BerandaBerita TerkiniPlonco Seniman Otodidak Dibalik Identitas Wisata Cokro dan Sekitar

Plonco Seniman Otodidak Dibalik Identitas Wisata Cokro dan Sekitar

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Agus Susilo Riyanto, yang akrab disapa Plonco, adalah sosok seniman otodidak dari Cokro Kembang, Daleman, Tulung, Klaten, yang perlahan menjadi wajah penting dalam estetika objek wisata di sekitarnya. Perjalanan hidupnya bukan sekadar kisah bakat alami, melainkan narasi ketekunan, perantauan, dan kemampuan dalam mengubah potongan kayu maupun gumpalan semen sederhana menjadi karya yang memperkaya pengalaman visual pengunjung. Sejak duduk di bangku kelas satu SMP, Plonco sudah menunjukkan ketertarikan kuat pada seni, setelah lulus ia memilih jalan yang tidak biasa, meninggalkan bangku sekolah formal dan merantau ke Bali, Batam, dan Kalimantan untuk menimba pengalaman langsung di lapangan kerja seni (03/06/2026).

Perantauan itu menjadi sekolah hidup baginya. Di Bali ia menyerap estetika lukis dan komposisi ruang, di Batam ia mengenal ragam teknik kriya dan pahat, sementara pengalaman di Kalimantan memperkaya pemahamannya tentang material lokal dan tradisi ukir. Semua pengalaman tersebut diserap tanpa kurikulum formal sehingga gaya berkaryanya berkembang sebagai perpaduan teknik tradisional dan sentuhan kontemporer. Keahliannya meliputi pahat kayu, pembuatan relief patung, seni tattoo, serta desain dekorasi taman, kemampuan yang membuatnya fleksibel menerima berbagai proyek, dari instalasi kecil hingga penataan ruang publik.

IMG 20260603 171451
Agus Plonco Seniman Cokro (dok foto @Pitut Saputra)

Kembali menetap di kampung halamannya, Plonco membangun reputasi sebagai seniman yang handal dan mudah bergaul. Sikapnya yang rendah hati dan ramah membuka banyak pintu , pengelola wisata di sekitar Cokro mengenalnya bukan hanya sebagai pembuat karya, tetapi juga sebagai mitra kreatif yang mampu menerjemahkan konsep menjadi elemen visual yang memperkuat daya tarik lokasi. Karya-karyanya kerap menjadi bagian dari sudut-sudut foto favorit pengunjung, menjadi titik fokus yang memperkaya dokumentasi wisatawan dan membantu promosi destinasi secara organik melalui media sosial.

Saat ini Plonco tengah menggarap proyek penataan taman dan relief ukiran patung di dinding sungai Water Gong Resto, sebuah proyek yang menuntut kepekaan terhadap konteks ruang. Bagi Plonco, setiap ukiran relief patung dan ornamen harus berinteraksi harmonis dengan lanskap, memperhatikan skala, ritme, dan fungsi estetis agar elemen tersebut tidak sekadar pajangan, melainkan bagian integral dari pengalaman bersantap dan bersantai pengunjung. Selain proyek ini, ia juga sering dilibatkan dalam pembuatan patung dan instalasi seni di sejumlah objek wisata di Klaten dan sekitarnya, menunjukkan kapasitasnya untuk bekerja lintas tim, dari perencana taman, visual design, pengelola wisata, hingga komunitas lokal.

Gaya berkarya Plonco menonjol karena penggunaan kayu maupun ukiran semen yang dipahat dengan teliti, pengolahan tekstur yang mempertahankan karakter alami bahan, serta sentuhan dekoratif yang tidak berlebihan. Ia mampu menyeimbangkan antara fungsi dan estetika, relief patung yang dibuat bukan hanya sebagai pajangan, tetapi juga sebagai titik fokus yang mengundang interaksi, foto, dan refleksi. Karya-karyanya sering memadukan motif lokal dengan bentuk-bentuk modern sehingga terasa akrab namun segar bagi pengunjung dari berbagai latar belakang. Kepekaannya terhadap detail membuat setiap ukiran memiliki ritme visual yang kuat dan daya tarik fotografis.

Peran Plonco dalam pengembangan wisata lokal sangat nyata. Ia bukan sekadar seniman, ia adalah penata suasana yang membantu membentuk identitas visual tempat. Banyak pengelola wisata mengandalkan sentuhan Plonco untuk menciptakan sudut-sudut yang menarik perhatian, memperpanjang durasi kunjungan, dan meningkatkan nilai estetis lokasi. Lewat karyanya, ruang-ruang publik menjadi lebih ramah foto, lebih kaya cerita, dan lebih mudah dikenali oleh pengunjung yang kemudian membagikan pengalaman mereka ke jaringan sosial. Dengan demikian, kontribusi Plonco juga berdampak pada aspek ekonomi pariwisata lokal.

Di balik kemampuan teknisnya, ada motivasi kuat yang menggerakkan Plonco, tanggung jawab sebagai kepala keluarga dengan empat anak, ia menekuni seni bukan hanya sebagai panggilan jiwa, tetapi juga sebagai sumber penghidupan. Pendekatannya yang pragmatis membuatnya menerima proyek-proyek yang beragam, sambil tetap menjaga kualitas dan integritas karya. Ia percaya bahwa melalui kerja keras dan konsistensi, masa depan keluarga bisa lebih baik, sebuah keyakinan yang ia ungkapkan dengan sederhana namun penuh harap.

“Saya berkarya karena ingin memberi nilai lebih pada tempat kelahiran saya. Setiap ukiran saya harap bisa membuat pengunjung merasa terhubung dengan cerita lokal, bukan sekadar melihat pajangan,” ujar Plonco. Kalimat itu merangkum motivasi yang menggerakkan setiap proses kreatifnya, bukan hanya estetika, tetapi juga narasi dan fungsi sosial karya seni.

Plonco juga berharap agar karya-karyanya terus dihargai dan menjadi bagian dari identitas wisata di Cokro dan sekitar. Plonco juga berharap jaringan kerjanya semakin luas sehingga proyek yang lebih besar dan berkelanjutan bisa terwujud. Harapannya tidak hanya bersifat profesional, secara personal ia ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang lebih baik daripada yang ia miliki. Ia berharap keterampilan yang dimilikinya bisa diwariskan, baik secara teknis maupun sebagai semangat berkarya, kepada generasi muda di kampungnya.

Kisah Plonco mengingatkan kita pada nilai kerja tangan dan kreativitas yang tumbuh dari pengalaman hidup. Di setiap ukiran dan relief patung yang diciptakan tersimpan cerita perjalanan, ketekunan, dan cinta pada tanah kelahiran, sebuah warisan kreatif yang memperkaya wajah wisata di sekitar Cokro dan memberi harapan nyata bagi komunitasnya.

( Pitut Saputra )