SURAKARTA – METROPAGINEWS.COM || Gelaran tahunan Jamasan Gangsa dan Kirab Budaya menghiasi Taman Sriwedari Surakarta. Acara bukan hanya jaga identitas bangsa, tapi juga libatkan generasi muda dan dorong ekonomi UMKM sekitar.Rabu (8/7/2026)
Gema gamelan dan iring-iringan kirab budaya kembali mewarnai kawasan Taman Sriwedari dan Gedung Wayang Orang Sriwedari pada Selasa (07/07/2026). Ratusan warga, pelajar, pelaku UMKM, seniman, dan stakeholder berkumpul dalam gelaran tahunan Jamasan Gangsa dan Kirab Budaya, yang didukung Pemerintah Kota Surakarta bersama Dinas Kebudayaan.
Tradisi ini tidak hanya menjadi wujud penghormatan kepada leluhur, tapi juga bukti bahwa Gedung Sriwedari masih menjadi denyut nadi dan sentra kesenian di Kota Surakarta.

JAMASAN: RITUAL SUCI UNTUK TIGA PUSAKA KERAMAT
Dalam tradisi Jawa, jamasan memiliki arti “memandikan” benda-benda pusaka, dengan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar membersihkan fisik. Ada tiga makna utama dalam prosesi ini:
– Pembersihan secara spiritual untuk membuang energi negatif dan kotoran batin
​
– Penghormatan kepada leluhur karena pusaka dianggap memiliki jiwa dan jasa sejarah
​
– Memohon berkah dan keselamatan bagi seluruh masyarakat
Tahun ini, tiga pusaka keramat yang dijamas adalah Kyai Bagus, Kyai Slamet, dan Nyai Denok. Ketiganya diarak dalam kirab budaya sebelum akhirnya dimandikan dengan air kembang 7 rupa diiringi doa bersama.

KEBUDAYAAN ADALAH IDENTITAS BANGSA, HARUS DIJAGA
BRM Kusumo Putro, yang mewakili Forum Budaya Mataram, Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia, serta Forum Komunitas Masyarakat Sriwedari, menegaskan pentingnya tradisi ini terus dilestarikan.
“Tradisi ini harus dilakukan sebagai bentuk rasa kepedulian dan penghormatan. Karena kebudayaan merupakan kekayaan dan identitas bangsa. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi,” ujar BRM Kusumo Putro di sela acara.
Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan ISSI, pengelola pagelaran Wayang Orang Sriwedari, serta Wakil Wali Kota Surakarta yang menunjukkan dukungan penuh dari pemerintah daerah.

PERAN PENTING GENERASI MUDA: KUNCI KEBERLANJUTAN BUDAYA
Sorotan utama dalam acara ini adalah keterlibatan para pelajar. Menurut panitia dan pengurus komunitas, mengenalkan budaya sejak dini adalah kunci agar tradisi tidak punah.
Siafik, Ketua Forum Komunitas Sriwedari, menekankan hal yang sama. “Adat yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi sebuah budaya. Pentingnya keterlibatan anak-anak usia sekolah untuk diperkenalkan budaya,” katanya.
Banyak orang tua yang sengaja mengajak anaknya untuk menyaksikan langsung kirab dan ritual jamasan. “Anak-anak sekarang main HP terus. Bagus ada acara kayak gini biar tahu budaya Jawa itu seperti apa,” ujar Pak Sugeng, warga Laweyan.
DAMPAK POSITIF: UMKM DAN WARGA SEKITAR TERGERAK
Selain melestarikan budaya, gelaran ini juga memberikan dampak ekonomi positif bagi warga sekitar. Para pelaku usaha kuliner dan cinderamata di area Sriwedari mengaku omzet mereka meningkat signifikan saat acara berlangsung.
“Alhamdulillah tiap ada acara di Sriwedari pasti rame. Kami jualan jamu, dawet, sampai souvenir laku keras. Semoga tiap bulan ada kegiatan budaya di sini,” ceria Ibu Yanti, salah satu pedagang kaki lima di Taman Sriwedari.
SRIWEDARI: RUMAHNYA SENI YANG HARUS TETAP HIDUP
Siafik juga menyoroti pentingnya menjadikan Sriwedari sebagai pusat kegiatan budaya berkelanjutan. “Dengan dukungan dari Pemerintah Kota, kami berharap cagar budaya seperti museum, pertunjukan Wayang Orang, dan lainnya dapat terus dikenal. Sekaligus juga membangun UMKM,” tegasnya.
“Gedung Sriwedari ini sudah dari dulu jadi rumahnya seniman. Tugas pemerintah adalah mendukung penuh agar sentra kesenian ini tetap hidup, dan generasi muda mau mengikuti jejak sejarah,” pungkasnya.
Ritual Jamasan Gangsa di Sriwedari menjadi pengingat bahwa melestarikan budaya bukan hanya tugas budayawan atau pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama dari komunitas, seniman, pelaku UMKM, hingga anak muda sebagai penerus bangsa untuk menjaga identitas yang menjadi kekayaan negara ini.
( Desi )


Komentar Klik di Sini