Sabtu, Maret 2, 2024

Digitalisasi Tata Kelola Perguruan Tinggi

Must Read

OPINI – metropaginews.com || Mengantisipasi dinamika perubahan yang begitu cepat dan tantangan yang semakin kompleks, pendidikan tinggi harus mengupayakan segala macam cara dalam meningkatkan daya saing lulusan yang memiliki softskill dan kompetensi sebagai nilai tambah saat diterima di dunia kerja.

Perguruan tinggi juga harus terus meningkatkan mutu pendidikan dengan tata kelola perguruan tinggi yang baik atau Good University Governance (GUG) yang baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan sesuai dengan aturan yang berlaku (Wahyudin dkk, 2017). Dengan menerapkan GUG maka perguruan tinggi akan mampu bersaing dan akan tetap terjaga eksistensinya.

Banyak unsur-unsur strategis yang harus diperbaiki dan ditingkatkan dalam pengembangan perguruan tinggi diantaranya kualitas program akademik, kualitas sumberdaya manusia, kualitas sarana prasarana, dan suasana akademik yang mendukung. Agar unsur-unsur strategis tersebut bisa ditingkatkan, maka perlu didukung dengan metode untuk merealisasikannya yaitu dengan tata kelola yang baik atau berkualitas.

Karena itu, untuk menghadapi tingkat persaingan yang semakin tinggi di antara perguruan tinggi di Indonesia, maka setiap perguruan tinggi membutuhkan perubahan yang fundamental untuk bisa bersaing di era kemajuan teknologi informasi, apalagi menargetkan untuk bisa berkiprah dalam kompetisi global.

Sistem tata kelola yang baik, dapat menjamin adanya proses kesejajaran, kesamaan, kohesi, dan keseimbangan peran, serta adanya saling mengontrol yang dilakukan oleh komponen atau pihak yang terkait. Menurut Syakhroza (2003), GUG didefinisikan sebagai suatu mekanisme tata kelola organisasi secara baik dalam melakukan pengelolaan sumber daya organisasi secara efisien, efektif, ekonomis ataupun produktif dengan prinsip-prinsip terbuka, akuntabilitas, pertanggung jawaban, independen, dan adil dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

GUG merupakan suatu konsep yang muncul karena kesadaran bahwa penyelenggaraan pendidikan tinggi, memang tidak dapat disamakan dengan pengelolaan sebuah negara atau korporasi. Perbedaannya adalah berkaitan dengan nilai-nilai luhur pendidikan yang harus dijaga dan diimplementasikan dalam proses pendidikan. Sehingga, sangat perlu ditentukan suatu indikator perguruan tinggi telah menerapkan GUG atau tidak, dan bisa diketahui sejauhmana perguruan tinggi tersebut mampu menyikapi dinamika yang terjadi dalam penyelenggaraannya tanpa mencampakan nilai-nilai luhur bangsa dan amanat yang diembannya dari masyarakat, bangsa dan negara (Rahayu & Wahab, 2013).

Untuk mencapai GUG, diperlukan suatu gerakan perubahan budaya organisasi yang dilakukan secara simultan dengan memperhatikan produktifitas aspek pengembangan tri darma perguruan tinggi dan manajemen mutu perguruan tinggi. Sehingga, kadang-kadang diperlukan reorganisasi dan pemberdayaan di semua lini organisasi, hingga tercapainya kesuksesan organisasi sebagaimana tujuan yang dicita-citakan.

Tata kelola sebuah perguruan tinggi bergantung kepada faktor-faktor tersebut yang terintegrasi satu sama lain. Jika salah satu faktor kurang baik maka memiliki dampak yang kurang baik terhadap faktor lainnya dan tentunya menyebabkan tata kelola sebuah perguruan tinggi menjadi kurang baik. Dengan demikian, sistem tata kelola merupakan bagian integral dari tanggung jawab pimpinan perguruan tinggi, termasuk di dalamnya adalah fakultas/ jurusan/ program studi, dosen, dan karyawan.

Tata kelola informasi (data) dan digitalisasi termasuk pengetahuan tentang management system yang berbasis pada pengembang informasi dan teknologi. Penerapan teknologi informasi secara langsung akan mempengaruhi pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan pendidikan yang lebih spesifik. Keberadaan teknologi informasi memiliki dampak penting terhadap tata kelola perguruan tinggi dan dalam pengembangan tri darma perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang sehat harus memiliki perencananaan strategis dalam menyembangkan teknologi informasi dan digitalisasi, mulai dari tata kelola yang baik, sistem aplikasi pendukung management area fungsional, hingga tata kelola sistem perpustakaan yang berbasis digitalisasi.

Kemajuan teknologi, informasi dan digitalisasi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi terhadap kemajuan tersebut. Perguruan tinggi yang sehat adalah perguruan tinggi yang mampu merespon terhadap kemajuan teknologi tersebut. Kemajuan teknologi sangat memungkinan untuk menjadi suatu alternatif dalam memecahkan berbagai masalah-masalah dalam dunia pendidikan.

Sebab dengan kemajuan teknologi pendidikan mampu memberikan informasi yang lebih luas, lebih cepat, serta mudah diakses oleh para praktisi lainnya.

Revolusi teknologi informasi dan digitalisasi telah menjanjikan struktur interaksi manusia yang lebih cepat dan lebih efisien dengan kualitas yang sama. Revolusi informasi global merupakan keberhasilan manusia modern dalam menyatukan kemampuan komputasi matematis dengan media elektronik dan media cetak menjadi terintegrasi antara satu dengan yang lainnya.

Hal ini adalah suatu kombinasi revolusi di bidang komputer personal, transmisi data, lebar pita (bandwitdh), teknologi penyimpanan data (data storage), dan penyampaian data (data access), integrasi multimedia dan jaringan komputer. Konvergensi dari revolusi teknologi tersebut telah menyatukan berbagai media, yaitu suara (voice, audio), video, citra (image), grafik, dan teks (Sallis, 2018). Hal ini terjadi sebagai akibat dari revolusi teknologi informasi yang telah merubah kehidupan manusia dengan cara kerja yang lebih kreatif, efektif, dan praktis.
Sistem tata kelola perguruan tinggi dalam dalam era informasi dan digitalisasi akan berhasil, jika awali dengan penyusunan visi, misi, dan rencana strategis bersama para stakehorders.

Sistem tata kelola perguruan tinggi juga harus memperhatikan prinsip GUG dalam mengurangi resiko kesalahan dalam pengelolaannya. Dengan memperhatikan ruang lingkup GUG yang meliputi unsur perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan peningkatan kualitas secara terus menerus dilakukan berdasarkan monitoring dan evaluasi.

Perwujudan tata kelola yang diharapkan harus dilakukan secara bertahap, terencana, dan terprogram dengan kerangka waktu yang jelas mulai dari tata kelola penjaminan mutu, tata kelola aspek fungsional termasuk tata kelola keuangan, dan tata kelola informasi dan digitalisasi. Dengan demikian, belajar dari praktek perguruan tinggi kelas dunia dapat dilakukan dengan memperoleh kiat sukses agar tata kelola perguruan tinggi menjadi lebih berkualitas serta menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap bersaing.

Penulis : Dr ( Cand ) Pawid Wartono, S.E, S.AB, M.M
Konsultan Perguruan Tinggi

ONLINE TV NUSANTARA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest News

Korban Penipuan Minta LP, Polres Magetan Enggan Keluarkan LP, Pengamat Kepolisian Didi Sungkono Bicara

SURABAYA - METROPAGINEWS.COM || Polres Magetan Polda Jatim, tolak mengeluarkan Laporan Polisi (LP) dalam kasus penipuan yang menimpa korban...

More Articles Like This


Notice: ob_end_flush(): Failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/metropaginews/public_html/wp-includes/functions.php on line 5373