahaan, memiliki karier profesional, menghasilkan karya, ataupun memiliki kehidupan yang mapan.
Yang berubah adalah orientasinya.
Kesuksesan tidak lagi ditempatkan sebagai tujuan akhir kehidupan, tetapi sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk menghadirkan manfaat.
Uang dapat menjadi sarana kebaikan.
Ilmu dapat menjadi sarana memberi manfaat.
Karier dapat menjadi sarana pengabdian.
Popularitas dapat digunakan untuk menyebarkan sesuatu yang positif.
Dengan cara pandang tersebut, ambisi tidak harus dimatikan. Ambisi justru diarahkan agar memiliki nilai dan manfaat.
Tiga Pertanyaan yang Layak Dibawa Pulang
Setelah membaca atau merenungkan pembahasan tentang bertuhan, setidaknya ada tiga pertanyaan yang layak diberikan kepada diri sendiri.
Pertama, dari mana saya berasal?
Kesadaran bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan membuat kehidupan tidak lagi dipandang sebagai sebuah kebetulan tanpa tujuan.
Kedua, untuk apa saya hidup?
Pertanyaan ini membantu seseorang membedakan antara keinginan dan tujuan hidup. Tidak semua yang ingin dimiliki harus menjadi pusat kehidupan.
Ketiga, ke mana saya akan kembali?
Kesadaran tentang kehidupan setelah dunia membuat manusia lebih berhati-hati dalam menggunakan waktu, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
Tiga pertanyaan tersebut dapat menjadi semacam kompas kehidupan.
Ketika seseorang bingung menentukan pilihan, ia dapat kembali kepada pertanyaan tentang tujuan hidupnya.
Bertuhan Membuat Anak Muda Tidak Mudah Kehilangan Diri
Ada manfaat lain yang tidak kalah penting.
Ketika seseorang memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan, ia tidak harus terus-menerus mencari validasi dari dunia.
Tidak harus selalu mendapatkan pujian. Tidak harus selalu terlihat berhasil. Tidak harus terus membuktikan dirinya kepada semua orang.
Sebab, ia memiliki standar nilai yang lebih dalam daripada sekadar penilaian manusia.
Hal ini semakin relevan di era media sosial, ketika kehidupan seseorang sangat mudah dibandingkan dengan kehidupan orang lain.
Apa yang terlihat di layar sering kali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang.
Jika tidak memiliki fondasi yang kuat, seseorang mudah merasa tertinggal.
Padahal, setiap manusia memiliki perjalanan yang berbeda.
Mengenal Tuhan dapat membantu seseorang kembali mengenal dirinya sendiri.
Dari Kajian Menuju Ruang Tumbuh Anak Muda
Pembicaraan tentang bertuhan tentu tidak cukup berhenti pada sebuah kajian.
Anak muda membutuhkan ruang untuk terus belajar, bertanya, berdiskusi, dan bertumbuh.
Di sinilah keberadaan Pendopo Iman menjadi menarik dalam ekosistem dakwah yang dekat dengan generasi muda.
Pendopo Iman merupakan bagian dari semangat Pusat Dakwah Jalan Pelan, sebuah gerakan dakwah yang berupaya merangkul anak muda melalui pendekatan yang lebih dekat, hangat, dan tidak tergesa-gesa.
Semangatnya sederhana: mengajak manusia berjalan mendekat kepada kebaikan, sedikit demi sedikit, dengan kesadaran dan proses.
Di balik gerakan tersebut terdapat sosok Ustadz Umaier Khaz, seorang dai yang aktif membangun ruang dakwah dan pembelajaran bagi masyarakat, termasuk generasi muda.
Pendekatan seperti ini menjadi penting karena dakwah kepada anak muda tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang formal dan kaku.
Terkadang, seseorang hanya membutuhkan tempat untuk datang, mendengar, bertanya, kemudian perlahan menemukan kembali arah hidupnya.
Pendopo Iman, Ruang untuk Terus Belajar
Bagi anak muda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai kajian, kegiatan, dan agenda dakwah yang berlangsung, informasi terbaru dapat diikuti melalui Instagram @pendopoiman dan @umaierkhaz.
Melalui kedua kanal tersebut, masyarakat dapat mengikuti informasi kegiatan dan jadwal kajian dari waktu ke waktu.
Sebab, perjalanan mendekat kepada Tuhan bukan sesuatu yang harus selalu dilakukan dengan langkah besar.
Terkadang cukup dimulai dengan satu kajian.
Satu pertanyaan.
Satu perenungan.
Satu keputusan untuk memperbaiki diri.
Dan satu langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mungkin itulah makna “Jalan Pelan”.
Bukan berarti berhenti bergerak, tetapi memilih untuk terus berjalan dengan sadar.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar dalam kehidupan bukan hanya:
“Seberapa jauh kita sudah berhasil?”
Melainkan:
“Ke arah mana kita sedang berjalan?”
Dan bagi manusia yang meyakini Tuhan, mengetahui arah perjalanan mungkin jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui seberapa cepat ia sampai.
(Redho Fitriyadi)


Komentar Klik di Sini